Browse stories

Penyesalan Sang Miliarder: Mantanku Terlalu Menawan

Language: id

Sejak mereka menikah tiga tahun yang lalu, Loraine selalu istri Marco yang patuh dan setia. Namun, Marco memperlakukannya seperti sampah. Tidak peduli apa pun yang dia lakukan, dia tidak bisa melunakkan hatinya. Sampai suatu hari, Loraine muak dengan itu semua. Dia meminta cerai, pergi, dan membiarkan Marco bersenang-senang dengan selingkuhannya. Yang lain memandangnya seolah-olah dia gila. "Apakah kamu sudah gila? Mengapa kamu buru-buru menceraikannya?" "Itu karena aku harus pulang ke rumah untuk mendapatkan kekayaan triliunan rupiah. Selain itu, aku tidak mencintainya lagi," jawab…

Available chapters

  1. Chapter 1
  2. Chapter 2
  3. Chapter 3

Chapter 1

"Marco, jangan lupa bahwa hari ini adalah ulang tahun pernikahan kita yang ketiga. Aku sudah menyiapkan kejutan untukmu, bisakah kamu pulang lebih awal nanti?"

Setelah mengirim pesan itu, Loraine Tzion menatap layar ponselnya dengan penuh harap. Dia tidak ingin meletakkan benda itu agar tidak melewatkan balasan Marco.

Namun seperti biasa, tidak ada balasan yang diterimanya.

Tiba-tiba, bel pintu berbunyi. Hati Loraine melonjak gembira dan matanya berbinar cerah.

'Apa itu Marco?'

Dia kemudian bergegas untuk membukakan pintu. Sayangnya, bel pintu bukan dibunyikan oleh Marco, melainkan oleh para pengawalnya yang saat ini berdiri di depan pintu.

"Nyonya Bryant, Anda harus ikut kami ke rumah sakit sekarang," ucap salah satu pengawal.

Loraine mundur selangkah karena terkejut dan takut. Akan tetapi, para pengawal segera menyeretnya masuk ke dalam mobil.

Dalam perjalanan, dia membombardir mereka dengan berbagai pertanyaan. Namun, mereka tetap bungkam.

Tidak lama kemudian, mobil berhenti di depan rumah sakit.

Para pengawal menariknya dengan paksa dari tempat parkir ke gedung rumah sakit. Mereka menekannya ke dinding di luar bangsal VIP.

Lorraine, yang sedari tadi memejamkan mata karena ketakutan, akhirnya membuka matanya. Hal pertama yang dilihatnya adalah wajah adik perempuan suaminya, Marina Bryant.

"Kenapa lama sekali?!" tanya Marina dengan kesal.

Firasat buruk menyelimuti hati Loraine. "Mengapa kamu di sini? Mengapa mereka membawaku ke sini? Apa sesuatu yang buruk terjadi pada Marco? Apa dia sakit ...."

"Diamlah!" potong Marina. "Kakakku baik-baik saja, kamu dibawa ke sini karena kamu akan memberikan salah satu ginjalmu pada Keely."

Apa? Loraine tidak bisa memercayai apa yang baru saja didengarnya. "Apa Marco menyetujui ini?"

Pernikahan yang menyedihkan ini sudah berlangsung selama tiga tahun lamanya. Dia tahu tentang kondisi Keely Hanniel, satu-satunya wanita yang ada di hati Marco.

Sebelumnya, Keely pergi ke luar negeri untuk mengobati penyakitnya. Selama itu juga, Marco selalu bepergian untuk menemuinya. Dia sangat jarang ada di rumah.

Sekarang setelah Keely kembali ke kota ini, Marco membawanya ke rumahnya dan memberinya seluruh perhatian dan kasih sayangnya.

Sementara terhadap Loraine, pria itu tidak pernah memperlakukannya dengan baik dan hal ini begitu menyakiti perasaannya. Namun, Loraine masih berharap bahwa suatu hari nanti, hati Marco akan luluh terhadapnya.

Tiga tahun pernikahannya menjadikannya budak untuk pria itu dan seluruh keluarganya. Setiap hari, dia harus melakukan semua pekerjaan di rumah.

