Ambil Nafasku Pergi
Language: id
/0/2036/coverbig.jpg?v=4089732c3126437d924ff8d3a3fe3778)
"Usir wanita ini keluar!" "Lempar wanita ini ke laut!" Saat dia tidak mengetahui identitas Dewi Nayaka yang sebenarnya, Kusuma Hadi mengabaikan wanita tersebut. Sekretaris Kusuma mengingatkan"Tuan Hadi, wanita itu adalah istri Anda,". Mendengar hal itu, Kusuma memberinya tatapan dingin dan mengeluh, "Kenapa tidak memberitahuku sebelumnya?" Sejak saat itu, Kusuma sangat memanjakannya. Semua orang tidak menyangka bahwa mereka akan bercerai.
Available chapters
Chapter 1
"Ini surat cerainya, Panji. Aku sudah menandatanganinya. Tolong kau serahkan surat ini kepada Kusuma Hadi."
Tak mudah bagi Dewi Nayaka mengumpulkan keberanian untuk menyerahkan surat cerai yang akan mengakhiri pernikahannya dengan Kusuma kepada Panji, pelayan keluarga Hadi.
Menghela napas dengan pasrah, Panji membaca dokumen itu dan memeriksa klausa di dalamnya, keningnya pun berkerut. Ia menatap gadis di depannya dengan tajam dan kemudian sedikit berteriak, "Dewi!" Dengan rasa tak percaya atas apa yang telah dibacanya, ia pun bertanya, "Apa kamu menyadari betapa bodoh isinya? Aku dapat memahami tentang keinginanmu menceraikan Tuan Hadi. Lagi pula, kamu belum pernah bertemu dengan suamimu itu selama tiga tahun terakhir. Tapi kenapa kamu tidak meminta uang sama sekali dalam surat ini?"
Pada usianya yang 20 tahun saat ini, Dewi adalah seorang mahasiswi pada sebuah universitas. Ayahnya telah meninggal dunia, dan ia sama sekali tidak pernah mengenal siapa ibunya. Berdasarkan pertimbangan Panji, tak seharusnya ia mengajukan perceraian, apalagi memutuskan tali pernikahan itu tanpa mendapatkan uang.
Dewi menggaruk bagian belakang kepalanya dalam rasa malu. Ia sadar bahwa Panji selalu memperlakukannya seakan ia adalah putrinya, jadi ia berniat menceritakan semua rencananya kepada Panji. "Aku ... aku ingin berhenti kuliah," Dewi mengatakannya dengan terbata-bata.
"Apa? Kenapa kamu dengan tiba-tiba ingin berhenti kuliah? Apa yang sudah terjadi? Apakah seseorang telah mengganggumu di kampus?" Mata Panji melebar karena rasa terkejut dan juga penasaran.
"Tidak tidak Tidak! Kamu terlalu banyak berpikir, Panji. Seperti yang kamu sudah tahu, aku tidak suka belajar. Jadi, aku pikir akan lebih baik jika aku tidak membuang waktuku di universitas, melakukan apa yang tidak kusukai," jelasnya.
Alasan untuk berhenti kuliah yang diutarakannya memang lemah, tetapi itulah alasan satu-satunya yang terlintas di kepalanya yang terdengar masuk akal dan dapat mencegah Panji berpikir terlalu banyak. Tapi ia tidak memberi tahu siapa pun alasan sebenarnya untuk menginginkan perceraian.
Ia terdiam beberapa saat setelah mengutarakan alasannya untuk berhenti kuliah, karena beberapa pemikiran melintas di benaknya. 'Besok adalah ulang tahunku yang ke-21 dan ulang tahun pernikahanku dengan Kusuma yang ketiga.
Aku masih sangat muda. Aku tak ingin pernikahan yang hampa ini menghalangi pencarianku akan cinta sejati dalam hidupku.
Sejak menikah, aku bahkan belum pernah bertemu dengan Kusuma. Semua pernikahan ini diatur oleh ayahku. Bagaimana bisa aku menjalani hidup seperti ini?' pikirnya putus asa.
Menyimpulkan bahwa Dewi tidak akan menceritakan apa pun lagi kepada dirinya, Panji berkata, "Karena kamu sudah memutuskan, maka aku akan ..." Panji memberi jeda, menunggu jika Dewi akan mengatakan sesuatu. "Aku akan menyerahkan surat cerai ini kepada Tuan Hadi besok," kata Panji sambil menghela napas panjang, ketika melihat Dewi tetap dalam diamnya.
"Terima kasih banyak, Panji!" Dewi menghela napas lega dan mengakhirinya dengan sebuah senyum manis kepada Panji.
Menatap Dewi, Panji tidak dapat menahan dirinya untuk tidak mengatakan sesuatu kepada gadis muda itu. "Dewi, Tuan Hadi adalah seorang pria yang baik. Aku yakin kalian berdua adalah pasangan yang sempurna, jadi, aku berharap kamu dapat memikirkan segala sesuatunya dengan hati-hati dan bersedia mempertimbangkan kembali semua keputusan yang telah kamu buat. Jika keputusanmu berubah, kamu dapat menghubungiku kapan saja, "kata Panji dengan tulus.
Dari semua yang Panji katakan, ada dua hal yang membuat Dewi merasa sangat heran. 'Kami berdua adalah pasangan yang sempurna? Pria itu bahkan tak muncul di hari pernikahannya! Pria itu beralasan dirinya sedang menghadiri jamuan makan malam dari seorang presiden di luar negeri. Sehingga foto yang ada di surat nikah kami pun adalah hasil editan Photoshop.
Yang lebih parah lagi, dalam tiga tahun pernikahan kami, tak sekali pun aku pernah melihat pria itu dengan mata kepalaku sendiri. Jadi, dari sisi mana Panji dapat menyimpulkan bahwa kami adalah pasangan yang sempurna?' Dewi tak dapat mengendalikan pikiran sarkastis yang timbul di kepalanya sebab perkataan Panji.
Tersadar dari pergulatan pikiran di benaknya, Dewi menarik napas dalam-dalam sebelum ia mulai berbicara. Ia hendak mengatakan, "Aku telah mengambil keputusan," namun alih-alih mengatakannya, ia akhirnya berkata, "Baiklah." Demi menghormati Panji yang selama ini benar-benar peduli terhadap dirinya.
Berharap bahwa Dewi pada akhirnya akan mengubah keputusannya, Panji menunggu hingga sore keesokan harinya sebelum ia memberi tahu Kusuma tentang surat cerai itu. Namun, ia harus menelan kekecewaannya menghadapi fakta bahwa Dewi tidak meneleponnya untuk mengubah keputusannya. Perlahan, ia mengeluarkan ponselnya dan menekan kontak seseorang yang hendak ia hubungi. "Tuan Hadi, saya memiliki sebuah dokumen yang perlu Anda tanda tangani," katanya dengan hormat.
"Dokumen apa itu?" Kusuma bertanya dengan nada suara yang dingin. Panji memperhatikan ada sedikit nada ketidaksabaran dalam suara Kusuma.
Merasa ragu sesaat, Panji pun menjawab, "Sebuah surat perceraian."
Pena di tangan Kusuma berhenti seketika, ia berusaha memahami dengan baik kata-kata yang baru saja didengarnya. Sambil berpikir, ia menutup matanya dan menggosok alisnya.
Ia pun tersadar dengan cepat dan berpikir, 'Oh, aku punya seorang istri. Andai saja Panji tidak menghubungi dan mengatakannya saat ini, aku mungkin tak akan pernah ingat bahwa diriku sudah menikah dan memiliki seorang istri.'
"Letakkan saja dokumen itu di atas meja di ruang kerjaku. Aku akan kembali ke Kota Yoya dalam beberapa hari," kata Kusuma dengan nada datar.
"Baiklah Tuan Hadi." Panji menjawab dan mengakhiri panggilan telepon itu.
Sementara itu, di Bar Malam Biru di Kota Yoya, sebuah bar dengan pencahayaan yang remang-remang, namun penuh sesak dengan penikmat hiburan malam.
Banyak pria dan wanita yang mendatanginya, karena memang bar ini cukup populer di antara tempat hiburan di Kota Yoya.
Di dalam Kamar 501, terlihat sebuah meja yang dipenuhi dengan bir, anggur, sampanye, dan berbagai makanan ringan.
Ruangan itu merupakan tempat dirayakannya sebuah pesta ulang tahun seseorang. Yang merayakannya adalah Dewi, yang pada hari itu genap berusia 21 tahun.
Dewi yang mendapat julukan "Tomboi" dari teman-teman sekelasnya, saat ini mengenakan gaun renda berwarna merah muda. Perayaan ini merupakan satu dari sedikit acara di mana ia memilih untuk mengenakan pakaian yang feminin, daripada pakaian kemeja dan jeans yang ia biasa kenakan. Beberapa teman wanita yang menjadi tamunya mengeluarkan ponsel untuk berfoto selfie dengan Dewi, salah satunya karena saat ini Dewi tampil sangat berbeda dari biasanya
Puas berfoto, para peserta pesta pun mulai bersenang-senang dengan minum dan ngobrol satu sama lain. Di salah satu sudut ruangan itu terlihat tumpukan hadiah yang diterima Dewi dari teman-temannya.
Jaya Handaru, salah seorang teman pria Dewi yang tengah mabuk, menyanyikan sebuah lagu dengan salah satu lengannya merangkul seorang teman prianya. "Aku tahu kamu adalah masalah ketika kamu muncul ...." Ia mengoceh dalam mabuknya.
Suaranya begitu nyaring sehingga banyak wanita yang hadir di situ menutup telinganya dan mendengus kesal.
"Hei, Jaya! Berhentilah bernyanyi. Lebih baik kita mainkan game yang tidak akan merusak gendang telinga siapa pun di ruangan ini." usul Kirani Jenar, salah seorang teman sekamar Dewi.
Ia adalah seorang wanita yang bersikap ceria, penuh percaya diri, dan menarik perhatian banyak orang di sekitarnya.
Usulnya membuat ruangan itu hening seketika. Para pria dan wanita di dalam ruangan itu memandangnya seakan menunggu instruksi lebih lanjut darinya.
Kirani adalah seorang wanita pencinta pesta, ia terkenal dan populer di mata teman-teman kuliahnya.
Memandang teman-temannya dengan tatapan nakalnya, Kirani berkata, "Kita bermain Benar atau Berani!" Senyum licik mengembang di bibirnya saat teman-temannya menunjukkan keengganan akan usulan itu.
