Browse stories

MY BEST PARTNER

Language: id

Dua orang yang terjebak dalam hubungan pertemanan. Keduanya mencintai, tapi sama-sama tidak ingin mengakui. Hari-hari mereka hanya diisi perdebatan, perkelahian, dan adu mulut. Keduanya tak pernah akur, bagaikan air dan api. Hingga suatu ketika, kesalahan satu malam membuat hubungan keduanya berubah 180°. Keduanya menjadi saling bergantung satu samalain, saling membutuhkan dan saling menginginkan di setiap tarikan nafas.

Available chapters

  1. Chapter 1
  2. Chapter 2
  3. Chapter 3

Chapter 1

Selamat membaca♡

🦋🦋🦋

Sabtu malam yang seharusnya menjadi malam romantis bagi setiap pasangan yang tengah memadu kasih, berubah menjadi sebuah petaka bagi wanita cantik bersurai panjang dan halus yang tengah menangis sesenggukan di dalam sebuah HR-V merah. Dia adalah Resna Anggraini Batya—seorang wanita cantik berusia dua lima yang berprofesi sebagai staf keuangan di salah satu perusahaan bernama Asgard Enterprises. Perusahaan yang bergerak di bidang properti dan pariwisata, yang merupakan anak perusahan dari Agnibrata group. Perusahaan raksasa milik konglomerat Rudi Agnibrata yang memiliki putra bernama Barra Agnibrata, dan Asgard Enterprises sendiri di kelolah oleh anak angkat Rudi Agnibrata yaitu Marcell Damarius Godwin.

Beberapa menit lalu dia baru mengakhiri kisah cintanya dengan sang kekasih yang merupakan seorang dokter gigi di salah satu rumah sakit swasta. Hubungan yang sudah berjalan kurang lebih satu tahun tersebut harus kandas lantaran si dokter gigi bernama Nicko berselingkuh dengan dokter Lusi yang merupakan dokter di klinik kecantikan langganan nya.

Perselingkuhan itu diketahui oleh Resna saat Nicko sedang ke toilet dan meninggalkan ponselnya di atas meja. Saat itu ponsel milik Nicko mendapatkan banyak sekali notifikasi pesan di WhatsApp. Sebenarnya Resna bukan tipe wanita yang suka memeriksa ponsel milik kekasihnya, dia adalah wanita yang tak suka mencampuri urusan pribadi siapapun termasuk Nicko yang berstatus sebagai kekasihnya bahkan kabarnya sebentar lagi mereka akan bertunangan.

Namun entah dorongan apa yang membuat Resna begitu nekat mengambil ponsel milik Nicko yang kebetulan memiliki pasword tanggal lahirnya. Resna penasaran terhadap siapa yang mengirim pesan begitu banyak pada Nicko. Tak mungkin pasiennya, karena ponsel ini adalah ponsel pribadi.

Dan setelah melihat siapa si pengirim pesan dan membaca isinya, mendadak seluruh tubuh Resna terasa lemas seperti semua tulang-tulangnya di lolosi.

Dokter Lusi
Sayang..
Nicko, sayang!!
Nicko kamu nyebelin!!
Pasti kamu sama Resna, iya kan?! Oke, setelah selesai urusan kamu sama Resna, jangan lupa langsung ke apartemen ku. Aku tunggu!
Love you babe❤️

"Sayang ngapain buka handphone aku?” suara Nicko terdengar dari belakang dan tangannya langsung menyambar ponsel di tangan Resna.

"Jadi selama ini kamu sama dokter Lusi—“ Resna tidak sanggup melanjutkan pertanyaan, ini terlalu menyakitkan untuknya.
"Aku jelasin—"

Resna menggeleng dengan air mata yang sudah mengucur deras di pipi. Baginya tak ada yang perlu di jelaskan lagi, semuanya sudah amat sangat jelas baginya.

"We're done!"