Fakta bahwa mereka meminta ginjalnya adalah puncak dari semua penderitaannya. Sungguh tidak bisa dipercaya bahwa Marco menyetujui hal keterlaluan seperti ini.

Marina menghindari kontak mata dengannya dan menjawab dengan arogan, "Tentu saja! Kita berdua tahu bahwa kakakku hanya mencintai Keely. Jika Nenek tidak mendesaknya untuk menikah ketika Keely masih menjalani perawatan di luar negeri, kakakku tidak akan menikah denganmu. Gadis yatim piatu miskin sepertimu mana mungkin bisa menikah dengan Keluarga Bryant."

Loraine melihat bibir wanita di depannya bergerak selagi dia mengatakan sesuatu, tetapi telinganya seolah tertutup dan pikirannya mengembara.

Berkacak pinggang, Marina melanjutkan ucapannya dengan nada menghina, "Kamu tidak bisa hamil bahkan setelah tiga tahun menikah. Jangan lupa bahwa posisimu hanya seorang pelayan di rumah kami. Sekarang Keely membutuhkan donor ginjal dan milikmu cocok dengannya, jadi sudah saatnya kamu memberi kontribusi pada kami. Jika kamu berani menolak, kakakku tidak akan ragu untuk mencampakkanmu dan menikahi Keely."

Saat ini, ponsel di saku Loraine bergetar dan membuatnya tersentak kembali ke dunia nyata. Dia segera mengambilnya dan melihat ke layar.

Ada sebuah pesan notifikasi yang masuk dari bank. Marco mentransfer 20 miliar untuknya.

'Apa uang ini adalah pembayaran untuk ginjalnya? Haruskah dia merasa terhormat karena ginjalnya dihargai semahal itu?'

Hati Loraine terasa seperti diiris oleh pisau tajam. Air mata membuat matanya terasa perih dan seketika matanya memerah. Namun, harga dirinya mampu menahan agar air mata itu tidak jatuh.

Marina yang mengoceh tanpa henti, tiba-tiba memerintahkan para pengawal dengan tidak sabar, "Awasi dia, aku akan pergi menemui dokter. Operasinya harus segera dilakukan, jadi jangan sampai dia melarikan diri."

Marina sengaja melontarkan ancaman itu untuk menunjukkan pada Loraine bahwa dia bersungguh-sungguh saat ini. Kemudian, dia berjalan pergi dengan angkuh.

Tiba-tiba, keinginan untuk melawan merasuki pikiran Loraine, dia tidak akan membiarkan orang-orang ini memanfaatkannya begitu saja. Ketika para pengawal mencoba menghentikannya, dia menendang selangkangan mereka.

Dia berlari dan menerobos masuk ke dalam bangsal, berniat untuk mengonfirmasi langsung hal ini pada Marco.

Namun, adegan yang menyambutnya langsung membuatnya membeku di tempat. Marco sedang duduk di tepi ranjang rumah sakit dengan Keely yang bersandar di dadanya.

Marco mengusap punggungnya dan mencoba menghibur, "Jangan khawatir, Keely. Aku akan melakukan segalanya agar kamu sembuh. Percayalah padaku, oke? Aku sudah menemukan donor yang cocok untukmu, kamu akan sembuh dalam waktu singkat."

Detik itu juga, Loraine merasa dirinya seolah jatuh ke jurang yang dalam.

Chapter 2

Sepertinya Marco menyadari kehadiran Loraine karena suasana hatinya langsung berubah. Dia melemparkan tatapan sedingin es yang bahkan bisa membekukan api pada wanita itu.

Meski Marco masih terlihat tampan, jantung Loraine tidak lagi berdetak kencang untuknya.

"Siapa donor yang kamu bicarakan barusan? Apa itu aku? Kamu ingin aku mendonorkan ginjalku pada Keely?!"

Wajah Marco menjadi suram ketika dia mendengar pertanyaan itu. Dia menarik selimut ke tubuh Keely dan kemudian berjalan menuju Loraine.

Saat ini, wajah pucat Keely memerah, dia berkata dengan terkejut, "Aku benar-benar tidak percaya ketika Marco mengatakan bahwa dia telah mendapatkan donor yang cocok untuk transplantasi. Ternyata kamulah orangnya! Apa kamu bersedia mendonorkan ginjalmu untukku, Nona Tzion?"