Beberapa teman wanitanya bahkan melemparkan pandangan dengan ekspresi tidak senang terhadap Kirani atas usulannya. "Kirani, itu permainan yang menyebalkan!" Jaya, generasi kedua keluarga kaya, yang sebelumnya mendapatkan kritik dari Kirani atas nyanyiannya, kali ini berkomentar terhadap usulan itu. Ia memainkan matanya dengan ekspresi jijik di wajahnya, karena menurutnya permainan itu adalah permainan yang membosankan.
"Karena hari ini adalah hari ulang tahun Dewi yang ke-21, kita akan membuat permainan itu jadi lebih seru!" ucap Kirani menatap Jaya dengan tatapan menantang. Kirani menyunggingkan senyum jahat di bibirnya yang membuat beberapa orang merasa tidak nyaman.
Sebagian besar yang hadir dalam pesta itu masih berstatus mahasiswa, sehingga masih banyak pria dan wanita polos dan lugu di antara mereka. Mereka sebenarnya sudah biasa dengan permainan itu; di mana hukuman yang diterima bagi yang memilih "Berani" umumnya adalah menyanyikan nada tinggi dalam lagu Maria Cali 'Mencintaimu', menggendong pria terberat di sekitar ruangan, atau bernyanyi duet dengan lawan jenis.
Tapi Kirani saat ini punya rencana lain untuk Dewi. Pipi Dewi saat itu sudah bersemu merah akibat terlalu banyak minum sampanye dan anggur. Pada putaran pertama, Kirani telah mengatur semuanya, ia mengedipkan mata pada peserta lainnya, yang dengan cepat dapat menangkap apa yang direncanakannya.
"Yang kalah pada babak ini harus keluar dari ruangan ini, berbelok ke kanan, dan mencium bibir lawan jenis yang pertama kali mereka temui di sana. Jika ia menolak untuk melakukannya, ada alternatif hukuman lain baginya. Dia harus minum sepuluh gelas anggur," ucap Kirani menjelaskan aturan permainan sesuai yang telah direncanakannya
Mendengar penjelasan Kirani, semua orang menjadi bersemangat dengan permainan ini. Mereka penasaran siapa yang akan menjadi korban pertama dalam permainan ini. Jaya mendengus jijik mendengar perkataan Kirani, namun ia tak berkomentar apa pun. Ia sudah paham bahwa semua ini sudah diatur oleh Kirani.
Memainkan Gunting-Batu-Kertas sebagai awal, semua orang menoleh dan melihat Dewi, yang terkejut dengan hasil permainan.
Dewi menatap tangannya yang membentuk simbol gunting, kemudian melirik tangan peserta lainnya yang semuanya membentuk simbol batu. Ia ternganga, matanya melebar dan rahangnya mengendur lemas.
"Aku membencimu, Kirani!" teriaknya. Membayangkan konsekuensi yang harus ia lakukan, Dewi merasa ingin menangis. Ia sudah mabuk dan tak akan sanggup lagi jika harus minum 10 gelas anggur lagi.
Ia mengumpulkan segenap keberaniannya dan menarik napas dalam-dalam, sebelum kemudian membuka pintu keluar dari ruangan itu.
Mengikuti instruksi permainan yang telah dijelaskan Kirani sebelumnya, ia pun berbelok ke kanan.
Berdiri di lorong tak jauh dari Dewi, terlihat seorang pria yang sedang berdiri dengan mengenakan kemeja putih, celana panjang hitam dan sepatu kulitnya.
Pria itu terlihat berusia di pertengahan 20-an dan tinggi badannya kira-kira 180cm. Mata yang gelap, dengan alis yang tebal, hidung yang mancung dan bibir yang seksi, wajahnya sangat menarik untuk dilihat. Sebuah penampilan yang akan terlihat menonjol di tengah sebuah kerumunan.
Namun, matanya terlihat sangat dingin, sehingga Dewi langsung menggigil ketika pria itu menatapnya.
"Wow, itu pria yang tampan! Tomboi, cepatlah! Kami mengawasimu dari sini," kata Kirani yang berbisik dari jauh. Dewi berdiri membeku, bingung dengan apa yang harus dilakukannya. Benaknya dipenuhi oleh berbagai pemikiran, 'Dia terlihat tak asing. Di mana aku pernah bertemu atau melihatnya?'
Namun bisikan Kirani memecah semua lamunan itu, hingga ia menarik napas dalam-dalam untuk mengumpulkan lebih banyak keberanian untuk melakukan apa yang harus ia lakukan.
Sebuah pemikiran kembali menyelip di benaknya, 'Sepertinya aku pernah bertemu dengannya sebelumnya. Lupakan! Aku sebaiknya melakukan semuanya dengan cepat.'
Setelah keberaniannya terkumpul, Dewi pun berjalan menghampiri pria itu, ia kemudian tersenyum dengan manis dan berjinjit. Wangi parfum pria itu mengalir ke dalam hidungnya.
Kusuma sedang mencari tempat yang lebih tenang untuk menelepon, ketika bertemu dengan seorang wanita di lorong.
Ia mengerutkan keningnya karena merasa terganggu ketika kemudian wanita itu menghampirinya.
Sebuah pemikiran muncul di benaknya. 'Kenapa wanita ini terlihat sangat tak asing baginya? Matanya... ' pikir Kusuma, berusaha keras menggali sebuah wajah dari ingatannya.
Saat ia sedang sibuk dengan ingatannya, wanita itu menanamkan ciuman lembut di bibirnya ketika ia sedang lengah.
Tak mudah bagi Dewi Nayaka mengumpulkan keberanian untuk menyerahkan surat cerai yang akan mengakhiri pernikahannya dengan Kusuma kepada Panji, pelayan keluarga Hadi.
Menghela napas dengan pasrah, Panji membaca dokumen itu dan memeriksa klausa di dalamnya, keningnya pun berkerut. Ia menatap gadis di depannya dengan tajam dan kemudian sedikit berteriak, "Dewi!" Dengan rasa tak percaya atas apa yang telah dibacanya, ia pun bertanya, "Apa kamu menyadari betapa bodoh isinya? Aku dapat memahami tentang keinginanmu menceraikan Tuan Hadi. Lagi pula, kamu belum pernah bertemu dengan suamimu itu selama tiga tahun terakhir. Tapi kenapa kamu tidak meminta uang sama sekali dalam surat ini?"
Pada usianya yang 20 tahun saat ini, Dewi adalah seorang mahasiswi pada sebuah universitas. Ayahnya telah meninggal dunia, dan ia sama sekali tidak pernah mengenal siapa ibunya. Berdasarkan pertimbangan Panji, tak seharusnya ia mengajukan perceraian, apalagi memutuskan tali pernikahan itu tanpa mendapatkan uang.
Dewi menggaruk bagian belakang kepalanya dalam rasa malu. Ia sadar bahwa Panji selalu memperlakukannya seakan ia adalah putrinya, jadi ia berniat menceritakan semua rencananya kepada Panji. "Aku ... aku ingin berhenti kuliah," Dewi mengatakannya dengan terbata-bata.
"Apa? Kenapa kamu dengan tiba-tiba ingin berhenti kuliah? Apa yang sudah terjadi? Apakah seseorang telah mengganggumu di kampus?" Mata Panji melebar karena rasa terkejut dan juga penasaran.
"Tidak tidak Tidak! Kamu terlalu banyak berpikir, Panji. Seperti yang kamu sudah tahu, aku tidak suka belajar. Jadi, aku pikir akan lebih baik jika aku tidak membuang waktuku di universitas, melakukan apa yang tidak kusukai," jelasnya.
Alasan untuk berhenti kuliah yang diutarakannya memang lemah, tetapi itulah alasan satu-satunya yang terlintas di kepalanya yang terdengar masuk akal dan dapat mencegah Panji berpikir terlalu banyak. Tapi ia tidak memberi tahu siapa pun alasan sebenarnya untuk menginginkan perceraian.
Ia terdiam beberapa saat setelah mengutarakan alasannya untuk berhenti kuliah, karena beberapa pemikiran melintas di benaknya. 'Besok adalah ulang tahunku yang ke-21 dan ulang tahun pernikahanku dengan Kusuma yang ketiga.
Aku masih sangat muda. Aku tak ingin pernikahan yang hampa ini menghalangi pencarianku akan cinta sejati dalam hidupku.
Sejak menikah, aku bahkan belum pernah bertemu dengan Kusuma. Semua pernikahan ini diatur oleh ayahku. Bagaimana bisa aku menjalani hidup seperti ini?' pikirnya putus asa.
Menyimpulkan bahwa Dewi tidak akan menceritakan apa pun lagi kepada dirinya, Panji berkata, "Karena kamu sudah memutuskan, maka aku akan ..." Panji memberi jeda, menunggu jika Dewi akan mengatakan sesuatu. "Aku akan menyerahkan surat cerai ini kepada Tuan Hadi besok," kata Panji sambil menghela napas panjang, ketika melihat Dewi tetap dalam diamnya.
"Terima kasih banyak, Panji!" Dewi menghela napas lega dan mengakhirinya dengan sebuah senyum manis kepada Panji.
Menatap Dewi, Panji tidak dapat menahan dirinya untuk tidak mengatakan sesuatu kepada gadis muda itu. "Dewi, Tuan Hadi adalah seorang pria yang baik. Aku yakin kalian berdua adalah pasangan yang sempurna, jadi, aku berharap kamu dapat memikirkan segala sesuatunya dengan hati-hati dan bersedia mempertimbangkan kembali semua keputusan yang telah kamu buat. Jika keputusanmu berubah, kamu dapat menghubungiku kapan saja, "kata Panji dengan tulus.
Dari semua yang Panji katakan, ada dua hal yang membuat Dewi merasa sangat heran. 'Kami berdua adalah pasangan yang sempurna? Pria itu bahkan tak muncul di hari pernikahannya! Pria itu beralasan dirinya sedang menghadiri jamuan makan malam dari seorang presiden di luar negeri. Sehingga foto yang ada di surat nikah kami pun adalah hasil editan Photoshop.
Yang lebih parah lagi, dalam tiga tahun pernikahan kami, tak sekali pun aku pernah melihat pria itu dengan mata kepalaku sendiri. Jadi, dari sisi mana Panji dapat menyimpulkan bahwa kami adalah pasangan yang sempurna?' Dewi tak dapat mengendalikan pikiran sarkastis yang timbul di kepalanya sebab perkataan Panji.
Tersadar dari pergulatan pikiran di benaknya, Dewi menarik napas dalam-dalam sebelum ia mulai berbicara. Ia hendak mengatakan, "Aku telah mengambil keputusan," namun alih-alih mengatakannya, ia akhirnya berkata, "Baiklah." Demi menghormati Panji yang selama ini benar-benar peduli terhadap dirinya.