Ucap Resna tanpa pikir panjang, dan tanpa menanti respon dari Nicko, wanita itu melangkah menjauh dan meninggalkan pria yang kini berstatus sebagai mantan kekasihnya yang masih diam mencerna apa yang baru saja Resna ucapkan padanya.

Kekasihnya baru saja mengakhiri kisah cinta mereka yang baru akan menapaki langkah lebih jauh karena kesalahannya.

° ° ° °

Dan di dalam mobil Resna masih terus menangis. Dia benar-benar merasa hatinya remuk dan hancur karena perselingkuhan yang dilakukan oleh Nicko. Resna benar-benar tak menyangka jika kekasihnya, ah tidak lebih tepatnya mantan kekasih menjalin hubungan dengan dokter yang selama ini selalu menangani wajah Resna agar tetap cantik.

Selama ini Nicko memang selalu mengantarkan Resna setiap kali akan melakukan perawatan wajah. Dan mungkin dari situlah keduanya bisa menjalin hubungan gila dibelakang Resna.
“Nicko brengsek!!” umpat Resna memukul kemudi mobilnya yang tak bersalah.

Pikiran Resna kacau, semua nampak runyam dan membuat kepalanya seperti akan meledak. Dia tak ingin pulang malam ini, dia butuh tempat untuk bercerita dan berbagi kesedihan yang tengah melanda.

Dan tiba-tiba pikirannya tertuju pada satu nama yang merasuki otak cantiknya begitu saja. Resna memutar balik mobilnya menuju sebuah gedung tinggi yang sudah ia lewati karena menurutnya tempat itu adalah pilihan paling tepat untuknya yang sedang dalam keadaan kacau balau.

🦋🦋🦋

Chapter 2

Ahhhh.. pelan-pelan bego!, Sakit!" Erang seorang wanita saat dia merasakan sesuatu sedang berusaha menerobos pusat dirinya.

"Lo virgin?" Tanya seorang pria yang tengah berusaha memasukkan adik kesayangannya ketubuh wanita yang kini terlentang dibawah kuasanya.

Mata wanita itu membelalak hingga sepertinya sebentar lagi akan keluar dari sarangnya. "Gila lo ya! Lo pikir gue sejalang itu?!" kesal dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh pria yang kini menjadi partner ranjangnya. Dia pikir dia wanita apa hingga pria itu begitu terkejut saat mengetahui dirinya masih perawan.

"Bukan gitu. Ngeliat jam terbang lo yang sering keluyuran ke club bikin gue nggak percaya aja kalo lo masih virgin."

"Lo mau diem atau gue pulang sekarang?!" ancamnya serius.

"Jangan!" sedetik kemudian tanpa basa basi, pria itu langsung melesakkan miliknya kedalam pusat tubuh wanita itu, dengan sekali hentak saja, miliknya yang cukup besar dan panjang sudah membuat tubuh wanita itu terasa penuh.

"Ahhh.."

"Ahhh.."

Desahan keduanya terdengar seirama, wanita itu memejamkan mata merasakan sesuatu memenuhi dirinya. Ini baru pertama kali untuknya. Dia butuh menyesuaikan dengan benda asing yang kini ada dalam tubuhnya.

Sesuatu berwarna merah mengalir dari bawah sana. "Sakit? Sorry." ucap pria itu seraya menghapus air mata yang keluar dari kedua sudut mata indah wanita itu. "kita stop sampe sini aja?"

Tiba-tiba mata wanita itu terbuka lebar. "Ck! Bego lo! Udah telat kalo lo mau stop. Udah ilang keperawanan gue, nanggung kalo nggak diterusin.." gerutu wanita itu kesal. Bagaimana mungkin mereka akan mengakhiri ini begitu saja ketika dia sudah merelakan sesuatu yang paling berharga dalam dirinya kepada pria yang kini tengah menyeringai diatasnya.