"Tidak!" Loraine menolaknya. "Dan kamu harus memanggilku Nyonya Bryant."

Keely terdiam ketika mendapat penolakan yang blak-blakan itu. Detik berikutnya, dia batuk dan terengah-engah seolah dia akan pingsan kapan saja.

Mata Marco dipenuhi amarah sekarang, dia membentak, "Hentikan, Loraine. Apa kamu tidak lihat bahwa dia dalam keadaan kritis? Apa kamu ingin membunuhnya?"

Perkataan itu menghancurkan perasaan Loraine untuk kesekian kalinya sejak dia menikah dengan Marco. Sekali lagi, Marco menunjukkan bahwa Keely adalah segalanya baginya. Dia bahkan akan memindahkan gunung demi wanita itu.

Loraine menatapnya dengan mata yang sudah memerah. "Lalu bagaimana denganku? Apa aku sama sekali tidak ada artinya bagimu?"

Marco tertegun ketika mendengar ucapan dan melihat betapa terluka ekspresi Loraine. Saat dia hendak mengatakan sesuatu, Keely mengerang dan meringis, "Aduh, sakit ...."

Detik berikutnya, dia pingsan di tempat tidur.

Mata Marco membelalak lebar, dia bergegas ke sisi ranjang rumah sakit.

Melihat ini, Loraine menghela napas tak berdaya dan berbalik untuk pergi. Menyadari bahwa dia akan pergi, Marco ragu sejenak dan kemudian memerintahkan para pengawalnya dengan gigi terkatup, "Hentikan dia. Minta dokter untuk segera menyiapkan operasi transplantasi ginjal!"

Kemudian Marco berbalik dan menatap Keely yang tak sadarkan diri dengan sorot khawatir. Dia memegangi wajahnya dan bergumam, "Kumohon bertahanlah, Keely. Kamu akan segera sembuh."

Sementara itu, Loraine hanya bisa terpaku di tempat. Pipinya terasa panas karena rasa tidak percaya dan terluka.

'Apa dia tidak salah dengar tadi? Marco ingin mengambil ginjalnya tanpa izinnya? Pria ini benar-benar jahat!'

Selama tiga tahun lamanya, dia mengerahkan semua kemampuan terbaiknya agar pernikahan mereka berhasil.

Namun, semua usaha dan kesabarannya tidak ada artinya lagi sekarang. Hati Marco tidak pernah melunak. Pria itu justru membencinya lebih dari sebelumnya.

Para pengawal bergerak untuk menangkapnya, tetapi Loraine melawan dan berjalan ke samping tempat tidur.

"Kamu tahu? Aku tidak akan pergi."

Seluruh bangsal terdiam untuk sesaat. Dalam sekejap mata, Loraine mengangkat tangan dan menampar pipi Keely dengan keras.

Suara tamparan itu bergema di bangsal. Semua orang yang ada di sana membeku dengan mata membelalak selama beberapa detik.

"Loraine, apa yang kamu lakukan?!" raung Marco yang segera meraih pergelangan tangan Loraine.

Keely yang tadinya tak sadarkan diri, membuka mata dan memegangi pipinya yang memerah. Dia menatap tajam ke arah Loraine. "Beraninya kamu menamparku?!"

Selimut putih di tubuhnya merosot ke lantai, disertai dengan jarum infus di tangannya.

Seharusnya darah keluar dari tangannya karena jarum itu tercabut dengan paksa. Namun, tidak ada darah yang keluar karena ternyata jarum infus itu tidak pernah ditancapkan ke tangannya.

Pemandangan ini membuat semua orang terkesiap. Mata mereka menyipit dalam kecurigaan.

Perlahan, Marco melepaskan tangan istrinya. Dia menoleh ke arah Keely dan menuntut penjelasan wanita itu dengan kesal, "Sebenarnya apa yang terjadi?"

Wajah Keely berubah pucat pasi ketika melihat jarum infusnya di lantai. Dia menatap Marco dan tergagap, "Aku ... aku tidak tahu. Sepertinya dokter tidak memasangnya dengan baik."