Berharap bahwa Dewi pada akhirnya akan mengubah keputusannya, Panji menunggu hingga sore keesokan harinya sebelum ia memberi tahu Kusuma tentang surat cerai itu. Namun, ia harus menelan kekecewaannya menghadapi fakta bahwa Dewi tidak meneleponnya untuk mengubah keputusannya. Perlahan, ia mengeluarkan ponselnya dan menekan kontak seseorang yang hendak ia hubungi. "Tuan Hadi, saya memiliki sebuah dokumen yang perlu Anda tanda tangani," katanya dengan hormat.
"Dokumen apa itu?" Kusuma bertanya dengan nada suara yang dingin. Panji memperhatikan ada sedikit nada ketidaksabaran dalam suara Kusuma.
Merasa ragu sesaat, Panji pun menjawab, "Sebuah surat perceraian."
Pena di tangan Kusuma berhenti seketika, ia berusaha memahami dengan baik kata-kata yang baru saja didengarnya. Sambil berpikir, ia menutup matanya dan menggosok alisnya.
Ia pun tersadar dengan cepat dan berpikir, 'Oh, aku punya seorang istri. Andai saja Panji tidak menghubungi dan mengatakannya saat ini, aku mungkin tak akan pernah ingat bahwa diriku sudah menikah dan memiliki seorang istri.'
"Letakkan saja dokumen itu di atas meja di ruang kerjaku. Aku akan kembali ke Kota Yoya dalam beberapa hari," kata Kusuma dengan nada datar.
"Baiklah Tuan Hadi." Panji menjawab dan mengakhiri panggilan telepon itu.
Sementara itu, di Bar Malam Biru di Kota Yoya, sebuah bar dengan pencahayaan yang remang-remang, namun penuh sesak dengan penikmat hiburan malam.
Banyak pria dan wanita yang mendatanginya, karena memang bar ini cukup populer di antara tempat hiburan di Kota Yoya.
Di dalam Kamar 501, terlihat sebuah meja yang dipenuhi dengan bir, anggur, sampanye, dan berbagai makanan ringan.
Ruangan itu merupakan tempat dirayakannya sebuah pesta ulang tahun seseorang. Yang merayakannya adalah Dewi, yang pada hari itu genap berusia 21 tahun.
Dewi yang mendapat julukan "Tomboi" dari teman-teman sekelasnya, saat ini mengenakan gaun renda berwarna merah muda. Perayaan ini merupakan satu dari sedikit acara di mana ia memilih untuk mengenakan pakaian yang feminin, daripada pakaian kemeja dan jeans yang ia biasa kenakan. Beberapa teman wanita yang menjadi tamunya mengeluarkan ponsel untuk berfoto selfie dengan Dewi, salah satunya karena saat ini Dewi tampil sangat berbeda dari biasanya
Puas berfoto, para peserta pesta pun mulai bersenang-senang dengan minum dan ngobrol satu sama lain. Di salah satu sudut ruangan itu terlihat tumpukan hadiah yang diterima Dewi dari teman-temannya.
Jaya Handaru, salah seorang teman pria Dewi yang tengah mabuk, menyanyikan sebuah lagu dengan salah satu lengannya merangkul seorang teman prianya. "Aku tahu kamu adalah masalah ketika kamu muncul ...." Ia mengoceh dalam mabuknya.
Suaranya begitu nyaring sehingga banyak wanita yang hadir di situ menutup telinganya dan mendengus kesal.
"Hei, Jaya! Berhentilah bernyanyi. Lebih baik kita mainkan game yang tidak akan merusak gendang telinga siapa pun di ruangan ini." usul Kirani Jenar, salah seorang teman sekamar Dewi.
Ia adalah seorang wanita yang bersikap ceria, penuh percaya diri, dan menarik perhatian banyak orang di sekitarnya.
Usulnya membuat ruangan itu hening seketika. Para pria dan wanita di dalam ruangan itu memandangnya seakan menunggu instruksi lebih lanjut darinya.
Kirani adalah seorang wanita pencinta pesta, ia terkenal dan populer di mata teman-teman kuliahnya.
Memandang teman-temannya dengan tatapan nakalnya, Kirani berkata, "Kita bermain Benar atau Berani!" Senyum licik mengembang di bibirnya saat teman-temannya menunjukkan keengganan akan usulan itu.
Beberapa teman wanitanya bahkan melemparkan pandangan dengan ekspresi tidak senang terhadap Kirani atas usulannya. "Kirani, itu permainan yang menyebalkan!" Jaya, generasi kedua keluarga kaya, yang sebelumnya mendapatkan kritik dari Kirani atas nyanyiannya, kali ini berkomentar terhadap usulan itu. Ia memainkan matanya dengan ekspresi jijik di wajahnya, karena menurutnya permainan itu adalah permainan yang membosankan.
"Karena hari ini adalah hari ulang tahun Dewi yang ke-21, kita akan membuat permainan itu jadi lebih seru!" ucap Kirani menatap Jaya dengan tatapan menantang. Kirani menyunggingkan senyum jahat di bibirnya yang membuat beberapa orang merasa tidak nyaman.
Sebagian besar yang hadir dalam pesta itu masih berstatus mahasiswa, sehingga masih banyak pria dan wanita polos dan lugu di antara mereka. Mereka sebenarnya sudah biasa dengan permainan itu; di mana hukuman yang diterima bagi yang memilih "Berani" umumnya adalah menyanyikan nada tinggi dalam lagu Maria Cali 'Mencintaimu', menggendong pria terberat di sekitar ruangan, atau bernyanyi duet dengan lawan jenis.
Tapi Kirani saat ini punya rencana lain untuk Dewi. Pipi Dewi saat itu sudah bersemu merah akibat terlalu banyak minum sampanye dan anggur. Pada putaran pertama, Kirani telah mengatur semuanya, ia mengedipkan mata pada peserta lainnya, yang dengan cepat dapat menangkap apa yang direncanakannya.
"Yang kalah pada babak ini harus keluar dari ruangan ini, berbelok ke kanan, dan mencium bibir lawan jenis yang pertama kali mereka temui di sana. Jika ia menolak untuk melakukannya, ada alternatif hukuman lain baginya. Dia harus minum sepuluh gelas anggur," ucap Kirani menjelaskan aturan permainan sesuai yang telah direncanakannya
Mendengar penjelasan Kirani, semua orang menjadi bersemangat dengan permainan ini. Mereka penasaran siapa yang akan menjadi korban pertama dalam permainan ini. Jaya mendengus jijik mendengar perkataan Kirani, namun ia tak berkomentar apa pun. Ia sudah paham bahwa semua ini sudah diatur oleh Kirani.
Memainkan Gunting-Batu-Kertas sebagai awal, semua orang menoleh dan melihat Dewi, yang terkejut dengan hasil permainan.
Dewi menatap tangannya yang membentuk simbol gunting, kemudian melirik tangan peserta lainnya yang semuanya membentuk simbol batu. Ia ternganga, matanya melebar dan rahangnya mengendur lemas.
"Aku membencimu, Kirani!" teriaknya. Membayangkan konsekuensi yang harus ia lakukan, Dewi merasa ingin menangis. Ia sudah mabuk dan tak akan sanggup lagi jika harus minum 10 gelas anggur lagi.
Ia mengumpulkan segenap keberaniannya dan menarik napas dalam-dalam, sebelum kemudian membuka pintu keluar dari ruangan itu.
Mengikuti instruksi permainan yang telah dijelaskan Kirani sebelumnya, ia pun berbelok ke kanan.
Berdiri di lorong tak jauh dari Dewi, terlihat seorang pria yang sedang berdiri dengan mengenakan kemeja putih, celana panjang hitam dan sepatu kulitnya.
Pria itu terlihat berusia di pertengahan 20-an dan tinggi badannya kira-kira 180cm. Mata yang gelap, dengan alis yang tebal, hidung yang mancung dan bibir yang seksi, wajahnya sangat menarik untuk dilihat. Sebuah penampilan yang akan terlihat menonjol di tengah sebuah kerumunan.
Namun, matanya terlihat sangat dingin, sehingga Dewi langsung menggigil ketika pria itu menatapnya.
"Wow, itu pria yang tampan! Tomboi, cepatlah! Kami mengawasimu dari sini," kata Kirani yang berbisik dari jauh. Dewi berdiri membeku, bingung dengan apa yang harus dilakukannya. Benaknya dipenuhi oleh berbagai pemikiran, 'Dia terlihat tak asing. Di mana aku pernah bertemu atau melihatnya?'
Namun bisikan Kirani memecah semua lamunan itu, hingga ia menarik napas dalam-dalam untuk mengumpulkan lebih banyak keberanian untuk melakukan apa yang harus ia lakukan.
Sebuah pemikiran kembali menyelip di benaknya, 'Sepertinya aku pernah bertemu dengannya sebelumnya. Lupakan! Aku sebaiknya melakukan semuanya dengan cepat.'
Setelah keberaniannya terkumpul, Dewi pun berjalan menghampiri pria itu, ia kemudian tersenyum dengan manis dan berjinjit. Wangi parfum pria itu mengalir ke dalam hidungnya.
Kusuma sedang mencari tempat yang lebih tenang untuk menelepon, ketika bertemu dengan seorang wanita di lorong.
Ia mengerutkan keningnya karena merasa terganggu ketika kemudian wanita itu menghampirinya.
Sebuah pemikiran muncul di benaknya. 'Kenapa wanita ini terlihat sangat tak asing baginya? Matanya... ' pikir Kusuma, berusaha keras menggali sebuah wajah dari ingatannya.
Saat ia sedang sibuk dengan ingatannya, wanita itu menanamkan ciuman lembut di bibirnya ketika ia sedang lengah.
Chapter 2
Setelah mendaratkan ciuman di bibir Kusuma, Dewi segera mundur. Lalu ia kabur dari lorong dan berlari kembali ke kamar.
"Dewi!" Kirani memekik sambil menutup pintu. "Kamu luar biasa sekali!" katanya dengan bangga, sambil menepuk punggung Dewi. Terengah-engah setelah melarikan diri, Dewi menghela napas lega.
Sementara itu, wajah Kusuma berubah menjadi gelap setelah mendapat ciuman tak disangka itu. Ia berdiri terpaku di tempat. Tetapi ia dapat melihat gadis itu menghilang ke dalam Kamar 501. Pria itu hendak meminta salah satu pengawalnya untuk membawa Dewi keluar dari kamar dan melemparkannya ke laut. Namun suara telepon yang tiba-tiba berdering menghancurkan rencananya.
