Browse stories

Ratu Tak Terbelenggu: Jangan Pernah Katakan Tidak

Language: id

Hanya butuh satu detik bagi dunia seseorang untuk runtuh. Inilah yang terjadi dalam kasus Hannah. Selama empat tahun, dia memberikan segalanya pada suaminya, tetapi suatu hari, pria itu berkata tanpa emosi ,"Ayo kita bercerai." Hannah menyadari bahwa semua usahanya di tahun-tahun sebelumnya sia-sia. Suaminya tidak pernah benar-benar peduli padanya. Saat dia masih memproses kata-kata mengejutkan itu, suara pria yang acuh tak acuh itu datang. "Berhentilah bersikap terkejut. Aku tidak pernah bilang aku mencintaimu. Hatiku selalu menjadi milik Eliana. Aku hanya menikahimu untuk…

Available chapters

  1. Chapter 1
  2. Chapter 2
  3. Chapter 3

Chapter 1

"Kita bercerai saja."

Dua lembar kertas yang tipis itu menandai berakhirnya pernikahan yang berlangsung selama empat tahun.

Jemari Hannah Maximo yang ramping menyentuh tanda tangan suaminya yang tertera di dokumen tersebut. Saat dia mendongak untuk menatap mata Dylan Edwards, air mata menggenang di matanya.

"Apa tidak ada peluang lagi bagi kita?" ucap Hannah dengan suara yang sedikit bergetar karena tertekan oleh emosi dan beban pekerjaan rumah tangga. Bulir-bulir keringat menempel di kening dan bingkai kacamatanya yang tebal dan berwarna hitam, sehingga dia tampak naif dan polos.

Karena Dylan mengatakan akan pulang malam ini untuk mendiskusikan masa depan mereka, Hannah bangun pagi-pagi dengan penuh harapan. Dia berbelanja di pasar, memasak, lalu membereskan seluruh rumah. Dia bahkan tidak sempat berhenti untuk beristirahat sejenak saat menunggu kabar yang membuat jantungnya berdegup kencang. Setelah mendengar kabar yang menyayat hati itu, usahanya terasa sia-sia

Sambil menjentikan abu rokok, Dylan berkata, "Pernikahan kita pada dasarnya adalah perjanjian bisnis. Ditambah lagi, Eliana akan segera kembali."

Jadi begitu. Eliana Patrizio, wanita yang menempati hati Dylan, adalah sosok yang tidak akan pernah bisa dia lepaskan.

Dengan bibir terkatup rapat, Hannah merasa frustasi seperti yang dia rasakan empat tahun yang lalu. Dia menundukkan kepala dengan berbagai macam pemikiran yang berkecamuk di benaknya. Setiap kali Eliana muncul, Dylan akan mengabaikan segalanya, bahkan prinsipnya sendiri.

Pada saat itu, Dylan menikahi Hannah karena dipaksa. Selama bertahun-tahun dia hidup bersama Hannah, Eliana tetap menempati hatinya.

Setelah keheningan yang seakan tidak ada habisnya, Dylan mengamati wanita di hadapannya.

Hannah memang sangat cantik, kulitnya halus dan lembut, hidungnya mancung, dan bibirnya merah merekah seperti kelopak mawar. Bahkan di balik kacamata yang berbingkai tebal, matanya sesekali berbinar di bawah cahaya. Namun, dia tidak terlalu bersemangat sehingga terasa begitu membosankan.

Hannah selalu bersikap lembut. Kepribadiannya sebagai istri yang berbakti selama ini terasa begitu hambar seperti segelas air. Walaupun cocok menjadi Nyonya Edwards, dia tidak akan pernah bisa menjadi wanita yang benar-benar diinginkan Dylan.

Dylan menekan puntung rokok di asbak dan memecah keheningan dengan berkata, "Sebelumnya kamu ...."

Saat Dylan berhenti sejenak, tanpa sadar tatapannya tertuju pada Hannah. Hannah terus menundukkan kepala sehingga membuat wanita itu terlihat seperti sedang memendam rasa sedih.

Dylan lanjut berkata dengan dingin, "Mengingat latar belakangmu, kamu mungkin akan kesulitan mencari pekerjaan di masa depan. Jadi, selain harta gono-gini, kamu akan mendapatkan tiga vila lagi. Kamu juga akan mendapat Ferrari edisi terbatas dan secara pribadi, aku juga akan memberimu uang sebesar seratus miliar."