"Kan bukan gue yang minta. Lo sendiri yang ngasih secara suka rela sama gue karena patah hati " dengan nada mengejek pria itu mengucapkan kalimat yang membuat wanita dibawahnya semakin geram.

"Rangga..!!! Bangsat lo!" rintih wanita ketika merasakan sesuatu dibawah sana mulai bergerak maju mundur secara perlahan. Ia mengerang sakit dan nikmat secara bersamaan.

"You like it, Resna Anggraini?" masih sambil menggerakkan pinggulnya perlahan, tak ingin menyakiti wanita yang tengah merintih nikmat di bawah tubuhnya.

Resna diam memejamkan mata. Tak mampu menjawab pertanyaan yang terlontar dari bibir Rangga yang kini sudah sibuk menjelajah lekukan leher hingga dadanya. Meninggalkan jejak-jejak percintaan di area bagian atas tubuhnya.

Resna mencengkeram bahu lebar milik Rangga ketika Rangga mulai menambah tempo gerakannya. Dia tak pernah merasakan ini sebelumnya.

Dia tak pernah menyangka jika pria yang mengambil harta berharganya adalah seorang Rangga. Sahabatnya sejak dia masuk ke Asgard enterprise empat tahun lalu.

"Ahhh.. Rangga.."

Desahan-desahan terdengar begitu riuh di sebuah kamar apartemen mewah milik Rangga. Aroma percintaan menguat begitu kental diruangan itu.

Sesekali Resna memekik saat Rangga mempercepat gerakan pinggulnya atau mengubah posisi mereka.

Tubuh keduanya melebur bersama. Saat gelombang itu datang. Resna terkulai lemas. Sedangkan Rangga tersenyum puas. Ia merasa beruntung menjadi orang pertama buat Resna.

•••

Matahari telah bangun dari peradaban nya. Memancarkan sinar dengan angkuhnya hingga menyusup ke celah-celah tirai putih sebuah kamar di gedung tinggi. Namun, sama sekali tak menganggu kedua anak manusia yang masih setia bergelung dibawah selimut tebal berwarna abu-abu tanpa sehelai benang pun.

Sepertinya mereka kelelahan setelah melakukan adegan panas semalaman suntuk. Beruntung ini adalah hari libur jadi mereka tak harus bersusah payah bangun pagi dan pergi ke kantor.

"Engghhhh.." sebuah lenguhan keluar dari bibir si wanita yang tertidur nyenyak di pelukan pria itu dengan lengan si pria yang ia jadikan sebagai bantal.

Wanita yang tak lain adalah Resna membuka mata. Dia terbelalak kaget saat melihat keadaannya yang kini telanjang. Dan lebih mengejutkan lagi, kenapa dia bisa tidur disini, di apartemen milik Rangga dengan tubuh telanjang.

"Shit!" gerutunya pelan saat dia mengingat apa yang terjadi semalam antara dirinya dan Rangga. Kenapa bisa dengan bodohnya dia menyerahkan hartanya pada si curut sialan ini, walaupun dia akui Rangga lumayan tampan dan semalam dia terlihat begitu gagah saat memanjakan tubuhnya.

Rangga benar-benar tau bagaimana caranya memperlakukan wanita, apalagi seperti dirinya yang baru pertama kali melakukan hubungan sex.

Rangga memperlakukan nya dengan lembut, memberi sentuhan memuja di tiap jengkal bagian tubuhnya, membuatnya mendamba akan sentuhan pria itu.

Benar-benar pemain wanita! Batinnya.

"Morning.." tiba-tiba suara serak khas orang bangun tidur membuyarkan lamunan nya, membuat Resna mendongak agar bisa melihat wajah pria yang semalam berhasil membuatnya bertekuk lutut pada pesonanya.

"Hmm.." hanya sebuah gumaman yang bisa Resna berikan sebagai respon karena dia masih sangat malu dengan kejadian semalam.