Kesal karena rencananya terganggu, Kusuma menjawab panggilan itu. Setelah mendengarkan selama beberapa detik, ia membentak, "Baiklah. Aku akan segera ke sana." Kusuma menekan tombol untuk mengakhiri panggilan, kemudian melirik Kamar 501. Ia menarik napas dalam-dalam untuk mengendalikan amarahnya. Ada keadaan darurat di perusahaan miliknya, yang membutuhkan perhatian segera.
"Anggap saja hari ini adalah hari keberuntunganmu, gadis kecil. Kamu lebih baik berdoa agar kita tidak pernah bertemu lagi. Lain kali, kamu tidak akan lolos jika memprovokasiku," gumam Kusuma sambil berbalik untuk pergi.
Di dalam Kamar 501, Dewi mengusap pipinya yang merah dan merasakan pipinya terbakar karena malu. Ia tidak pernah melakukan hal segila ini dalam hidupnya. Jantung Dewi berdebar kencang, pikirannya campur aduk. 'Ya Tuhan! Tadi itu adalah ciuman pertamaku, dan aku bahkan tidak tahu siapa pria itu!
Apakah tadi aku selingkuh dari suamiku?
Ya sudahlah! Aku sudah menandatangani perjanjian perceraian beberapa hari lalu.
Tidak masalah jika Kusuma tidak mau menandatanganinya. Secara hukum, pasangan yang telah berpisah selama lebih dari dua tahun dianggap telah bercerai secara otomatis.
Aku belum pernah melihatnya sama sekali dalam pernikahan kami selama tiga tahun. Jadi mungkin secara hukum, aku bukan lagi istrinya. Berarti, aku tidak mengkhianati suamiku.
Apalagi itu hanya sebuah ciuman ... ' Dewi lupa ada teman-teman di sekitarnya.
Tiba-tiba Kirani berteriak, "Ya ampun!" Semua teman sekelasnya melompat karena teriakannya.
"Kamu kenapa Kirani? Kamu membuatku takut setengah mati!" Kristina Latif, yang hendak minum anggur, menumpahkan isi gelasnya karena teriakan Kirani. Ia menepuk dada untuk menenangkan diri.
Dengan penuh semangat, Kirani menghampiri Dewi yang masih tenggelam dalam pikirannya, lalu mengguncang bahunya.
"Apakah kamu tidak tahu siapa pria itu?" ia bertanya. Objek lelucon Dewi adalah pria idaman setiap wanita. Pria itu masih muda, tampan, kaya, dan berkuasa, dan ia memiliki perusahaan multinasional yang besar. Orang-orang memanggilnya Tuan Hadi sebagai tanda hormat.
"Jadi, kamu tahu siapa dia?" Dewi bertanya seraya mengambil segelas sampanye dan meneguknya.
"Kusuma Hadi!" Kirani meneriakkan nama itu sambil menatap wajah gadis yang sedang berulang tahun. Nama itu seharusnya menjelaskan identitas pria itu, jadi ia ingin memastikan Dewi mendengarnya.
Sampanye keluar dari mulut gadis itu saat Kirani menyebut nama Kusuma. Dewi mulai terbatuk-batuk, tidak menyadari bahwa ia telah menyemburkan sampanye ke wajah teman sekamarnya. Alih-alih marah setelah dihujani sampanye tepat di wajahnya, Kirani malah terperangah.
Bahkan Jaya ikut terperangah ketika mendengar nama itu. "Tuan Hadi? Tomboi, aku pikir kali ini kamu telah berbuat kesalahan besar. " katanya. Jaya adalah putra manajer umum sebuah perusahaan keuangan di Kota Yoya, dan nama Kusuma terdengar di telinganya seperti gemuruh.
Nama yang tak asing itu juga membuat Kristina menjerit. "Dewi, kamu mencium Tuan Hadi! Ahhh. Biarkan aku menciummu karena itu seperti mencium Kusuma secara tidak langsung," goda Kristina.
Dewi membersihkan wajah temannya dengan tisu, tetapi terlalu terkejut untuk meminta maaf.
Ketika Kristina maju ke arahnya, Dewi melemparkan tisu ke meja dan berlari secepat mungkin.
Tiba-tiba, ia teringat sesuatu. "Kirani, apakah kamu memanggil namaku ketika aku berada di lorong?" tanya Dewi. Ia merinding memikirkan kemungkinan itu. 'Aduh! Bagaimana jika Kusuma ingat namaku?'
Kirani yang bersemangat mengambil tisu untuk membersihkan wajahnya. lalu ia menjawab dengan nada marah, "Ya, aku tadi memanggil namamu. Jadi hal kecil ini yang membuatmu cemas? Aku tahu, mencium Tuan Hadi akan membuat hatimu berdebar. tapi sikapmu sekarang sedikit berlebihan, kan?" Ia mengutuk Dewi dengan pelan, 'Dasar anak nakal!
Ya Tuhan! Wajahku! Dan rambutku! Ada sampanye di mana-mana!' Dewi menepuk lengan Kirani untuk menghibur sekaligus meminta maaf. Tiba-tiba ia berkata, "Kalian bersenang-senanglah. Aku harus pergi sekarang."
Setelah ia selesai berpamitan, gadis yang sedang berulang tahun itu meninggalkan ruangan dengan tergesa-gesa. Semua orang menyaksikan sosok Dewi yang semakin jauh dengan ekspresi terkejut.
Semua temannya memikirkan hal yang sama. Apa yang akan Dewi lakukan, mungkinkah ia akan mengejar Tuan Hadi? Ia benar-benar sudah gila! Mereka semua mendengar ada banyak wanita yang mengejar Kusuma. Untuk menyingkirkan wanita-wanita tersebut, Kusuma akan meminta anak buahnya untuk menelanjangi sang wanita lalu membuangnya ke jalan. Melihat kemungkinan yang akan terjadi, mereka semua memiliki ide yang sama untuk menghentikan Dewi menemui Kusuma.
Sebagian besar dari teman-temannya berlari keluar ruangan, berharap untuk mencegah Dewi dari apa pun yang ia rencanakan.
Tetapi mereka terlambat, gadis itu tidak bisa ditemukan.
Begitu Dewi melangkah keluar dari bar, ia memanggil taksi dan meminta sopir untuk membawanya ke vila tempat ia tinggal.
'Aku harap Kusuma tidak mengenaliku dan tidak akan datang ke vila malam ini. Kalau tidak, ia mungkin berpikir aku menyesal telah meminta cerai, dan mencoba mendapatkan perhatiannya dengan ciuman tadi.'
Dewi terus memikirkan peristiwa yang ia alami sambil bersandar di kursi.
Setelah mereka menikah tiga tahun lalu, Kusuma menugaskan Panji untuk mengurus makanan, pakaian, dan kebutuhan lain Dewi.
Namun, Dewi tidak pernah bertemu dengan suaminya.
Di satu sisi, Kusuma sibuk dengan pekerjaan dan menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mengurus bisnis di luar negeri.
Di sisi lain, Kusuma memiliki sebuah vila yang ia tempati ketika berada di Kota Yoya. Mereka juga memiliki teman dan lingkar pergaulan yang berbeda. Sehingga sangat wajar jika mereka tidak pernah bertemu sama sekali dalam tiga tahun terakhir ini.
Pada saat ayah Dewi masih hidup, beliau menyimpan akta nikah putrinya. Tetapi sebelum meninggal, beliau menyerahkan akta nikah itu kepada Kusuma karena takut Dewi akan menceraikan suaminya.
Jadi, baru sekarang Dewi tahu seperti apa rupa suaminya.
Saat duduk, ia tiba-tiba teringat sesuatu dan menampar dahinya. 'Oh, aku ingat pernah melihatnya sekali,' pikir wanita muda itu. Dewi telah beberapa kali mengunjungi kantor Kusuma. Setiap ia datang, asisten Kusuma lah yang menyambutnya. Jadi ia tidak punya kesempatan untuk bertemu suaminya. Terakhir kali pergi ke perusahaan, Dewi tidak memperkenalkan dirinya, jadi petugas keamanan mencegahnya memasuki gedung. Saat itu, Kusuma baru saja pulang dari perjalanan bisnis ke luar negeri. Dan saat berdiri di luar, Dewi melihat suaminya keluar dari mobil.
Sayangnya, jarak Dewi terlalu jauh untuk melihat wajah suaminya dengan baik. Dan kejadian itu sudah lama sekali. Bahkan setelah tahu nama suaminya, Dewi tidak pernah menemukan foto Kusuma di Internet. Ia tidak pernah menonjolkan diri, menolak memberikan wawancara kepada media dan tidak mengizinkan siapa pun untuk memposting fotonya secara online.
Suatu hari, ada yang menerbitkan foto Kusuma. Dalam foto itu, dikatakan bahwa ia sedang memegang tangan seorang aktris. Tapi sebelum Dewi sempat melihat, foto itu sudah dihapus.
Sekarang, akhirnya ia mengetahui wajah suaminya.
Dan ia bahkan sempat untuk menciumnya! Jika Kusuma telah menandatangani surat cerai, secara teknis, ia akan menjadi mantan suami Dewi.
Kusuma tidak pernah kekurangan wanita untuk menemani dirinya. Tetapi ia membenci wanita yang sengaja datang untuk mendekatinya.
Jadi bertambah satu lagi alasan mengapa Dewi menjadi gelisah. 'Ya Tuhan! Mati aku. Aku benar-benar berharap ia tidak mengenaliku, ' Dewi terus berdoa dalam hati.
Ketika tiba di vila, ia menghela napas lega ketika melihat tidak ada lampu yang menyala.
"Mungkin ia tidak mendengar Kirani memanggil namaku, dan bahkan tidak mengenali wajahku. Terima kasih Tuhan telah membantuku!" Dewi bergumam.
Menepuk wajahnya yang masih memerah, ia melemparkan dirinya ke sofa ruang tamu sambil mengingat semua peristiwa malam ini. "Jika dia mengenaliku, aku yakin dia pasti tidak menyukaiku. Tapi mungkin itu jalan yang terbaik. Jadi ia dapat menandatangani perjanjian perceraian tanpa ragu-ragu," gumamnya.
Dewi adalah seorang mahasiswa junior di Kelas 22 Jurusan Keuangan Fakultas Ekonomi dan Manajemen di Universitas Kota Yoya.
Ada lebih dari 50 mahasiswa yang terdaftar di kelasnya. Empat puluh dari mereka lulus ujian masuk perguruan tinggi, sedangkan sisanya melalui pintu belakang.
Universitas Kota Yoya termasuk salah satu di antara 3 universitas lokal terbaik. Kusuma juga lulus dari institusi ini. Ada banyak orang yang ingin mendaftar di universitas ini. Dewi adalah salah satu dari mahasiswa yang masuk melalui koneksi pribadi.