Ketika Eliana pindah ke luar negeri, Dylan mengikuti wanita itu karena cinta. Mengetahui hal ini, kepala keluarga di Keluarga Edwards sangat marah sampai ingin mencoretnya sebagai anggota keluarga. Namun, yang membuatnya memutuskan untuk pulang ke keluarganya adalah ibunya yang bersikap begitu dramatis sampai mengancam ingin bunuh diri.

Demi mendapatkan kembali dukungan keluarganya, Dylan setuju untuk menikahi Hannah, yang dikabarkan baru saja dibebaskan dari penjara.

Meskipun sama sekali tidak memiliki perasaan terhadap Hannah, mengingat wanita itu telah mengabdikan diri selama empat tahun dan tidak pernah memiliki masalah dengan Keluarga Edwards, Dylan bersedia memberikan kompensasi dengan murah hati. Ini seperti memelihara kuda untuk bersenang-senang walaupun mengetahui ada biaya yang harus dibayar.

Dylan menunjuk surat perjanjian itu dengan jari telunjuknya yang panjang, di mana terdapat sebuah cincin penuh makna yang melingkar di jari itu selama empat tahun.

Melihat cincin itu, mata Hannah seakan tersengat.

"Kamu punya waktu tiga hari untuk memikirkannya, tapi jangan terlalu lama, kesabaranku ada batasnya."

"Tidak perlu," ucap Hannah sambil mengambil pena hitam di sampingnya, lalu membubuhkan tanda tangannya di tempat yang ditentukan dan lanjut berkata, "Aku adalah orang yang tahu diri. Hari ini juga, aku akan pindah dan tidak akan menghalangimu lagi."

Dylan mengangguk dan berkata, "Bagus."

Dylan harus mengakui, bahkan dalam situasi seperti sekarang ini, Hannah tetap tenang dan bijaksana seperti biasanya, sehingga tidak pernah membuatnya khawatir. Akan tetapi, takdir berkata lain, dia mencintai wanita lain.

Sebenarnya, sebagai Nyonya Edwards, bisa dibilang Hannah adalah istri yang paling cocok di mata publik. Sayangnya, cinta bukanlah sesuatu yang bisa dipaksakan.

Saat Dylan hendak membuka mulut, pintu terbuka. Sadie Edwards, adik perempuan Dylan, menerobos masuk dan berseru, "Kak Dylan, kudengar kamu akan menceraikan si narapidana hari ini. Apa boleh Ferrari edisi terbatas itu untukku?"

Ketika tatapannya bertemu dengan mata Hannah, yang baru saja menoleh untuk melihat siapa yang datang, Sadie langsung memutar bola matanya dengan cuek ke arah Hannah.

Dylan mengerutkan kening dan menegur, "Berapa kali aku harus mengingatkanmu? Ketika aku sedang mendiskusikan bisnis, kamu harus mengetuk pintu sebelum masuk. Apa pantas seorang sosialita bertingkah laku seperti itu?"

Sadie bersandar di meja sambil cemberut dan berkata, "Oke, oke, aku mengerti. Sekarang, berikan padaku kunci mobil itu. Aku mau pergi jalan-jalan bersama temanku."

Karena selalu memanjakan adiknya yang keras kepala, Dylan mengangkat dagu ke arah Hannah dan menyuruh, "Berikan kunci mobil itu padanya."

Hannah menunduk dan menjawab dengan nada datar, "Bukankah kamu bilang mobil itu untukku?"

Nada suara Hannah masih selembut biasanya, tetapi entah mengapa, itu terdengar dingin dan asing di telinga Dylan.

Marah, Sadie menerjang Hannah dan mendorongnya sekuat tenaga sambil menghardik, "Kamu bilang apa?! Semua yang ada di sini adalah milik kakakku. Bisa-bisanya kamu mengakui mobil itu untukmu? Serahkan kuncinya padaku!"

Selama bertahun-tahun menjadi bagian dari Keluarga Edwards, Hannah selalu memperlakukan Sadie dengan baik.

Sadie, yang suka berulah, selalu berlari mencari ibunya untuk meminta pertolongan ketika keadaan menjadi kacau.