Mendengar jawabannya, Loraine tertawa sinis. "Yah, aku tahu apa yang terjadi. Kamu sama sekali tidak sakit, Keely. Betapa kejinya kamu berniat untuk mengambil ginjalku!"

'Sekarang rencana busukmu sudah terungkap, dasar pembohong!'

Dikuasai kepanikan, butiran keringat mulai menetes dari dahi Keely. Dia memandang Marco dan berkata, "Ini fitnah! Percayalah padaku, Marco. Kamu tahu bahwa penyakitku memang kambuh baru-baru ini."

Marco melemparkan tatapan tajam padanya, membuat tubuhnya gemetar tanpa daya. Kemudian, dia menoleh ke arah Loraine.

"Jangan membuat keributan di sini, aku akan menyelidiki masalah ini dan segera memberitahumu hasilnya. Jika benar bahwa kamu telah ditindas, aku akan memberikan kompensasi padamu."

Loraine menatap Marco, pria yang pernah dicintainya, dengan tenang.

Suaminya tidak pernah berada di pihaknya. Bahkan ketika dirinya terbukti tidak bersalah di depan matanya, Marco tetap memilih untuk memihak orang lain.

Cukup sudah dengan semua kekecewaan yang harus ditanggungnya selama ini. Dia tidak menginginkan uang Marco sepeser pun.

"Aku tidak menginginkan kompensasi apa pun. Ceraikan saja aku!" seru Loraine sambil mengepalkan tinjunya.

Pernyataan wanita itu membuat Marco menatapnya dengan tidak percaya. Ini pertama kalinya dia menatap mata Loraine sejak mereka menikah.

Namun, Loraine sudah tidak memedulikannya lagi, dia tidak peduli apa yang ada di pikiran Marco ketika mendengar permintaannya itu. Dia berbalik dengan santai dan pergi meninggalkan mereka.

Begitu keluar dari rumah sakit, tubuhnya bergetar tak terkendali. Seluruh kekuatan yang ada di lututnya menghilang, membuat kakinya terasa lemas. Tadi dirinya menggunakan semua kekuatannya untuk melawan orang-orang jahat itu.

Bersandar ke mobil yang ada di dekatnya, Loraine mengeluarkan ponsel dan menghubungi seseorang. Dia berdiri di sana selama beberapa menit sebelum sebuah Lincoln hitam berhenti di depannya. Seorang pria tampan yang mengenakan setelan jas turun dari kendaraan itu.

Begitu melihatnya, Loraine kehilangan seluruh kekuatannya yang tersisa. Melihat hal itu, pria itu buru-buru menangkap dan menggendongnya.

"Om Rowan ...," panggil Loraine yang saat ini menyandarkan kepalanya di dada pamannya. Detik berikutnya, kesadarannya menghilang.

Chapter 3

Di bangsal, suhu ruangan berubah dingin seolah-olah seluruh rumah sakit telah berpindah ke Antartika.

Bulu kuduk Keely merinding dan tubuhnya gemetar. Wajahnya pucat dan dia menggigit bibir bawahnya sambil menatap Marco.

Tiba-tiba, derap langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar. Pintu bangsal didorong terbuka saat itu juga. Marina masuk diikuti seorang dokter di belakangnya.

"Dokternya di sini!" Menyadari bahwa Loraine tidak ada di ruangan, Marina berteriak, "Di mana Loraine? Apa dia melarikan diri? Kak Marco, haruskah aku mengirim pengawal untuk menyeretnya ke sini lagi?"

Sorot mata Marco menjadi lebih dingin dari sebelumnya. Dia menatap adiknya dan berkata, "Jadi kamu yang membawa Loraine ke sini?"

Hawa dingin mengalir di sepanjang tulang belakang Marina. Dia melirik Keely dan berargumen, "Aku terpaksa, bagaimanapun juga, ini darurat. Jika Kak Keely tidak segera mendapatkan ginjalnya, kita mungkin akan kehilangan dia."

"Diam!" Kemudian, Marco memerintahkan para pengawal, "Bawa Marina pulang. Pastikan dia tidak keluar dari rumah!"