Martaka Daliono, seorang profesor senior, sedang berdiri di pondium di depan kelas. Beliau mendorong kacamatanya ke atas hidung sembari mengambil napas dalam-dalam. Lalu Beliau menatap murid-muridnya, yang sebagian besar sedang tidur..
Tiba-tiba, terdengar suara keras! Profesor itu melemparkan sebuah buku ke mejanya. Suara yang sangat keras membuat sebagian besar siswa terbangun. Lalu mereka segera duduk dengan punggung tegak.
Tetapi tampaknya suara itu tidak berpengaruh pada seorang gadis dengan jas putih santai yang duduk di baris terakhir. Gadis itu masih tertidur nyenyak di mejanya.
Melihat siswa yang sedang tertidur, Martaka meraung, "Dewi Nayaka!" Ia mungkin sudah tua dan memiliki rambut abu-abu, tetapi suaranya masih menggelegar. Ruangan kelas menjadi hening sampai Anda bisa mendengar jika ada jarum yang jatuh.
Tapi suara berisik atau keheningan tidak berpengaruh bagi Dewi. Ia masih tertidur lelap. Semua orang menatap Dewi saat ia tetap berada di alam mimpi.
"Dewi!" Kirani memekik sambil menutup pintu. "Kamu luar biasa sekali!" katanya dengan bangga, sambil menepuk punggung Dewi. Terengah-engah setelah melarikan diri, Dewi menghela napas lega.
Sementara itu, wajah Kusuma berubah menjadi gelap setelah mendapat ciuman tak disangka itu. Ia berdiri terpaku di tempat. Tetapi ia dapat melihat gadis itu menghilang ke dalam Kamar 501. Pria itu hendak meminta salah satu pengawalnya untuk membawa Dewi keluar dari kamar dan melemparkannya ke laut. Namun suara telepon yang tiba-tiba berdering menghancurkan rencananya.
Kesal karena rencananya terganggu, Kusuma menjawab panggilan itu. Setelah mendengarkan selama beberapa detik, ia membentak, "Baiklah. Aku akan segera ke sana." Kusuma menekan tombol untuk mengakhiri panggilan, kemudian melirik Kamar 501. Ia menarik napas dalam-dalam untuk mengendalikan amarahnya. Ada keadaan darurat di perusahaan miliknya, yang membutuhkan perhatian segera.
"Anggap saja hari ini adalah hari keberuntunganmu, gadis kecil. Kamu lebih baik berdoa agar kita tidak pernah bertemu lagi. Lain kali, kamu tidak akan lolos jika memprovokasiku," gumam Kusuma sambil berbalik untuk pergi.
Di dalam Kamar 501, Dewi mengusap pipinya yang merah dan merasakan pipinya terbakar karena malu. Ia tidak pernah melakukan hal segila ini dalam hidupnya. Jantung Dewi berdebar kencang, pikirannya campur aduk. 'Ya Tuhan! Tadi itu adalah ciuman pertamaku, dan aku bahkan tidak tahu siapa pria itu!
Apakah tadi aku selingkuh dari suamiku?
Ya sudahlah! Aku sudah menandatangani perjanjian perceraian beberapa hari lalu.
Tidak masalah jika Kusuma tidak mau menandatanganinya. Secara hukum, pasangan yang telah berpisah selama lebih dari dua tahun dianggap telah bercerai secara otomatis.
Aku belum pernah melihatnya sama sekali dalam pernikahan kami selama tiga tahun. Jadi mungkin secara hukum, aku bukan lagi istrinya. Berarti, aku tidak mengkhianati suamiku.
Apalagi itu hanya sebuah ciuman ... ' Dewi lupa ada teman-teman di sekitarnya.
Tiba-tiba Kirani berteriak, "Ya ampun!" Semua teman sekelasnya melompat karena teriakannya.
"Kamu kenapa Kirani? Kamu membuatku takut setengah mati!" Kristina Latif, yang hendak minum anggur, menumpahkan isi gelasnya karena teriakan Kirani. Ia menepuk dada untuk menenangkan diri.
Dengan penuh semangat, Kirani menghampiri Dewi yang masih tenggelam dalam pikirannya, lalu mengguncang bahunya.
"Apakah kamu tidak tahu siapa pria itu?" ia bertanya. Objek lelucon Dewi adalah pria idaman setiap wanita. Pria itu masih muda, tampan, kaya, dan berkuasa, dan ia memiliki perusahaan multinasional yang besar. Orang-orang memanggilnya Tuan Hadi sebagai tanda hormat.
"Jadi, kamu tahu siapa dia?" Dewi bertanya seraya mengambil segelas sampanye dan meneguknya.
"Kusuma Hadi!" Kirani meneriakkan nama itu sambil menatap wajah gadis yang sedang berulang tahun. Nama itu seharusnya menjelaskan identitas pria itu, jadi ia ingin memastikan Dewi mendengarnya.
Sampanye keluar dari mulut gadis itu saat Kirani menyebut nama Kusuma. Dewi mulai terbatuk-batuk, tidak menyadari bahwa ia telah menyemburkan sampanye ke wajah teman sekamarnya. Alih-alih marah setelah dihujani sampanye tepat di wajahnya, Kirani malah terperangah.
Bahkan Jaya ikut terperangah ketika mendengar nama itu. "Tuan Hadi? Tomboi, aku pikir kali ini kamu telah berbuat kesalahan besar. " katanya. Jaya adalah putra manajer umum sebuah perusahaan keuangan di Kota Yoya, dan nama Kusuma terdengar di telinganya seperti gemuruh.
Nama yang tak asing itu juga membuat Kristina menjerit. "Dewi, kamu mencium Tuan Hadi! Ahhh. Biarkan aku menciummu karena itu seperti mencium Kusuma secara tidak langsung," goda Kristina.
Dewi membersihkan wajah temannya dengan tisu, tetapi terlalu terkejut untuk meminta maaf.
Ketika Kristina maju ke arahnya, Dewi melemparkan tisu ke meja dan berlari secepat mungkin.
Tiba-tiba, ia teringat sesuatu. "Kirani, apakah kamu memanggil namaku ketika aku berada di lorong?" tanya Dewi. Ia merinding memikirkan kemungkinan itu. 'Aduh! Bagaimana jika Kusuma ingat namaku?'
Kirani yang bersemangat mengambil tisu untuk membersihkan wajahnya. lalu ia menjawab dengan nada marah, "Ya, aku tadi memanggil namamu. Jadi hal kecil ini yang membuatmu cemas? Aku tahu, mencium Tuan Hadi akan membuat hatimu berdebar. tapi sikapmu sekarang sedikit berlebihan, kan?" Ia mengutuk Dewi dengan pelan, 'Dasar anak nakal!
Ya Tuhan! Wajahku! Dan rambutku! Ada sampanye di mana-mana!' Dewi menepuk lengan Kirani untuk menghibur sekaligus meminta maaf. Tiba-tiba ia berkata, "Kalian bersenang-senanglah. Aku harus pergi sekarang."
Setelah ia selesai berpamitan, gadis yang sedang berulang tahun itu meninggalkan ruangan dengan tergesa-gesa. Semua orang menyaksikan sosok Dewi yang semakin jauh dengan ekspresi terkejut.
Semua temannya memikirkan hal yang sama. Apa yang akan Dewi lakukan, mungkinkah ia akan mengejar Tuan Hadi? Ia benar-benar sudah gila! Mereka semua mendengar ada banyak wanita yang mengejar Kusuma. Untuk menyingkirkan wanita-wanita tersebut, Kusuma akan meminta anak buahnya untuk menelanjangi sang wanita lalu membuangnya ke jalan. Melihat kemungkinan yang akan terjadi, mereka semua memiliki ide yang sama untuk menghentikan Dewi menemui Kusuma.
Sebagian besar dari teman-temannya berlari keluar ruangan, berharap untuk mencegah Dewi dari apa pun yang ia rencanakan.
Tetapi mereka terlambat, gadis itu tidak bisa ditemukan.
Begitu Dewi melangkah keluar dari bar, ia memanggil taksi dan meminta sopir untuk membawanya ke vila tempat ia tinggal.
'Aku harap Kusuma tidak mengenaliku dan tidak akan datang ke vila malam ini. Kalau tidak, ia mungkin berpikir aku menyesal telah meminta cerai, dan mencoba mendapatkan perhatiannya dengan ciuman tadi.'
Dewi terus memikirkan peristiwa yang ia alami sambil bersandar di kursi.
Setelah mereka menikah tiga tahun lalu, Kusuma menugaskan Panji untuk mengurus makanan, pakaian, dan kebutuhan lain Dewi.
Namun, Dewi tidak pernah bertemu dengan suaminya.
Di satu sisi, Kusuma sibuk dengan pekerjaan dan menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mengurus bisnis di luar negeri.
Di sisi lain, Kusuma memiliki sebuah vila yang ia tempati ketika berada di Kota Yoya. Mereka juga memiliki teman dan lingkar pergaulan yang berbeda. Sehingga sangat wajar jika mereka tidak pernah bertemu sama sekali dalam tiga tahun terakhir ini.
Pada saat ayah Dewi masih hidup, beliau menyimpan akta nikah putrinya. Tetapi sebelum meninggal, beliau menyerahkan akta nikah itu kepada Kusuma karena takut Dewi akan menceraikan suaminya.
Jadi, baru sekarang Dewi tahu seperti apa rupa suaminya.
Saat duduk, ia tiba-tiba teringat sesuatu dan menampar dahinya. 'Oh, aku ingat pernah melihatnya sekali,' pikir wanita muda itu. Dewi telah beberapa kali mengunjungi kantor Kusuma. Setiap ia datang, asisten Kusuma lah yang menyambutnya. Jadi ia tidak punya kesempatan untuk bertemu suaminya. Terakhir kali pergi ke perusahaan, Dewi tidak memperkenalkan dirinya, jadi petugas keamanan mencegahnya memasuki gedung. Saat itu, Kusuma baru saja pulang dari perjalanan bisnis ke luar negeri. Dan saat berdiri di luar, Dewi melihat suaminya keluar dari mobil.
Sayangnya, jarak Dewi terlalu jauh untuk melihat wajah suaminya dengan baik. Dan kejadian itu sudah lama sekali. Bahkan setelah tahu nama suaminya, Dewi tidak pernah menemukan foto Kusuma di Internet. Ia tidak pernah menonjolkan diri, menolak memberikan wawancara kepada media dan tidak mengizinkan siapa pun untuk memposting fotonya secara online.
Suatu hari, ada yang menerbitkan foto Kusuma. Dalam foto itu, dikatakan bahwa ia sedang memegang tangan seorang aktris. Tapi sebelum Dewi sempat melihat, foto itu sudah dihapus.