Rangga membuka matanya perlahan dan langsung mendapati wajah Resna yang merona. Apakah wanita itu malu? Dia tersenyum melihat hal itu. "Kenapa lo?" tanya nya pada Resna yang kini membenamkan wajahnya di ketiak Rangga. Satu hal yang baru Rangga tau, ternyata Resna lebih senang tidur dengan membenamkan wajahnya di ketiak, berbeda dengan wanita-wanita sebelum nya yang pernah Rangga jadikan teman tidur, mereka lebih suka membenamkan wajah di dadanya.
She is different batin Rangga.

"Res-"

Masih tak ada jawaban yang keluar dari bibir Resna yang semalam tak berhenti mengeluarkan suara desahan dan berkali-kali memanggil namanya saat merasakan gelombang panas yang menghampiri mereka.

Rangga tak menyangka dirinya bisa mendapatkan pelepasan berkali-kali saat bercinta dengan wanita yang selalu berkata kasar tanpa dipikir lebih dulu.

Tapi tunggu, bercinta. Benarkah semalam mereka bercinta, atau yang benar mereka hanya melakukan hubungan sex saja tanpa ada feeling sama sekali diantara keduanya?

Sepertinya opsi kedua adalah yang paling benar, mengingat semalam hal itu terjadi karena Resna yang sedang patah hati dan entah kerasukan setan jenis apa hingga membuatnya menyerahkan diri pada Rangga.

*Flasback on*
"Rangga buka pintunya, brengsek!!"

KLEK

Rangga terkejut ketika membuka pintu, dirinya melihat Resna dengan penampilan yang kacau. Rambut berantakan, maskara yang sudah luntur hingga membuat area matanya menghitam seperti hantu, serta air mata yang mengalir deras dari pelupuk matanya.

Tanpa di duga Resna langsung memeluk tubuhnya dengan begitu erat hingga dia sesak nafas. "Res, what's wrong? Are you okay?" tanya nya dengan suara sedikit dipaksa karena pelukan Resna benar-benar membuatnya sulit bernafas.

"Gue putus sama Nicko.." dengan isakan yang terasa menyedihkan bagi siapa saja yang mendengar, Resna mengatakan hal itu pada Rangga.

Resna yang dia kenal tak pernah sekalipun sampai seperti ini ketika dia putus dengan kekasihnya. Tapi kali ini yang terjadi malah sebaliknya.

"Gue di putusin sama Nicko. Dia-" suaranya bergetar membuat Rangga merasa miris.

"Sstt.. oke. Tenangin diri lo dulu baru nanti cerita" Rangga mengusap pelan punggung Resna. Wanita yang biasanya angkuh dan selalu mengeluarkan kata-kata pedas seperti petasan, malam ini menjadi sangat rapuh dengan isakan yang menyayat hati.

Rangga membawa Resna masuk kedalam apartemen nya yang terbilang cukup mewah. Dia mendudukkan Resna di sofa hitam yang terdapat di ruang tamu apartemen nya. "Tunggu bentar, gue ambil minum dulu." Rangga bergegas mengambilkan minum untuk Resna agar membuat wanita itu sedikit tenang.

Tak lama Rangga sudah kembali dengan segelas air putih di tangannya. Dia memberikan gelas tersebut pada Resna yang langsung diterima dan diminum hingga menyisahkan setengah nya.

"Udah bisa cerita?" Rangga bertanya dengan hati-hati. Sebenarnya Rangga sangat ingin menertawakan penampilan Resna yang sangat kacau. Ini pertama kalinya dia melihat Resna seperti ini. Tapi melihat keadaannya sepertinya tidak mungkin. Dia masih cukup waras untuk mengerti situasi dan kondisi.

"G-gue p-putus sama Nicko.."

