Browse stories

Kubuat Kamu dan Selingkuhanmu Menyesal

Language: id

Tipisnya iman seorang pria membuat dirinya tidak pandai bersyukur. Aryo telah menyia-nyiakan Santi, istrinya yang menemani Aryo sukses sampai ke tahap ini. Namun, Matanya tidak berkedip kalau melihat perempuan seksi dan bergelayut manja di depannya. Apakah dia bisa bertahan pada satu wanita? Atau dia tidak peduli pada anak dan istrinya.?

Available chapters

  1. Chapter 1
  2. Chapter 2
  3. Chapter 3

Chapter 1

Kubuat Kamu Dan Selingkuhanmu Menyesal


Part 01: Ijab Qobul

"Aku terima nikah dan kawinnya Meli Susanti Binti Reno Agussalim dengan mas kawin satu unit mobil seharga lima ratus juta dan lima belas gram emas dibayar tunai."

"Sah."

Ucapan sahabat, terdengar dari para saksi dan tamu undangan yang hadir.

"Alhamdulillah," ucap Pak penghulu.

Doa telah berlangsung untuk mengambil berkah sekaligus mengakhiri akad nikah. Usai sudah doa yang dipandu oleh Pak penghulu.

"Akhirnya aku dan Mas Aryo sah menjadi suami istri. Sebentar lagi aku bakalan kaya. Nggak perlu lagi repot-repot bekerja mencari kemewahan," ucap Meli dalam hati sembari mengulas senyum.

"Sayang, aku berjanji akan membahagiakanmu sampai akhir hayatmu," ucap Aryo sambil mengecup kening Meli.

Tamu undangan, saksi dan Pak penghulu menikmati hidangan yang di sajikan. Masih dalam suasana bahagia, Meli mendengar percakapan tamu undangannya.

"Ternyata suami Meli sudah punya istri dan anak satu. Kok tega ya, dia merebut laki orang," ucap ibu yang berbaju biru sedang antri mengambil nasi.

"Tahu dari mana, Bu?" balas ibu berbaju orange.

"Tahu dari sosial media," balasnya dengan cepat.

Meli langsung tersulut emosi mendengar percakapan tamunya. Dia melangkah cepat menghampiri mereka.

"Jangan menyebar fitnah, Bu! Kalau tidak ada bukti," ucap Meli dengan wajah tidak sedap.

"Aku berkata sesuai dengan fakta. Lagi pula kok bangga poto mesra di upload di sosial media. Padahal sudah tahu laki yang diembat itu sudah menikah dan punya anak satu," jawab ibu berbaju biru.

"Jaga ucapanmu, Bu! Aku itu nikah sama Mas Aryo suka sama suka. Bukan merebut dia dari istri pertamanya."

Suasana semakin panas akibat perdebatan yang alot.

"Coba kamu sebagai istri pertama, sanggupkah menerima kalau dirimu dimadu!"

"Kau semakin lancang, Bu! Pergi kau dari sini!" Amuk Meli sambil mendorong ibu berbaju biru dengan paksa.

Semua mata tertuju pada Meli dan ibu berbaju biru.

"Aw," ucapnya lirih.

"Meli! Apa yang kamu lakukan!" ucap Aryo sedikit geram.

"Mulut perempuan tua ini sangat lancang. Dia bilang aku itu perempuan perebut laki orang," jawab Meli dengan nada tinggi naik dua oktaf. Dadanya semakin bergemuruh akibat sudah tersulut emosi.

"Kenapa mesti marah! Apa yang dikatakan beliau memang benar, sesuai dengan kenyataan!" jawab Aryo santai.

Mulut Meli menganga atas pengakuan suaminya di depan umum.

"Iya aku adalah istri pertama Mas Aryo."

Pandangan para tamu tertuju pada wanita cantik, yang memakai dress berwarna biru muda. Wanita itu terlihat sangat mempesona, dia adalah -Santi- istri pertama Aryo. Sebenarnya, Santi ingin menghadiri pernikahan kedua suaminya dengan Meli. Namun, terjadi sesuatu di luar dugaan. Sehingga dia terlambat datang ke acara ijab qobul suaminya.

"Tu kan istri pertamanya sudah ngaku. Masih bisa bersilat lidah kalau aku memfitnah?" sungut ibu berbaju biru sambil berdiri. Ia tersenyum bahagia atas kehadiran istri pertama Aryo.

"Dasar pelakor!" ejek ibu berbaju orange sambil melempar sendok ke tubuh Meli.

Wajah Meli merah padam, menahan emosinya atas ucapan ibu berbaju orange. Tubuh Meli mundur ketika Santi mendekatinya. Namun, tidak bisa jauh karena gaunnya yang terlalu panjang.

"Itu belum seberapa, Meli," bisik Santi tepat di daun telinganya.

"Maksudmu apa?!" Mata Meli membulat sempurna.