Sekarang, akhirnya ia mengetahui wajah suaminya.
Dan ia bahkan sempat untuk menciumnya! Jika Kusuma telah menandatangani surat cerai, secara teknis, ia akan menjadi mantan suami Dewi.
Kusuma tidak pernah kekurangan wanita untuk menemani dirinya. Tetapi ia membenci wanita yang sengaja datang untuk mendekatinya.
Jadi bertambah satu lagi alasan mengapa Dewi menjadi gelisah. 'Ya Tuhan! Mati aku. Aku benar-benar berharap ia tidak mengenaliku, ' Dewi terus berdoa dalam hati.
Ketika tiba di vila, ia menghela napas lega ketika melihat tidak ada lampu yang menyala.
"Mungkin ia tidak mendengar Kirani memanggil namaku, dan bahkan tidak mengenali wajahku. Terima kasih Tuhan telah membantuku!" Dewi bergumam.
Menepuk wajahnya yang masih memerah, ia melemparkan dirinya ke sofa ruang tamu sambil mengingat semua peristiwa malam ini. "Jika dia mengenaliku, aku yakin dia pasti tidak menyukaiku. Tapi mungkin itu jalan yang terbaik. Jadi ia dapat menandatangani perjanjian perceraian tanpa ragu-ragu," gumamnya.
Dewi adalah seorang mahasiswa junior di Kelas 22 Jurusan Keuangan Fakultas Ekonomi dan Manajemen di Universitas Kota Yoya.
Ada lebih dari 50 mahasiswa yang terdaftar di kelasnya. Empat puluh dari mereka lulus ujian masuk perguruan tinggi, sedangkan sisanya melalui pintu belakang.
Universitas Kota Yoya termasuk salah satu di antara 3 universitas lokal terbaik. Kusuma juga lulus dari institusi ini. Ada banyak orang yang ingin mendaftar di universitas ini. Dewi adalah salah satu dari mahasiswa yang masuk melalui koneksi pribadi.
Martaka Daliono, seorang profesor senior, sedang berdiri di pondium di depan kelas. Beliau mendorong kacamatanya ke atas hidung sembari mengambil napas dalam-dalam. Lalu Beliau menatap murid-muridnya, yang sebagian besar sedang tidur..
Tiba-tiba, terdengar suara keras! Profesor itu melemparkan sebuah buku ke mejanya. Suara yang sangat keras membuat sebagian besar siswa terbangun. Lalu mereka segera duduk dengan punggung tegak.
Tetapi tampaknya suara itu tidak berpengaruh pada seorang gadis dengan jas putih santai yang duduk di baris terakhir. Gadis itu masih tertidur nyenyak di mejanya.
Melihat siswa yang sedang tertidur, Martaka meraung, "Dewi Nayaka!" Ia mungkin sudah tua dan memiliki rambut abu-abu, tetapi suaranya masih menggelegar. Ruangan kelas menjadi hening sampai Anda bisa mendengar jika ada jarum yang jatuh.
Tapi suara berisik atau keheningan tidak berpengaruh bagi Dewi. Ia masih tertidur lelap. Semua orang menatap Dewi saat ia tetap berada di alam mimpi.
Chapter 3
"Dewi! Dewi!" sebuah suara pelan terdengar terus memanggilnya, saat ia masih terlelap dalam tidurnya. Menolak bangun dari tidurnya, Dewi merasakan lengan bajunya ditarik terus-menerus. Semakin ia berusaha mengabaikannya, panggilan suara dan tarikan itu semakin keras dirasakannya. Akhirnya ia menyerah dan mulai membuka matanya.
Meskipun jelas terlihat bahwa ia belum sadar sepenuhnya, ia menoleh ke arah Kristina yang ada di sampingnya. "Kristina...sebaiknya kamu memiliki alasan yang bagus sampai harus membangunkanku..."
Apa yang dilihat Dewi sebagai jawaban atas perkataannya adalah, ia melihat jari Kristina yang menunjuk ke suatu arah. Mata Dewi menelusuri ke mana arah jari Kristina menunjuk, dan ia melihat Martaka yang berada di depan kelas dengan ekspresi sangat marah.
Melihat wajah tegang Martaka di depan sana, Dewi tersadar, seakan telah disiram dengan air sedingin es di wajahnya. 'Oh sial!' Berusaha keras mengumpulkan kembali kesadarannya, Dewi menggelengkan kepala dan kemudian berusaha untuk duduk dengan tegak di bangkunya.
Martaka yang saat ini sedang berdiri di depan kelas untuk mengajar, adalah seorang profesor yang dianggap sebagai salah satu orang paling keras kepala di universitas tempat Dewi berkuliah. Mengambil buku diktat dari tasnya, Dewi kemudian membuka buku itu di halaman yang akan dipelajari dalam pertemuan kali ini, dan ia mengirim tatapan mengancam pada siapapun yang berani tertawa dengan kejadian ini.
Seketika, semua yang hadir di kelas itu mengalihkan pandangannya kembali ke depan kelas, berpura-pura tak mengetahui apa yang baru saja terjadi. Setelah situasi kembali tenang, Profesor Martaka pun melanjutkan kuliahnya.
'Ya Tuhan, dia terlihat sangat marah ...' Dewi membenamkan jari-jarinya di rambutnya dan merasakan penyesalan. 'Aku pasti gagal dalam mata kuliah yang diajarkannya ...'
Tak seorang pun di kelas itu yang berani mengolok Dewi. Semua orang di kelas dan bahkan seluruh universitas tahu bahwa Dewi memiliki latar belakang yang kurang jelas.
Selain itu, Dewi adalah seorang mahasiswi pembuat onar, yang sering bentrok dengan mahasiswa lain, mabuk-mabukan dan juga membolos dari kelas. Pendek kata, Dewi telah melakukan hal-hal yang tidak diperbolehkan oleh universitas.
Di dalam buku pegangan mahasiswa universitas Kota Yoya, telah dinyatakan bahwa seorang mahasiswa tidak diperbolehkan mewarnai rambutnya, mengecat kukunya, dan memakai perhiasan mewah di kampus.
Namun, Dewi tidak peduli dengan aturan itu, bahkan mungkin ia tak pernah membacanya, karena ia memiliki rambut panjang yang dicat ungu dan kuku berwarna merah cerah. Para pengajar di universitas terlalu enggan untuk menegurnya perihal semua pelanggaran yang ia lakukan.
Dengan semua pelanggaran itu, sungguh mengejutkan fakta bahwa Dewi belum juga dikeluarkan dari universitas sampai dengan saat ini. Salah satu alasannya mungkin adalah, karena ada keluarga yang sangat berkuasa di belakang Dewi.
"Dewi Nayaka," panggil Martaka dengan nada datar, "tolong kamu jelaskan padaku apa itu keuangan." Profesor Martaka tahu dengan jelas mengenai latar belakang Dewi. Seseorang bernama Edi Cataka, yang merupakan asisten Kusuma, ada kaitannya dengan penugasan Martaka di universitas ini. Bahkan Kusuma sendiri dulunya adalah mahasiswa Martaka. Sebagai seorang pengajar yang bertanggung jawab, Martaka tahu bahwa ia harus campur tangan, dan ia tidak bisa membiarkan begitu saja anak didiknya, khususnya Dewi, tenggelam dalam kenakalannya.
Berpura-pura membaca buku dan mencari jawaban atas pertanyaan Martaka, Dewi menendang bangku yang ada di depannya. Duduk di depan Dewi adalah Dimas Subianto, seorang pengawas kelas dan juga mahasiswa yang pintar, hingga selalu mendapatkan nilai A dalam semua mata kuliahnya.
Dengan tendangan yang dikirimkan Dewi ke bangkunya, Dimas paham apa yang Dewi minta, ia segera membuka halaman buku tempat jawaban berada dan menggesernya ke samping agar Dewi dapat membacanya.
Senyum kepuasan tersungging di bibir Dewi ketika buku yang digeser Dimas terbaca olehnya. Banyak mahasiswa di kelas yang melirik ke Dewi secara diam-diam dan mendapati bahwa Dewi memang terlihat memukau.
Ia memiliki ciri-ciri yang menjadi impian banyak wanita, kulit putih yang sempurna, sepasang mata yang bulat dan terlihat polos, hidung mancung dengan bentuk yang indah, serta bibir merah yang lembut.
Meskipun wajah Dewi polos tanpa riasan, akan tetapi penampilannya tetap mempesona. Belum lagi sepasang kakinya yang jenjang dan ramping, sangat menarik bagi para pria yang memiliki kesempatan untuk melihatnya walau sekilas saja.
Jika saja prestasi akademisnya lebih baik, ia akan menjadi kandidat yang paling pantas untuk mendapatkan gelar 'Nona Universitas.'
'Baiklah, mari kita lihat di sini ...' Dewi berdiri dan berkedip ketika ia mulai membaca jawaban dari buku Dimas. "Keuangan adalah istilah luas yang mencakup dua aktivitas yang berkaitan yaitu: studi tentang bagaimana uang dikelola dan..."
Sebagai seorang profesor, Martaka jelas mengetahui trik yang sedang Dewi lakukan, dan ini membuatnya sangat marah. "Cukup!" Teriakan Martaka menggelegar di seluruh ruang perkuliahan, membuat yang hadir di dalamnya merasa ketakutan.
Para siswa dapat melihat bagaimana Martaka mati-matian berusaha menahan amarahnya.
Semua yang hadir merasa ketakutan dan terpaku di tempat duduknya, semua kecuali Dewi yang kemudian tersenyum kepada Martaka dan berkata, "Profesor Daliono, apakah jawaban saya tadi salah?"
Mendengar pertanyaan dari Dewi, wajah Martaka pun mulai memerah karena marah. Melihat hal itu Dewi mulai menyesali apa pun yang ia lakukan dan berusaha meminta maaf kepada Martaka. "Profesor Daliono, tolong jangan marah. Saya akan menghafal jawabannya sebelum jam kelas ini berakhir!" Dewi berjanji demi meredakan kemarahan profesor. Dewi bahkan memiliki beberapa orang yang ditakutinya, dan profesor Martaka adalah salah satunya, karena Dewi tahu, Kusuma adalah salah satu mantan murid Martaka.
Amarah perlahan hilang dari wajah Martaka dan ia menjadi lebih tenang setelah mendengar ucapan Dewi. Bagi Martaka, Dewi sebenarnya adalah gadis yang pintar. Jika saja ia bersedia memfokuskan perhatian dan pikirannya untuk belajar, ia bisa menjadi mahasiswa dengan nilai yang tinggi di kelasnya. Tapi, sebagai seorang profesor yang profesional, Martaka tidak bisa lebih mentolerir tindakan Dewi yang kurang ajar lebih jauh. 'Kamu tidak suka belajar? Boleh! Kamu gagal dalam banyak mata kuliah? Boleh!' Martaka kemudian menatap Dewi dengan tajam. 'Tapi tidak di kelasku!' Martaka bersumpah pada dirinya sendiri.