"Iya. Tadi lo udah bilang pas di depan pintu." Rangga menjawab sambil jari telunjuknya menunjuk kearah pintu. Tempat dimana tadi Resna memeluk nya dan mengatakan jika dirinya putus dengan kekasihnya. Nicko. Seorang dokter gigi di sebuah Rumah sakit besar di kota tempat mereka tinggal.

Resna membersit hidungnya dengan ujung baju yang dia kenakan hingga menampilkan perut ratanya yang membuat Rangga menelan ludah dengan jakunnya yang naik turun.
*Flasback off *

"Lo tidur atau pingsan?"

"Rangga, diem!" dengus Resna dengan wajah yang masih berada di ketiak Rangga.

Rangga tertawa melihat tingkah Resna yang seperti anak remaja yang malu-malu. "Lo malu gara-gara kejadian semalem?" masih dengan tawanya yang begitu lantang membuat Resna gemas lalu mencubit pinggang Rangga dengan begitu keras.

"Awh aduh! Bego banget sih lo, Res. Sakit tolol!" sambil mengusap-usap bagian pinggangnya yang sepertinya akan meninggalkan jejak warna biru, karena bisa dipastikan Resna mencubitnya dengan menggunakan kuku nya yang sepanjang dua meter.

"Mulut lo nggak bisa diem!"

"Ck.. gue kan cuma nanya, nggak usah nyubit juga sakit anjir. Potong kuku lo itu, banyak setannya kalo kuku panjang-panjang! Nggak pernah ngaji lo ya waktu kecil makanya nggak tau?!" sepertinya Rangga sudah benar-benar gila dan tak sadarkan diri saat mengatakan hal itu.

"Berisik lo!"

Hening beberapa saat, hanya ada suara deru nafas mereka berdua yang terdengar diruangan dingin itu.

"Res.."

"Ya ampun apa lagi sih, gue ngantuk?!" raung Resna keras.

Rangga terkekeh. "Lo nggak papa? Maksud gue-" tiba-tiba Resna membekap bibir milik Rangga dengan bibirnya, hanya menempel saja. "Please.. gue nggak papa. Persis sama apa yang lo bilang semalem, ini gue yang minta jadi nggak usah ngerasa bersalah gitu." ucap Resna pelan dengan bibir yang masih menempel dengan Rangga.

Perkataan Resna barusan justru membuat Rangga menyeringai licik bak iblis.

"Emang siapa juga yang ngerasa bersalah?" sungguh tak terduga Rangga akan memberikan jawaban seperti itu, membuat Resna kesal lalu berniat menjauhkan bibir mereka namun gerakannya tertahan oleh tangan Rangga yang kini menahan tengkuknya.

Resna diam merasakan bibir Rangga melumat bibirnya lembut sama seperti apa yang pria itu lakukan semalam. Resna terbuai hingga mengeluarkan sebuah erangan halus, namun tiba-tiba Rangga melepaskan ciumannya, membuat Resna merasa kosong seketika. "Gue sama sekali nggak ngerasa bersalah. Gue malah bangga karena gue jadi yang pertama, bahkan mungkin kedua, ketiga atau malah yang terakhir." setelah mengatakan hal yang membuat Resna melayang tinggi, Rangga kemudian kembali melumat bibir Resna dengan sedikit kasar..

Oh Rangga sangat bahagia pagi ini..

Jangan lupa sampaikan terimakasih pada Nicko yang telah memutuskan hubungannya dengan Resna, si mulut karet dua yang pedas nya mengalahkan pedas sambal di rumah makan favoritnya.

Chapter 3

"Lo mau pulang atau nginep lagi disini?" Rangga bertanya pada Resna yang kini sedang memasak sarapan, ah bukan sarapan lagi, tepatnya makan siang. Karena saat ini sudah pukul setengah dua belas siang, tadi pagi setelah perdebatan kecil mereka yang berkahir dengan morning sex dan membuat Resna amat sangat lelah karena dua kali diterbangkan ke nirwana oleh Rangga, akhirnya mereka memutuskan tidur kembali selama beberapa jam.