"Kakak, kamu tidak bisa melakukan itu, aku hanya mencoba ...." Marina berusaha membela diri, tapi para pengawal sudah menahannya di setiap sisi dan membawanya keluar dari bangsal dengan paksa.

Kesunyian meliputi bangsal itu lagi. Firasat buruk mulai merayap di hati sang dokter.

Marco memelototinya selama beberapa detik. Setelah itu, dia mengarahkan telunjuknya ke arah Keely, yang tidak lagi berpura-pura, dan berkata menginterogasi, "Kamu bilang dia membutuhkan transplantasi ginjal sesegera mungkin. Lalu, mengapa dia terlihat sehat bugar?"

Butir-butir keringat membasahi dahi sang dokter. "Emm ... sepertinya saya telah salah mendiagnosis kondisinya."

"Dokter macam apa kamu? Bagaimana kamu bisa salah mendiagnosis seseorang dengan gagal ginjal? Karena kamu membuat kesalahan besar, kamu tidak boleh menjadi dokter lagi!"

Mendengar ucapan ini, dokter itu gemetar ketakutan. Dia tahu Marco mampu mengakhiri karirenya hanya dengan menjentikkan jarinya.

Dia berlutut saat itu juga. "Tuan Bryant, saya tidak bersalah. Nona Hanniel yang memerintahkan saya untuk melakukan ini. Dia memaksa saya ...."

"Enyah!" perintah Marco sambil menunjuk ke arah pintu dengan marah.

Dokter itu sama sekali tidak memedulikan tatapan membunuh Keely terhadapnya. Dia membungkuk dan menggumamkan permintaan maaf sebelum akhirnya melarikan diri.

Bangsal menjadi begitu sunyi sampai siapa pun bisa mendengar suara jarum yang jatuh.

Marco menatap Keely tanpa ekspresi. Ketenangannya yang tidak biasa membuatnya takut.

Air mata mulai menggenang di matanya. "Marco, maafkan aku. Seharusnya aku tidak berbohong padamu. Aku melakukannya hanya agar kamu lebih peduli padaku."

Percikan amarah melintas di mata Marco.

"Aku selalu memperlakukanmu dengan baik, tidak pernah sekali pun aku mengabaikanmu, jadi kamu tidak punya alasan untuk berbuat seperti itu. Kamu tahu? Seharusnya aku tidak terlalu memanjakanmu!"

Keely pun mengaku, "Ya, tidak ada pembenaran untuk apa yang telah kulakukan. Aku benar-benar bodoh! Aku selalu merasa kesepian sejak Jorge meninggal. Kamu juga tahu bahwa aku memang sakit-sakitan sedari dulu. Aku hanya takut kamu tidak peduli lagi padaku. Bisakah kamu memaafkanku? Aku berjanji hal seperti ini tidak akan terulang kembali."

Mendengar nama Jorge membawa Marco ke masa lalu.

Jorge Riley adalah temannya yang meninggal ketika berusaha menyelamatkannya. Sebelum mengembuskan napas terakhirnya, pria itu menitipkan tunangan tercintanya pada Marco dan memintanya untuk merawat Keely selama sisa hidupnya.

Kesedihan yang tak bisa dijelaskan memenuhi hati Marco ketika pikirannya kembali ke momen terakhir temannya itu. Rasa dingin yang menyelimuti hatinya meleleh seperti es krim di musim panas.

"Aku berniat untuk menepati janjiku pada Jorge. Jangan pernah berpikir bahwa aku akan meninggalkanmu, itu tidak akan pernah terjadi."

Pernyataan ini memunculkan senandung bahagia di hari Keely.

Namun, belum sempat dia bergembira, Marco memperingatkan dengan tegas, "Meski begitu, Loraine adalah istriku. Jangan pernah menindasnya lagi, ini yang terakhir, apa kamu mengerti?"

Kepala Keely tertunduk lesu dan wajahnya cemberut. Jejak kebencian melintas di matanya.

"Marco, kamu pantas mendapatkan yang lebih baik dibanding Loraine. Dia tidak pernah membawa satu hal baik pun untukmu sejak kalian menikah. Dia hanya aib bagi Keluarga Bryant. Apa kamu berniat menua bersama wanita seperti itu? Setelah semua yang kamu lakukan untuknya, dia masih tidak tahu berterima kasih. Dia bahkan berani meminta perceraian tadi ...."