"Jika sekali lagi aku melihatmu tidur di kelasku, Jaya, Kristina, dan Kirani, mereka bertiga akan berdiri di bawah bendera!" Martaka menyatakannya dengan tegas. "Apakah kamu mengerti? !" Tiga orang yang namanya disebut mengeluh tak percaya atas pernyataan yang mereka dengar dari profesor.
'Kenapa kita yang harus menderita ketika Dewi yang melakukan kesalahan…' pikir mereka bertiga sepakat.
Alasan dibalik pernyataan Martaka ini adalah karena ia tahu betul bahwa Dewi sangat setia kepada kawan-kawannya. Menyakiti orang lain demi mendapatkan apa yang ia inginkan tak pernah ada dalam prinsip Dewi. Inilah salah satu kelebihan yang dilihat Martaka, yang dapat dimanfaatkannya untuk menghadapi sikap Dewi.
Menatap dengan tajam ke arah Martaka, Dewi mengutuk di dalam hatinya, 'Kenapa?! Kau sungguh licik... '
Dewi kemudian mengangkat kepalanya, dan dengan percaya diri ia menjawab, "Mengerti, Profesor Daliono. Anda tidak akan pernah menemukan saya tertidur di kelas Anda lagi." Duduk kembali di kursinya, Dewi kemudian mengambil penanya dan seakan menulis di buku catatan di depannya. Ekspresi kepuasan muncul di wajah Martaka melihatnya, ia mengira Dewi sedang sibuk mencatat apa yang dijelaskannya. Faktanya, Dewi hanya membuat coretan-coretan tak jelas di bukunya.
Ketika bel akhir mata kuliah berbunyi, Martaka mengucapkan kata-kata terakhirnya sebelum kemudian mengumpulkan barang-barangnya dan akhirnya meninggalkan ruangan perkuliahan.
Kelas pun secara resmi dibubarkan.
Saat Martaka telah pergi, beberapa teman pria dan wanita Dewi berkumpul di sekitar mejanya, dan mulai menyatakan protes tentang pernyataan sang profesor sebelumnya.
"Hei, Tomboi. Ada masalah apa kamu dengan Profesor Daliono?" tanya Jaya. Ekspresi frustrasi terlihat dengan jelas di wajahnya. 'Kenapa harus kita yang bertanggung jawab atas apa yang telah Dewi lakukan? Pria yang aneh, ' pikir Jaya dalam hatinya.
Dengan badan setinggi 210 sentimeter, Jaya adalah salah satu mahasiswa yang mendapat karunia berupa tinggi badan dan dianggap sebagai yang tertinggi di seluruh universitas. Sebagai tambahan, Jaya adalah salah satu teman baik Dewi, dan merupakan seorang pria yang murah hati.
"Dewi, kumohon jangan tidur di kelas Profesor Daliono lagi..." Kristina merengek sambil memegangi lengan Dewi dengan erat, memohon dengan sikap yang menawan. "Aku mohon padamu..." Kristina, teman baik Dewi lainnya, memiliki rambut panjang yang keriting dan tubuh yang mungil, dan selalu memancarkan pesona.
"Dewi, sebagai Nona Kamar 3301, aku tidak mau dipermalukan di depan umum seperti itu, mengerti?" kata Kirani, yang menyatakan dirinya sebagai gadis paling cantik di asrama.
Saat ini, Dewi sangatlah tak berselera untuk mendengar semua ocehan ini, akibat permintaan cerai yang sedang ia ajukan dan juga ciuman yang terjadi antara dirinya dan Kusuma. Suara bising di sekitarnya saat ini mulai membuatnya merasa kesal. Dengan tiba-tiba ia mengambil buku dengan tangannya, dan membantingnya dengan keras ke meja. Menimbulkan suara nyaring dan keras yang bergema di seluruh ruangan, dan membuat semua orang terkejut karenanya.
Semua yang masih ada di ruangan itu tahu, jika mereka coba melihat ke belakang, ke arah datangnya suara itu, mereka akan mendapatkan masalah dengan Dewi, hingga mereka pun diam saja. Tak ada satu pun yang berani berkomentar.
Merasakan suasana tegang yang terus meningkat, Kirani pun kemudian angkat bicara dengan tujuan meredakan ketegangan yang ada. "Hei, aku baru ingat. Sedang ada promosi besar-besaran di Plaza Cahaya Internasional hari ini! Apa kalian tertarik untuk pergi ke sana?"
Berdiri dan menghampiri Kirani dengan gaya centilnya, Dewi kemudian melontarkan senyum dan berkata, "Aku mau!" 'Mungkin hanya karena lipstik yang selama ini selalu dia inginkan…' pikir Kirani sambil memainkan matanya.
Sebagai teman yang begitu dekat, Dewi dan Kirani sudah saling memahami satu sama lain, luar dan dalam.
Untuk seorang Dewi yang biasanya terlibat dalam perkelahian dan gemar menenggelamkan dirinya dalam alkohol; ketertarikannya pada lipstik adalah sebuah hal yang sangat mengejutkan. Ia tak pernah peduli akan pakaian, karena ia terbiasa mengenakan pakaian santai. Akan tetapi, minatnya untuk mengumpulkan kaleidoskop lipstik adalah hal yang tak terbendung.
Di Plaza Cahaya Internasional.
Sekelompok sahabat itu akhirnya tiba dan berkumpul di Plaza Cahaya Internasional. Di dalam plaza itu terdapat begitu banyak keindahan untuk dilihat dan juga ditawarkan.
Plaza Cahaya Internasional terdiri dari tujuh bangunan, yang masing-masing bangunan itu dinamai dengan nama bintang-bintang yang membentuk konstelasi Biduk.
Nama ketujuh bangunan itu adalah Dubhe, Merak, Phecda, Megrez, Alioth, Mizar, dan Akaid.
Di puncak setiap bangunan, terdapat beberapa lampu, yang ketika malam tiba, lampu itu akan menyala. Jika orang melihatnya dari langit, maka lampu pada masing-masing gedung itu akan tersusun membentuk konstelasi Biduk. Sebuah tontonan yang menakjubkan.
Desain pencahayaan di dalam plaza pun telah dirancang untuk menyerupai langit yang penuh bintang, sehingga ketika Anda berjalan di dalamnya, seakan Anda sedang berjalan di atas lautan bintang. Tak heran jika banyak orang yang suka mengunjungi plaza ini, sebuah plaza yang dibalut konsep unik konstelasi perbintangan. Sehingga, plaza ini menjadi tempat yang sangat populer, apakah itu untuk berpacaran atau tempat untuk mengajak orang-orang tersayang jalan-jalan. Di plaza ini Anda dapat melihat beragam pengunjung dari segala usia, baik yang sedang berkumpul bersama keluarga atau berdua dengan pasangannya, dan memandang bintang dari dekat.
Meskipun jelas terlihat bahwa ia belum sadar sepenuhnya, ia menoleh ke arah Kristina yang ada di sampingnya. "Kristina...sebaiknya kamu memiliki alasan yang bagus sampai harus membangunkanku..."
Apa yang dilihat Dewi sebagai jawaban atas perkataannya adalah, ia melihat jari Kristina yang menunjuk ke suatu arah. Mata Dewi menelusuri ke mana arah jari Kristina menunjuk, dan ia melihat Martaka yang berada di depan kelas dengan ekspresi sangat marah.
Melihat wajah tegang Martaka di depan sana, Dewi tersadar, seakan telah disiram dengan air sedingin es di wajahnya. 'Oh sial!' Berusaha keras mengumpulkan kembali kesadarannya, Dewi menggelengkan kepala dan kemudian berusaha untuk duduk dengan tegak di bangkunya.
Martaka yang saat ini sedang berdiri di depan kelas untuk mengajar, adalah seorang profesor yang dianggap sebagai salah satu orang paling keras kepala di universitas tempat Dewi berkuliah. Mengambil buku diktat dari tasnya, Dewi kemudian membuka buku itu di halaman yang akan dipelajari dalam pertemuan kali ini, dan ia mengirim tatapan mengancam pada siapapun yang berani tertawa dengan kejadian ini.
Seketika, semua yang hadir di kelas itu mengalihkan pandangannya kembali ke depan kelas, berpura-pura tak mengetahui apa yang baru saja terjadi. Setelah situasi kembali tenang, Profesor Martaka pun melanjutkan kuliahnya.
'Ya Tuhan, dia terlihat sangat marah ...' Dewi membenamkan jari-jarinya di rambutnya dan merasakan penyesalan. 'Aku pasti gagal dalam mata kuliah yang diajarkannya ...'
Tak seorang pun di kelas itu yang berani mengolok Dewi. Semua orang di kelas dan bahkan seluruh universitas tahu bahwa Dewi memiliki latar belakang yang kurang jelas.
Selain itu, Dewi adalah seorang mahasiswi pembuat onar, yang sering bentrok dengan mahasiswa lain, mabuk-mabukan dan juga membolos dari kelas. Pendek kata, Dewi telah melakukan hal-hal yang tidak diperbolehkan oleh universitas.
Di dalam buku pegangan mahasiswa universitas Kota Yoya, telah dinyatakan bahwa seorang mahasiswa tidak diperbolehkan mewarnai rambutnya, mengecat kukunya, dan memakai perhiasan mewah di kampus.
Namun, Dewi tidak peduli dengan aturan itu, bahkan mungkin ia tak pernah membacanya, karena ia memiliki rambut panjang yang dicat ungu dan kuku berwarna merah cerah. Para pengajar di universitas terlalu enggan untuk menegurnya perihal semua pelanggaran yang ia lakukan.
Dengan semua pelanggaran itu, sungguh mengejutkan fakta bahwa Dewi belum juga dikeluarkan dari universitas sampai dengan saat ini. Salah satu alasannya mungkin adalah, karena ada keluarga yang sangat berkuasa di belakang Dewi.
"Dewi Nayaka," panggil Martaka dengan nada datar, "tolong kamu jelaskan padaku apa itu keuangan." Profesor Martaka tahu dengan jelas mengenai latar belakang Dewi. Seseorang bernama Edi Cataka, yang merupakan asisten Kusuma, ada kaitannya dengan penugasan Martaka di universitas ini. Bahkan Kusuma sendiri dulunya adalah mahasiswa Martaka. Sebagai seorang pengajar yang bertanggung jawab, Martaka tahu bahwa ia harus campur tangan, dan ia tidak bisa membiarkan begitu saja anak didiknya, khususnya Dewi, tenggelam dalam kenakalannya.