Dulu, Sadie pernah menyinggung perasaan putri bungsu Keluarga Mitchell, sehingga dia ditawan di puncak menara oleh Bryson Mitchell, putra ketiga sekaligus kepala keluarga di keluarga tersebut. Jika bukan karena campur tangan Hannah, Sadie mungkin akan lumpuh seumur hidup jika didorong sampai jatuh dari tempat setinggi itu.

Namun, Sadie membalas kebaikan Hannah dengan menjulukinya sebagai si narapidana.

"Tidak," tolak Hannah dengan tegas, lalu dia melirik Dylan dan berkata, "Aku menginginkan mobil ini. Kamu sudah berjanji, Tuan Edwards. Bukankah kamu sangat murah hati? Lagi pula, ini hanya sebuah mobil."

Walaupun penampilan dan nada bicara Hannah masih lemah lembut, Dylan merasa wanita di hadapannya merupakan wanita berbeda dengan yang biasanya dia injak-injak selama ini.

Setelah terdiam sejenak, Dylan berkata pada Sadie dengan dingin, "Kita punya banyak mobil di rumah. Pergilah ke garasiku dan pilih satu untukmu."

Sadie adalah seorang gadis manja yang keras kepala. Kecuali saat dia berhadapan dengan Bryson, tidak ada seorang pun yang berani menantangnya, terutama wanita dengan riwayat kriminal seperti Hannah.

Sambil menuding Hannah dengan nada menuduh, Sadie berkata menuntut, "Kamu akan menyerahkan mobil itu padaku atau tidak?!"

"Tidak ...."

"Plak!" Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kanan Hannah.

"Berani-beraninya kamu bersikap kurang ajar padaku! Kamu pikir kamu siapa? Kamu bahkan tidak layak untuk mengelap sepatuku!"

Mata Dylan berkedip sesaat sebelum berkata dengan raut wajah datar, "Sadie, jaga mulutmu."

Sambil memegangi pipinya yang baru saja ditampar, Hannah melirik ke arah Sadie dan mencibir, "Sepertinya kamu harus diajari sopan santun."

Namun, Sadie malah semakin menjadi-jadi, dia mengangkat dagu ke arah Hannah dengan arogan dan menantang.

"Terus kenapa ... ah!"

Hannah langsung menyambar vas berisi bunga di dekatnya dan menumpahkan seluruh isinya ke kepala Sadie sambil berkata dengan sinis, "Kalau begitu, biar aku yang akan mengajarimu."

Chapter 2

"Dasar jalang gila!" jerit Sadie dengan histeris.

Mengabaikan sumpah serapah Sadie, Hannah segera keluar dari ruang kerja tanpa menoleh ke belakang.

Saat melangkah keluar dari rumah itu, Hannah menerima sebuah pesan di ponselnya.

Itu adalah pesan dari sahabatnya, Lydia Pravira, yang berbunyi, "Hannah, malam ini kamu benar-benar tidak pergi ke Bar Crimson? Sudah menikah bukan berarti kamu mengasingkan diri di rumah. Kamu tidak perlu meninggalkan teman-temanmu hanya demi Dylan, si brengsek itu! Ayolah! Kris bilang dia akan terus-menerus meneleponku jika kamu tidak kunjung memberi jawaban."

Hannah membalas, "Lydia, kamu benar."

Lydia mengetik, "Maksudmu?"

Hannah berbagi cerita, "Aku sudah bercerai dan mulai hari ini, aku akan kembali ke dunia nyata."

Setelah hening sejenak, kotak obrolan langsung dipenuhi dengan tanda seru. Hannah bisa merasakan betapa gembiranya Lydia.

"Sepuluh menit! Beri aku sepuluh menit saja! Aku akan berada di depan pintumu untuk merayakan kembalinya Yang Mulia!"

Bahkan setelah pintu ruang kerja dibanting hingga tertutup, Sadie masih tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Dia melampiaskan amarahnya pada Dylan dengan mengeluh, "Apa Kakak benar-benar akan membiarkan wanita jalang itu menginjak-injakku? Kakak harus segera menyeretnya kembali dan memberinya pelajaran. Aku ingin membalasnya dengan menyiram wajahnya!"

Dylan membentak dengan dingin, "Cukup! Lihat dirimu, di mana harga dirimu? Kamu adalah anggota Keluarga Edwards, bukan preman!"

Karena belum pernah ditegur oleh kakaknya seperti ini, Sadie sangat ketakutan sehingga dia tercengang untuk sejenak.