"Pernikahanku bukan urusanmu, Keely. Jangan melewati batas, oke?"

Tatapan tak berperasaan di mata Marco membungkam Keely. Alhasil, dia merajuk seperti anak kecil.

"Beristirahatlah di sini dan renungkan perbuatanmu!"

Marco keluar dari bangsal dengan kesal. Dia tidak bisa menyingkirkan ekspresi Loraine ketika wanita itu meminta perceraian darinya.

Mendengar wanita itu ingin menceraikannya seperti sebuah tamparan keras bagi Marco. Tidak pernah terlintas sekali pun dalam benaknya untuk menceraikannya.

Meskipun Loraine bukan berasal dari keluarga elit, Marco menoleransinya karena dia adalah istri yang baik dan patuh.

Dia tidak pernah berniat mengambil ginjal Loraine untuk diberikan pada Keely. Dia benar-benar mendapatkan pendonor lain.

Uang yang dia transfer padanya adalah hadiah permintaan maaf karena tidak bisa merayakan ulang tahun pernikahan ketiga mereka bersama-sama. Dia merasa kompensasi itu cukup adil karena dia menghabiskan seluruh waktunya menjaga Keely, yang menurutnya begitu membutuhkan perhatiannya sekarang.

Namun, tanpa sepengetahuannya, Marina justru bertindak di belakangnya dan membawa Loraine ke rumah sakit. Dia dianggap sebagai penjahat untuk sesuatu yang tidak dilakukannya.

Marco memijat pelipisnya dan menghela napas. Sepertinya dia harus meluruskan semuanya pada Loraine. Bagaimanapun juga, wanita itu meminta cerai karena dia sudah salam paham.

Dia yakin bahwa Loraine tidak benar-benar akan menceraikannya. Sebelumnya, dia sudah menyelidiki latar belakang Loraine. Loraine adalah anak yatim piatu yang dibesarkan di pedesaan. Dia tidak punya uang atau kekuasaan. Jadi, sudah pasti wanita itu harus bergantung padanya. Dia merasa Loraine tidak akan bisa hidup tanpanya.

Beberapa jam kemudian, Loraine membuka mata. Dia menemukan dirinya berada di kamar tidur yang hangat dan mewah.

"Pewaris resmi Keluarga Tzion akhirnya kembali! Apa yang membuatmu sadar? Aku masih tidak mengerti mengapa kamu membuang segalanya demi pria itu. Sudahlah, jadi apa kamu kembali untuk selamanya sekarang?"

Loraine menoleh ke arah pemilik suara yang tidak asing baginya.

Seorang pria jangkung bertubuh kuat duduk di kursi di samping tempat tidur. Dia memiliki wajah yang tegas dan tampan, auranya juga begitu mengintimidasi.

Begitu melihatnya, tangis Loraine pecah.

"Om Rowan, aku memang bodoh. Seharusnya aku tidak meninggalkan kalian hanya demi bajingan itu. Maafkan aku."

Rowan Tzion, seorang perwira tinggi yang ganas di kemiliteran, tak kuasa menahan sedih ketika keponakan tercintanya meminta maaf.

Dia memegang tangan keponakannya dan berkata, "Lorrie, jangan menangis. Hati Om hancur melihatmu menangis seperti ini. Om begitu bahagia karena kamu sudah kembali."

Rowan kemudian mencium punggung tangannya dan lanjut berkata, "Kamu tahu bahwa semua orang di keluarga ini sangat mencintaimu, bukan? Kami tidak akan tinggal diam menyaksikan siapa pun yang menyakitimu."

Tiba-tiba, pintu kamar dibuka lebar. Aldo Tzion, pemilik Grup Universe dan salah satu pria paling berkuasa di Kota Vagow, masuk dengan memancarkan aura yang mengesankan.

"Kenapa kamu menangis? Gadis kuat tidak menangis, Lorrie. Kamu adalah pewaris perusahaan yang bernilai triliunan. Alih-alih menangis, kamu bisa memberi pelajaran pada siapa pun yang berani membuat masalah denganmu hanya dengan jentikan jari!"