Berpura-pura membaca buku dan mencari jawaban atas pertanyaan Martaka, Dewi menendang bangku yang ada di depannya. Duduk di depan Dewi adalah Dimas Subianto, seorang pengawas kelas dan juga mahasiswa yang pintar, hingga selalu mendapatkan nilai A dalam semua mata kuliahnya.
Dengan tendangan yang dikirimkan Dewi ke bangkunya, Dimas paham apa yang Dewi minta, ia segera membuka halaman buku tempat jawaban berada dan menggesernya ke samping agar Dewi dapat membacanya.
Senyum kepuasan tersungging di bibir Dewi ketika buku yang digeser Dimas terbaca olehnya. Banyak mahasiswa di kelas yang melirik ke Dewi secara diam-diam dan mendapati bahwa Dewi memang terlihat memukau.
Ia memiliki ciri-ciri yang menjadi impian banyak wanita, kulit putih yang sempurna, sepasang mata yang bulat dan terlihat polos, hidung mancung dengan bentuk yang indah, serta bibir merah yang lembut.
Meskipun wajah Dewi polos tanpa riasan, akan tetapi penampilannya tetap mempesona. Belum lagi sepasang kakinya yang jenjang dan ramping, sangat menarik bagi para pria yang memiliki kesempatan untuk melihatnya walau sekilas saja.
Jika saja prestasi akademisnya lebih baik, ia akan menjadi kandidat yang paling pantas untuk mendapatkan gelar 'Nona Universitas.'
'Baiklah, mari kita lihat di sini ...' Dewi berdiri dan berkedip ketika ia mulai membaca jawaban dari buku Dimas. "Keuangan adalah istilah luas yang mencakup dua aktivitas yang berkaitan yaitu: studi tentang bagaimana uang dikelola dan..."
Sebagai seorang profesor, Martaka jelas mengetahui trik yang sedang Dewi lakukan, dan ini membuatnya sangat marah. "Cukup!" Teriakan Martaka menggelegar di seluruh ruang perkuliahan, membuat yang hadir di dalamnya merasa ketakutan.
Para siswa dapat melihat bagaimana Martaka mati-matian berusaha menahan amarahnya.
Semua yang hadir merasa ketakutan dan terpaku di tempat duduknya, semua kecuali Dewi yang kemudian tersenyum kepada Martaka dan berkata, "Profesor Daliono, apakah jawaban saya tadi salah?"
Mendengar pertanyaan dari Dewi, wajah Martaka pun mulai memerah karena marah. Melihat hal itu Dewi mulai menyesali apa pun yang ia lakukan dan berusaha meminta maaf kepada Martaka. "Profesor Daliono, tolong jangan marah. Saya akan menghafal jawabannya sebelum jam kelas ini berakhir!" Dewi berjanji demi meredakan kemarahan profesor. Dewi bahkan memiliki beberapa orang yang ditakutinya, dan profesor Martaka adalah salah satunya, karena Dewi tahu, Kusuma adalah salah satu mantan murid Martaka.
Amarah perlahan hilang dari wajah Martaka dan ia menjadi lebih tenang setelah mendengar ucapan Dewi. Bagi Martaka, Dewi sebenarnya adalah gadis yang pintar. Jika saja ia bersedia memfokuskan perhatian dan pikirannya untuk belajar, ia bisa menjadi mahasiswa dengan nilai yang tinggi di kelasnya. Tapi, sebagai seorang profesor yang profesional, Martaka tidak bisa lebih mentolerir tindakan Dewi yang kurang ajar lebih jauh. 'Kamu tidak suka belajar? Boleh! Kamu gagal dalam banyak mata kuliah? Boleh!' Martaka kemudian menatap Dewi dengan tajam. 'Tapi tidak di kelasku!' Martaka bersumpah pada dirinya sendiri.
"Jika sekali lagi aku melihatmu tidur di kelasku, Jaya, Kristina, dan Kirani, mereka bertiga akan berdiri di bawah bendera!" Martaka menyatakannya dengan tegas. "Apakah kamu mengerti? !" Tiga orang yang namanya disebut mengeluh tak percaya atas pernyataan yang mereka dengar dari profesor.
'Kenapa kita yang harus menderita ketika Dewi yang melakukan kesalahan…' pikir mereka bertiga sepakat.
Alasan dibalik pernyataan Martaka ini adalah karena ia tahu betul bahwa Dewi sangat setia kepada kawan-kawannya. Menyakiti orang lain demi mendapatkan apa yang ia inginkan tak pernah ada dalam prinsip Dewi. Inilah salah satu kelebihan yang dilihat Martaka, yang dapat dimanfaatkannya untuk menghadapi sikap Dewi.
Menatap dengan tajam ke arah Martaka, Dewi mengutuk di dalam hatinya, 'Kenapa?! Kau sungguh licik... '
Dewi kemudian mengangkat kepalanya, dan dengan percaya diri ia menjawab, "Mengerti, Profesor Daliono. Anda tidak akan pernah menemukan saya tertidur di kelas Anda lagi." Duduk kembali di kursinya, Dewi kemudian mengambil penanya dan seakan menulis di buku catatan di depannya. Ekspresi kepuasan muncul di wajah Martaka melihatnya, ia mengira Dewi sedang sibuk mencatat apa yang dijelaskannya. Faktanya, Dewi hanya membuat coretan-coretan tak jelas di bukunya.
Ketika bel akhir mata kuliah berbunyi, Martaka mengucapkan kata-kata terakhirnya sebelum kemudian mengumpulkan barang-barangnya dan akhirnya meninggalkan ruangan perkuliahan.
Kelas pun secara resmi dibubarkan.
Saat Martaka telah pergi, beberapa teman pria dan wanita Dewi berkumpul di sekitar mejanya, dan mulai menyatakan protes tentang pernyataan sang profesor sebelumnya.
"Hei, Tomboi. Ada masalah apa kamu dengan Profesor Daliono?" tanya Jaya. Ekspresi frustrasi terlihat dengan jelas di wajahnya. 'Kenapa harus kita yang bertanggung jawab atas apa yang telah Dewi lakukan? Pria yang aneh, ' pikir Jaya dalam hatinya.
Dengan badan setinggi 210 sentimeter, Jaya adalah salah satu mahasiswa yang mendapat karunia berupa tinggi badan dan dianggap sebagai yang tertinggi di seluruh universitas. Sebagai tambahan, Jaya adalah salah satu teman baik Dewi, dan merupakan seorang pria yang murah hati.
"Dewi, kumohon jangan tidur di kelas Profesor Daliono lagi..." Kristina merengek sambil memegangi lengan Dewi dengan erat, memohon dengan sikap yang menawan. "Aku mohon padamu..." Kristina, teman baik Dewi lainnya, memiliki rambut panjang yang keriting dan tubuh yang mungil, dan selalu memancarkan pesona.
"Dewi, sebagai Nona Kamar 3301, aku tidak mau dipermalukan di depan umum seperti itu, mengerti?" kata Kirani, yang menyatakan dirinya sebagai gadis paling cantik di asrama.
Saat ini, Dewi sangatlah tak berselera untuk mendengar semua ocehan ini, akibat permintaan cerai yang sedang ia ajukan dan juga ciuman yang terjadi antara dirinya dan Kusuma. Suara bising di sekitarnya saat ini mulai membuatnya merasa kesal. Dengan tiba-tiba ia mengambil buku dengan tangannya, dan membantingnya dengan keras ke meja. Menimbulkan suara nyaring dan keras yang bergema di seluruh ruangan, dan membuat semua orang terkejut karenanya.
Semua yang masih ada di ruangan itu tahu, jika mereka coba melihat ke belakang, ke arah datangnya suara itu, mereka akan mendapatkan masalah dengan Dewi, hingga mereka pun diam saja. Tak ada satu pun yang berani berkomentar.
Merasakan suasana tegang yang terus meningkat, Kirani pun kemudian angkat bicara dengan tujuan meredakan ketegangan yang ada. "Hei, aku baru ingat. Sedang ada promosi besar-besaran di Plaza Cahaya Internasional hari ini! Apa kalian tertarik untuk pergi ke sana?"
Berdiri dan menghampiri Kirani dengan gaya centilnya, Dewi kemudian melontarkan senyum dan berkata, "Aku mau!" 'Mungkin hanya karena lipstik yang selama ini selalu dia inginkan…' pikir Kirani sambil memainkan matanya.
Sebagai teman yang begitu dekat, Dewi dan Kirani sudah saling memahami satu sama lain, luar dan dalam.
Untuk seorang Dewi yang biasanya terlibat dalam perkelahian dan gemar menenggelamkan dirinya dalam alkohol; ketertarikannya pada lipstik adalah sebuah hal yang sangat mengejutkan. Ia tak pernah peduli akan pakaian, karena ia terbiasa mengenakan pakaian santai. Akan tetapi, minatnya untuk mengumpulkan kaleidoskop lipstik adalah hal yang tak terbendung.
Di Plaza Cahaya Internasional.
Sekelompok sahabat itu akhirnya tiba dan berkumpul di Plaza Cahaya Internasional. Di dalam plaza itu terdapat begitu banyak keindahan untuk dilihat dan juga ditawarkan.
Plaza Cahaya Internasional terdiri dari tujuh bangunan, yang masing-masing bangunan itu dinamai dengan nama bintang-bintang yang membentuk konstelasi Biduk.
Nama ketujuh bangunan itu adalah Dubhe, Merak, Phecda, Megrez, Alioth, Mizar, dan Akaid.
Di puncak setiap bangunan, terdapat beberapa lampu, yang ketika malam tiba, lampu itu akan menyala. Jika orang melihatnya dari langit, maka lampu pada masing-masing gedung itu akan tersusun membentuk konstelasi Biduk. Sebuah tontonan yang menakjubkan.
Desain pencahayaan di dalam plaza pun telah dirancang untuk menyerupai langit yang penuh bintang, sehingga ketika Anda berjalan di dalamnya, seakan Anda sedang berjalan di atas lautan bintang. Tak heran jika banyak orang yang suka mengunjungi plaza ini, sebuah plaza yang dibalut konsep unik konstelasi perbintangan. Sehingga, plaza ini menjadi tempat yang sangat populer, apakah itu untuk berpacaran atau tempat untuk mengajak orang-orang tersayang jalan-jalan. Di plaza ini Anda dapat melihat beragam pengunjung dari segala usia, baik yang sedang berkumpul bersama keluarga atau berdua dengan pasangannya, dan memandang bintang dari dekat.