Sebenarnya Resna saja yang tidur, sedangkan Rangga hanya diam dan sibuk memperhatikan wajah peluh milik Resna dengan rambut panjangnya yang berantakan membuat wanita itu terlihat semakin cantik dari biasanya.

Ternyata benar apa yang orang-orang katakan, jika wanita akan semakin terlihat cantik setelah melakukan hubungan sex.
Yah.. mungkin hal itu terjadi karena hormon esterogen yang dihasilkan ketika mereka melakukan hubungan sex.

"Pulang. Gue udah di telpon sama nyokap gue dari semalem.." Resna berjalan kearah meja makan di belakangnya, dengan langkah sedikit tertatih karena menahan rasa pedih di area selangkangan nya.

Memperhatikan cara Resna berjalan yang seperti itu membuat Rangga meringis menahan ngilu. Apakah sesakit itu hingga Resna harus berjalan dengan sangat hati-hati?
"Ehm.. gue anter nanti.."

"Nggak usah, gue bawa mobil. Tuh di bawah." sahutnya santai.

"Res.."

"Hmm.." Resna bergumam ketika namanya dipanggil oleh Rangga. Dirinya sangat lapar saat ini, setelah semalam dia tak makan dan malah diajak berolahraga ranjang dimalam hari oleh si curut sialan bernama Rangga lalu masih berlanjut hingga tadi pagi, rasanya tubuh Resna benar-benar tak memiliki tenaga lagi.

Rangga ini benar-benar bodoh, sudah tau ini adalah sex pertama untuk nya, tetapi justru Rangga melakukan nya hingga tiga kali, dan bodohnya lagi dia tak menolak. Malah ingin lagi, lagi dan lagi. Benar-benar otaknya sudah tidak waras.

"Lo nggak papa nyetir mobil sendiri emangnya?" tanya Rangga memastikan, dia tak tega melihat Resna mengendarai mobil nya sendiri dengan keadaan yang cukup mengenaskan yang sialnya adalah semua itu karena dirinya.

Resna yang tengah asik menikmati makanannya melirik sekilas kearah Rangga yang duduk di depannya. "Kan emang biasanya juga gue nyetir sendiri. Emangnya lo pernah liat gue punya sopir?" kemudian kembali menikmati nasi dengan tumis jamur tiram dan ayam goreng buatannya.

Tak memperhatikan raut khawatir yang terpampang begitu jelas diwajah Rangga, Resna terus menikmati makanannya.

"Ck, bukan gitu maksud gue!" decak Rangga kesal.

"Terus?"

Gue khawatir lo kenapa-kenapa dijalan. Kondisi lo nggak memungkinkan. Dan itu karena gue. batin Rangga.

"Lo kan lagi dalam masa patah hati nih. Ya gue takut aja lo punya pikiran sempit terus berniat nabrakin mobil lo ke pohon biar kayak di sinetron-sinetron gitu, kan sayang mobilnya, ribet juga nanti gue kudu jadi saksi karena lo abis dari tempat gue." na'as. Hanya kalimat itu yang mampu keluar dari mulutnya.

"Sialan lo! Gue nggak segila itu buat mati bunuh diri cuma karena patah hati, gue masih cukup waras asal lo tau! Lagian ya, cowok itu nggak cuma satu doang kan? So.. ngapain gue sampe harus bunuh diri?" sinis Resna seolah lupa dengan apa yang terjadi padanya semalam yang menangis Medan meraung layaknya bayi kelaparan.

"Halah, sekarang aja lo bisa ngomong gitu, nggak inget lo semalem siapa yang nangis sampe sesenggukan gara-gara diputus sama dokter gigi kesayangannya? Ngaca woy!" balas Rangga tak mau kalah, wanita itu sudah kembali ke mode menyebalkan yang selalu saja mengundang nafsu untuk mencekik hingga kehabisan nafas dan mati.