Setelah menyaksikan Dylan kembali asyik bekerja, Sadie membuka mulut dan bertanya dengan hati-hati, "Karena aku tidak bisa membawa mobil itu, bolehkah aku ikut pergi bersama Kakak ke pesta penyambutan malam ini? Aku sudah lama tidak bertemu dengan Eliana dan sangat merindukannya."

Dylan melambaikan tangan dengan cuek dan berkata, "Terserah padamu, jangan ganggu aku."

Menganggap kakaknya setuju, Sadie keluar dari kamar dengan riang.

Di dalam ruang kerja yang kini tenang, layar komputer memantulkan pupil Dylan yang tidak fokus. Meskipun dia berusaha fokus, bayangan Hannah menuangkan air ke kepala Sadie terus menghantuinya. Dia merasa sepertinya dia tidak pernah benar-benar mengenal istrinya.

Lydia, yang selalu sigap dan tegas, berjanji akan tiba di sana sepuluh menit kemudian. Namun, masih kurang dua menit dari waktu yang dijanjikan, dia sudah memarkir mobil Mercedes Benz-nya dan melangkah keluar sambil bersiul ke arah Hannah dan berkata, "Ini untuk merayakan kebebasan sahabatku!"

Sebelum Hannah sempat menjawab, Lydia menunjukkan sebotol sampanye dan mencungkil tutupnya sehingga isinya muncrat membasahi pakaian Hannah.

"Aku tidak sempat membeli confetti, jadi sampanye saja sudah cukup. Kuharap kamu tidak keberatan!"

Hannah menghela napas dan melemparkan tasnya ke kursi belakang. Tiba-tiba, sebuah kunci mobil muncul di depan matanya.

"Apa kamu ingin mengendarai mobil Mercedes Benz yang dimodifikasi ini? Kamu sudah tidak memegang setir selama empat tahun!"

Hannah menepis tangan Lydia dan duduk di kursi penumpang depan sambil berkata, "Sedang tidak ingin."

Lydia terkekeh dan menginjak gas sehingga mobil melesat keluar dari vila, lalu dia berkata dengan nada nakal, "Katakan padaku, apa yang membuatmu kembali tersadar setelah dimabuk cinta selama bertahun-tahun?"

Hannah menopang dagu dan tampak sedang melamun seakan mengucapkan selamat tinggal pada empat tahun terakhirnya sebelum dia menjawab, "Eliana sudah kembali."

Lydia menyeringai dan berkata, "Kamu dan Dylan adalah pasangan yang menarik, kalian sama-sama keras kepala. Aku sampai bertanya-tanya apakah kalian berdua harus mengikuti tes DNA untuk mengetahui apakah kalian mempunyai hubungan darah. Aku tidak habis pikir kenapa kalian sama-sama menyukai orang seperti sampah."

Pada saat Lydia terus mengoceh, pikiran Hannah melayang ke tempat lain. Walaupun hanya memiliki ingatan yang samar tentang Eliana, ini berdampak besar bagi Hannah. Seingatnya, Eliana adalah wanita yang lembut, perhatian, dan bijaksana.

Hannah menghabiskan empat tahun penuh untuk mencoba meniru gambaran ini. Dia meniru potongan rambut Eliana yang hitam dan lurus, gaya berpakaiannya, dan cara bicaranya yang lembut dan halus, demi menarik perhatian Dylan. Sayangnya, yang palsu akan tetap palsu.

Sambil sedikit menguap, Hannah menjawab dengan malas, "Mungkin karena tidak akan ada yang jatuh cinta pada seorang mantan narapidana."

Lydia memutar bola matanya ke atas dan berkata, "Oh, jangan katakan omong kosong itu lagi. Jika bukan karena adik tirimu yang gila telah menyebarkan kebohongan bahwa kamu dipenjara, padahal kamu sedang menjalani pelatihan di tempat terpencil di Summerdell, menurutmu apa Dylan akan berani bertindak begitu berani? Omong-omong, karena sekarang kamu sudah bebas setelah bercerai, apa kamu tertarik mengikuti balapan mobil minggu depan?"

"Tidak dulu, aku sedang tidak ingin keluar," jawab Hannah sambil bersandar dan menopang kepala dengan satu tangan.

Sambil menatap Hannah dengan skeptis, Lydia bertanya, "Kamu tidak sedang meratapi rumah tanggamu yang kandas, kan?