Resna yang kesal dengan Rangga karena selalu saja membahas tentang dirinya yang sedang patah hati, langsung melempar Rangga dengan sendok yang ada di tangan.

Ctak!

"Babi..! Sakit!" bagaimana tidak sakit, jika lemparan Resna tepat mengenai pelipisnya. "lo ya, jadi cewek nggak bisa alus dikit. Gila!" sungut Rangga seraya menggelengkan kepala, wanita di depannya ini benar-benar luar biasa.

Sama luar biasanya seperti semalam ketika mereka melakukan itu.

"Eh—apa nggak mending lo nginep disini lagi aja? Bukan apa-apa.. tapi liat cara lo jalan gitu gue jadi ngeri, nanti kalo nyokap lo tanya kenapa, mau jawab apa lo? Mau bilang kalo lo abis lepas segel sama gue, gila yang ada bisa disuruh kawin sama lo langsung. Males banget gue nikah sama cewek kayak lo, nggak ada anggun-anggun nya sama sekali!” celetuk Rangga mencemooh dengan raut wajah serius memperhatikan Resna yang sedang minum.

Uhuk!!

Ucapan Rangga barusan membuat Resna tersedak oleh air putih yang tengah dia nikmati.

"Ck.. pelan-pelan bisa nggak sih?!" decak Rangga, Resna sangat ceroboh menurutnya, tak pernah bisa hati-hati dalam segala hal, seperti melepas sesuatu yang berharga semalam misalnya.

"Lo tuh kebiasaan ya kalo ngomong suka asal aja nggak dipikir dulu?!" pekik Resna setelah batuknya berhenti. "Lo pikir gue bego sampe harus bilang gitu sama nyokap gue. Belom lagi nanti kalo si Batak itu tau, bisa mati gue. Lagian gue juga males kali punya suami kayak lo, penjahat kelamin!” Resna balik mencemooh.

Tawa Rangga pecah seketika mendengar kalimat yang keluar dari mulut Resna, ingin rasanya Rangga mencium Resna lagi dengan kasar dan keras hingga resna meminta ampun seperti tadi pagi.
"Mulut lo Res, kalo ngomong nggak pake filter. Si Batak itu juga bokap lo, kalo dia nggak nyumbangin spermanya ke rahim nyokap lo, pasti lo nggak akan lahir juga!" masih dengan tawanya yang membuat Resna semakin ingin mencekik pria ini.

Resna memutar bola matanya. "Masih banyak yang mau suka rela nyiramin spermanya ke rahim nyokap gue. Nyokap gue cantik. Primadona pada zamannya!" balas Resna dengan nada sombong.

Ranggak mengangguk paham, percaya jika ibunya merupakan seorang primadona karena sampai usia nya sekarang pun ibu dari Resna masih terlihat sangat cantik, bahkan nyaris seperti seorang kakak bagi Resna. "Tau. Gue tau kalo nyokap lo cantik." Rangga menyeriai. "Tapi kalo bukan si Batak yang kasih benih ke nyokap lo, lo nggak akan lahir dengan bentuk kayak sekarang. Lo bakal lahir dengan bentuk yang berbeda, muka beda, tinggi beda, berat badan juga beda, sifat dan sikap yang udah pasti sangat beda. Bisa jadi lo lahir dan tumbuh jadi sosok yang lebih anggun dari lo yang sekarang. Dan itu belom tentu bikin gue interested sama lo kayak sekarang.." jelas Rangga panjang lebar sambil mengedipkan sebelah matanya pada Resna yang kini wajahnya sudah merona karena ucapan Rangga.

Padahal baru beberapa menit lalu Rangga mengejek Resna dan mengatak tak mau menikah dengannya kerane tak anggun, tapi baru saja secara tidak langsung Rangga mengatakan jika ia menyukai Resna yang sama sekali tak anggun seperti wanita kebanyakan di luar sana, atau seperti wanita-wanita yang biasa Rangga kencani.