Hannah tidak menjawab, tetapi Lydia langsung bisa menebak jawabannya dari suasana hatinya yang menurun drastis.

Lydia ingin sekali mengomeli Hannah, tetapi tiba-tiba dia teringat sesuatu sehingga dia berkata dengan mata berbinar, "Moonshadow akan ada di sana! Apa kamu mengingatnya? Dia satu-satunya pembalap yang sanggup bersaing denganmu. Apa kamu tidak ingin mengetahui sosok di balik topeng itu?"

East Coast Racing adalah kompetisi balap bawah tanah berskala besar yang diikuti oleh para pencari sensasi dan pecandu adrenalin dari kalangan atas. Setiap pembalap telah memodifikasi mobilnya, tingkat persaingan begitu ketat sehingga mereka dapat mempertaruhkan nyawa jika tidak berhati-hati.

Untuk menjaga kerahasiaan data peserta, pihak penyelenggara mewajibkan para peserta untuk mengenakan topeng. Satu-satunya tujuan adalah menang atau kalah, tidak peduli siapa yang berada di belakang kemudi. Namun, ada satu pengecualian. Seorang pembalap bisa langsung menantang pembalap lain. Yang kalah dalam balapan tersebut harus membuka topengnya yang berarti mereka harus meninggalkan sirkuit.

Dengan kilatan di matanya, tiba-tiba Hannah menjadi bersemangat. "Oke, kita bisa pergi melihatnya." Kemudian, dia menunduk dan menarik ujung bajunya sambil lanjut berkata, "Tapi aku harus mengganti pakaianku terlebih dahulu."

Mengamati pakaian yang dikenakan Hannah, Lydia menyeringai dan berkata, "Apa kamu akan mengganti dengan daster lainnya? Jika kamu datang ke bar dengan pakaian seperti ini, orang akan mengira aku telah menculik seorang ibu rumah tangga!"

Hannah mengangkat alis dan membantah, "Siapa yang bilang aku mau mengganti baju dengan daster?"

Sekitar setengah jam kemudian, mereka melangkah masuk ke Bar Crimson.

Di lantai atas, perhatian kerumunan pengunjung, yang sedang asyik menongkrong dan minum-minum, teralihkan pada seorang wanita yang duduk di pojok.

Wanita itu mengenakan gaun panjang berwarna merah menyala dengan rumbai pada tepi gaun yang mengingatkan pada aktris seksi yang membintangi film zaman dulu.

Lydia pun berkomentar, "Sudah lama sekali kamu tidak mengenakan pakaian semencolok ini! Tubuhmu sangat seksi, tapi kamu selalu mengenakan pakaian kantor yang membosankan atau daster. Seolah-olah kamu adalah pekerja di rumah Keluarga Edwards."

Hannah hanya tersenyum lembut tanpa membalas.

Pada awal pernikahannya, Hannah berusaha tampil cantik dengan bangun pagi-pagi untuk merias wajah dan mengenakan gaun yang anggun. Namun, dia malah ditegur oleh ibu Dylan karena dianggap terlalu mencolok dan tidak menunjukkan nilai sebagai wanita baik-baik. Di mata mertuanya, sebagai istri yang baik, dia harus melakukan pekerjaan rumah tangga dan berpakaian layaknya ibu rumah tangga. Dylan, yang menyaksikan hal ini, justru membela sang ibu dengan mendiamkan hal ini.

Namun, hari-hari itu telah berlalu. Kini, setelah terbebas dari kekangan Keluarga Edwards, dia bisa berdandan sesuai keinginannya.

Saat mereka sedang asyik mengobrol, tiba-tiba ponsel Lydia berdering. Melihat identitas sang penelepon, ekspresinya segera berubah. Dia melambaikan ponselnya ke arah Hannah dan berkata, "Aku harus menjawab panggilan telepon ini, jadi aku keluar dulu."

Tidak lama setelah Lydia pergi, Hannah menyeka wine yang tumpah sedikit di punggung tangannya.

Tiba-tiba, sebuah tangan yang besar mencengkeram bahunya, diikuti dengan suara yang berkata, "Hei cantik, apa kamu sendirian? Apa mau kami temani?"

Chapter 3

Ketika Dylan dan Sadie tiba di Bar Crimson, Eliana dan teman-temannya sudah menunggu di sebuah bilik dari tadi.

"Kak Eliana, aku sangat merindukanmu!" seru Sadie sambil memeluk Eliana dengan dramatis dan manja.

Eliana menepuk kepala Sadie dengan lembut dan berkata, "Kenapa kamu masih bertingkah seperti anak kecil?" Kemudian, dia melirik pria berwajah tegas yang duduk di seberangnya dan berkata dengan penuh arti, "Tapi sepertinya hanya kamu yang mengingatku."

Sadie langsung menegakkan tubuh dan buru-buru menjelaskan, "Apa kamu bercanda? Kakakku juga sangat merindukanmu. Saat mengetahui kamu akan pulang, dia langsung menceraikan istrinya!"

Ucapan itu langsung disambut oleh teriakan yang riuh oleh teman-teman mereka, dan Eliana tidak bisa menahan diri untuk tersenyum.

Wanita yang memenuhi benak Dylan siang dan malam kini duduk di hadapannya dan sedang menatap tajam ke arahnya dengan penuh kehangatan. Namun entah mengapa, ada kegelisahan yang menggerogoti hatinya.

Saat Dylan hendak berbicara, salah satu temannya tiba-tiba berteriak, "Sial! Dylan, bukankah itu istrimu?"

Dylan segera menoleh dan melihat Hannah, yang terlihat begitu bersinar dengan rambut yang bergelombang, riasan menawan, dan gaun berwarna merah yang selain terlihat mencolok, juga menonjolkan pinggangnya yang ramping dan memamerkan kakinya yang jenjang. Bahkan dari kejauhan, dia terlihat sangat menakjubkan.

Hannah sedang dikelilingi oleh seorang pria gendut yang memimpin sekelompok berandalan, sehingga dia terlihat gelisah.

"Hei, bukankah itu Carlos yang terkenal sebagai pria hidung belang dari Keluarga Bastian? Jika Hannah jatuh ke tangannya, tamatlah dia!"

"Mungkin dia menyukainya. Maksudku, mana mungkin wanita baik-baik datang ke bar dan berpakaian seksi seperti itu? Dia pasti sedang memancing para pria!"

"Aku tidak menyangka istrimu seksi sekali. Dia selalu terlihat culun, jadi siapa yang menyangka ternyata dia seseksi ini?"

Sadie langsung menimpali, "Dia pasti sengaja berpakaian seperti pelacur untuk berburu pria. Dia baru saja dicampakkan kakakku. Jika dia tidak berusaha keras, siapa yang mau bersamanya?"

Lelucon itu langsung disambut dengan tawa teman-teman mereka.

Entah mengapa, Dylan merasa tersinggung dengan ucapan Sadie sehingga dia membentak dengan sekuat tenaga, "Diam!"

Seketika, ruangan menjadi sunyi.

Sambil menatap tajam ke arah Sadie, Dylan membentak, "Jika tidak bisa menjaga sikapmu, kamu harus sekolah lagi untuk belajar sopan santun daripada membuang-buang waktu bergaul dengan teman-teman yang tidak berakhlak."

Saking terkejutnya, Sadie hampir menangis.

Eliana mengulurkan tangan dan menggenggam tangan Dylan dengan lembut. Ketika Dylan menoleh ke arahnya, dia segera menghibur pria itu dengan berkata, "Sadie masih remaja, jangan terlalu keras padanya."

Setelah berhenti sejenak, dia melirik ke arah Hannah, yang berada tidak jauh dari situ, dan lanjut berkata, "Ini salahku. Jika aku tidak pulang untuk merebut posisi Hannah, dia tidak akan bertindak senekat ini."

Dengan raut wajah semakin suram, Dylan berkata, "Dia sendiri yang memutuskan untuk bertindak seperti ini. Tidak ada yang memaksanya."

Karena kesabarannya sudah habis, Hannah menepis tangan Carlos yang gemuk dan membentak dengan nada dingin, "Enyahlah!"

Ditolak di hadapan gengnya, Carlos, yang merasa malu sekaligus frustasi, semakin kurang ajar. Dia melingkarkan lengannya di pinggang Hannah yang ramping dan bersiap mencium wajah wanita itu dengan bibirnya yang berwarna ungu gelap dan tebal sambil berkata, "Karena kamu sok jual mahal, aku akan menciummu dengan paksa!"

Melihat bibir pria itu mulai mendekati wajahnya, Hannah tersenyum mengejek. Dia mengambil sebuah botol bir yang tergeletak di atas meja di dekatnya dan menghantamkannya ke kepala Carlos tanpa ragu.