Hal itu membuat Rangga ingin tertawa. Tapi Urung dia lakukan karena melihat wajah Resna yang seperti ini merupakan hiburan tersendiri untuknya.

Pasalnya, wanita cantik berdarah Batak dan Sunda ini sangat jarang sekali menampilkan rona wajah merah seperti itu, kecuali jika dia mengenakan blush on.

Sedangkan Resna masih diam setelah mendengar apa yang Rangga katakan barusan, benarkah Rangga tertarik padanya? Ck.. sepertinya tidak mungkin, Resna yakin Rangga mengatakan hal itu karena dia merasa bersalah dengan apa yang terjadi semalam. Logikanya, tak mungkin orang bisa menjadi tertarik dengan lawan jenis hanya dalam satu kedipan mata saja.

Fall in love at the first sight? Tidak juga, mereka berteman hampir lima tahun, jika memang Rangga jatuh cinta padanya, harusnya hal itu sejadi sejak dulu pertama mereka bertemu. Dan lagi selama pertemanan mereka beberapa tahun ini, mereka nyaris tak pernah akur. Setiap hari mereka hanya akan berdebat dan beradu argument tanpa lelah hingga membuat setiao orang yang menyaksikan menjadi begitu jengah dan ingin mengurung mereka berdua dalam satu ruang kaca sempit.

Tunggu. Rangga tak mengatakan jika dia jatuh cinta padanya, dia hanya tertarik, ya TERTARIK. Dia harus mengingat nya baik-baik..
He's just interested. Not in love.

Resna menghembuskan nafasnya yang terasa berat, enggan menanggapi perkataan yang keluar dari bibir yang semalam memanjakan setiap jengkal tubuhnya dan meninggalkan banyak sekali jejak-jejak percintaan di tubuhnya. "Udah ah, gue mau siap-siap. Mau balik, nanti lo yang beresin ini!" jemarinya menunjuk kearah meja makan yang masih terisi dengan makanan mereka.

"Ck.. Lo ya nggak tau diri. Udah numpang tidur, numpang makan abis itu langsung pulang lagi!” geram Rangga sedikit sewot, meja makan ini terbilang cukup berantakan dan rasanya malas sekali jika dia yang harus membereskan semua ini. Seharusnya Resna lah yang harus membersihkan ini semua sebelum akhirnya dia pulang, tapi sudahlah biarkan saja, toh nanti meja ini juga akan beres dan bersih dengan sendirinya.

"Berisik lo ya?! Oh ya dan satu lagi.." bibir Resna didekatkan ke telinga Rangga membuat lelaki itu menahan nafas sejenak menunggu apa yang akan Resna lakukan. Apakah wanita itu akan menggoda nya hingga akan melanjutkan kegiatannya seperti tadi pagi? Ya Tuhan! Isi otak Rangga benar-benar hanya tentang sex dan sex saja setiap detiknya.

Sepertinya Rangga akan merasa rugi sekali jika sedetik saja otaknya tak memikirkan tentang selangkangan yang terbuka lebar, benar-benar luar biasa.

"Seprai di kamar lo, jangan sampe dicuci di laundry. Ada bekas darah, ngga lucu kalo lo diketawain sama tukang laundrynya." setelah itu Resna menjauhkan bibirnya dari telinga Rangga dan bergegas menuju kamar pria itu untuk bersiap pulang.

Sedangkan Rangga masih diam di tempatnya. "Shit!" gerutu Rangga.

Dia pikir Resna akan membisikkan sesuatu yang akan membuat harinya menjadi semakin indah. Seperti i wanna sex with you atau fuck me, now!. Tapi ternyata harapannya tak terkabul, wanita itu sudah melenggang pergi meninggalkan bagian dirinya yang tiba-tiba sesak.