Prang!

Suara botol pecah itu membelah di tengah musik bar yang berdentum-dentum.

Tidak mengantisipasi gerakan ini, Carlos langsung tumbang. Dia memegangi kepalanya yang berlumuran darah dan pecahan kaca sambil meraung, "Brengsek! Dasar wanita jalang! Beraninya kamu memukulku?"

Hannah bangkit berdiri dengan percaya diri, lalu mengarahkan leher botol pecah yang bergerigi tajam itu ke arah Carlos sambil menyeringai dan berkata dengan dingin, "Coba sentuh aku lagi dan lihat apakah aku berani melumpuhkanmu di sini sekarang juga!"

Carlos menggertakkan gigi dan berkata, "Apa kamu tahu siapa aku? Kakakku adalah bos dari Grup Bastian. Hanya dengan mengucapkan sepatah kata, aku bisa membuatmu hanya tinggal nama di Kota Valmere! Camkan itu!"

Tanpa menghiraukan Carlos, Hannah melempar sisa botol di tangannya, lalu mengobrak-abrik tas Hermes Birkinnya dalam diam.

Melihat Hannah terdiam cukup lama, Carlos mengira wanita itu ketakutan setelah mengetahui identitasnya sehingga dia semakin sombong. "Aku belum selesai denganmu. Dengan luka seperti ini, aku bisa menghancurkanmu dan membuatmu jatuh miskin. Setelah ini, aku akan menjalani pemeriksaan kesehatan. Omku mempunyai kenalan polisi. Aku cukup meneleponnya dan kamu akan dijebloskan ke penjara selama dua minggu."

Saat melihat Dylan bangkit berdiri, Sadie mencengkeram lengan bajunya dan menatapnya dengan tidak percaya sambil bertanya, "Kak Dylan, apa yang hendak Kakak lakukan? Kakak tidak akan pergi untuk melindunginya, kan?"

Dylan menepis tangan Sadie dengan cuek dan berkata, "Karena masih dalam proses bercerai, dia masih istri sahku. Menghinanya sama saja dengan menghina Keluarga Edwards."

Masih ingin mencegah kakaknya, Sadie berkata, "Tidak ada seorang pun di sini yang mengetahui bahwa dia adalah anggota Keluarga Edwards. Dia pantas mendapatkan semua itu, jadi Kakak tidak perlu ikut campur."

Namun, begitu melihat betapa suramnya mata Dylan, Sadie langsung bungkam.

Eliana menyela, "Biar aku saja yang menangani ini. Aku pernah bekerja sama dengan kakak Carlos. Memandangku, mereka tidak akan mempersulit Hannah."

Menyadari Dylan akan menolak, Eliana menambahkan dengan lembut, "Urusanmu juga urusanku."

Detik berikutnya, Hannah mengeluarkan segepok uang dari tasnya dan melemparkannya ke wajah Carlos.

Srek!

Sejumlah uang kertas berjatuhan dari lantai dua dan memenuhi udara.

Saat bersandar di pagar balkon yang rendah, Hannah tampak akan terjatuh dari lantai dua kapan saja. Di tengah hujan uang yang beterbangan, dia berdiri dengan mengenakan gaun merah sehingga terlihat semakin mencolok.

Hannah menoleh ke pria di hadapannya dan berkata dengan senyuman memesona yang menghiasi bibirnya, "Apa ini cukup untuk menutupi kerugianmu?

Saking marahnya, Carlos memelototi Hannah sambil berteriak pada gengnya yang berdiri di belakangnya, "Tangkap dia! Aku akan menghabisinya! Mari kita lihat apakah dia masih berani bersikap sombong!"

Saat anak buah Carlos hendak menyerang, tiba-tiba mereka menghentikan langkah mereka begitu terdengar suara wanita dari belakang mereka yang berkata dengan lantang, "Siapa yang ingin kamu habisi? Aku ingin melihat siapa yang berani menyentuh temanku di depan mataku."

Melihat Lydia berjalan ke sisi Hannah dengan tongkat baseball di tangan, ekspresi Carlos berubah drastis.

Lydia membalas tatapan Carlos dengan senyum mengejek, seolah-olah sedang melihat seonggok sampah dan mencibir, "Ketika melihatku, kakakmu pun harus hormat padaku. Beraninya kamu meneriaki temanku?"