Lalu, Meli mengangkat tangannya, dan diayunkan ke arah wajah Santi. Dengan cepat, ibu berbaju orange menepis tangan Meli. Sedangkan Aryo, diam mematung. Tidak ada yang dia bela.

"Punya otak dan punya hati 'kan? Coba kamu berpikir dengan jernih! Posisikan dirimu sebagai istri pertama, sanggup tidak kamu di madu," ucap Santi sambil menahan bulir bening yang sudah menggenang, agar tidak jatuh. Dia mencoba tegar meskipun hatinya rapuh.

Meli mendengus kesal. Di hari bahagianya tidak seperti yang dia bayangkan. Lalu, dia memilih mendekati Aryo.

"Sayang, kamu kok diam saja! Seharusnya, kamu membelaku!" ucap Meli kesal. Namun, dia bergelayut manja pada lengan Aryo.

"Pelakor tidak tahu malu, dasar perempuan murahan!" hina ibu berbaju orange kembali.

"Mereka berdua murahan, Bu. Terlebih perempuan ini," balas Santi sambil menunjuk ke arah Meli.

"Kamu menuduhku dan Mas Aryo murahan? Sungguh biadap tuduhanmu itu," jawab Meli sambil senyum mengejek.

"Iya, kamu tidak senang atas tuduhanku itu?" balas Santi dengan lantang.

Tamu undangan sebagian sudah pulang. Ada juga yang menyaksikan perdebatan ini.

Santi sangat menunggu Mas Aryo untuk bersuara. Dia penasaran kepada Aryo apakah memilih dirinya atau Meli yang baru saja sah menjadi istri barunya.

"Seharusnya kamu sadar diri kenapa aku berpaling darimu," ucap Aryo. Tiba-tiba, buka mulut.

"Sadar diri kamu bilang?" balas Santi tidak mau kalah sengit dari suaminya.

"Iya."

Santi terdiam, hatinya tersayat mendengar perkataan suaminya.

"Kamu itu istri yang tidak menarik lagi di mataku. Coba berkaca jika tidak percaya!" Ejek Aryo dengan senyum smirk di wajahnya.

"Tidak menarik kamu bilang? Hanya alasan sepele kamu berpaling," jawab Santi.

"Iya! Setiap aku pulang kerja. Kamu kelihatan tidak menarik. Selalu pakai daster, bahkan ketika aku masuk dan kamu menyambutku, bau keringat yang sangat menusuk hidungku!"

"Lebih baik kamu ceraikan saja istri seperti dia, Mas! Aku saja sebagai perempuan melihat dandanannya merasa jijik," ucap Meli sengaja memancing emosi, Aryo.

Dia melangkahkan kakinya menghampiri Aryo dan bergelayut manja di tubuhnya.

Tiba-tiba, Aryo mencium kening Meli. Ia sengaja membuat Santi agar terbakar api cemburu. Mereka berdua sudah berhasil menyingkirkan Santi dan sudah tersisih dari pelukan suaminya.

"Kamu sabar Santi! Jangan terpancing dengan perbuatan Mas Aryo yang telah mengkhianatimu," ucapnya dalam hati. Dia mencoba menghibur dirinya sendiri.

"Santi! Kamu harus berani menerima kenyataan. Aku dan Mas Aryo sudah menikah. Oh iya, aku dan Mas Aryo akan satu atap bersamamu," ledek Meli. Dia mengukir senyum tipis.

"Kamu kira suatu saat nggak bakalan menerima karma dari perbuatanmu," balas Santi dengan santai. Dia mencoba tenang dan tidak terbawa suasana.

"Tidak ada karma dalam hidup ini. Hari gini masih percaya karma, maaf aku tidak yakin mitos serperti itu," jawab Meli.

"Sayang ayo kita pergi dari tempat ini. Aku sudah muak melihat wajah istriku yang sudah tidak menarik lagi. Lebih baik kita pergi ke hotel untuk bulan madu," ajak Aryo.

Mereka berdua pergi meninggalkan Santi sendirian. Dia belum percaya menerima kenyataan pahit yang baru saja terjadi.


Bersambung ....


Next?

Chapter 2

Kubuat Kau Dan Selingkuhanmu Menyesal

Part 02: Karma Mulai Menyapa



Sesampainya di hotel, Meli merengek kepada Aryo.

"Sayang, aku mau bulan madu ke danau toba," rayu Meli.

Aryo menghembuskan napas kasar. Baru sampai di hotel perasaannya sudah tidak enak. Dia membuka jas dan meletakkannya di sembarang tempat.

"Kenapa sih harus ke sana?" bentak Aryo. Dia melandingkan bobotnya di atas kursi.

Meli terkejut mendengar ucapan suaminya.

"Biar lebih romantis dan seperti orang orang yang baru nikah."

Meli duduk di atas ranjang dan membuka high heelsnya, kemudian merebahkan tubuhnya. Dia menghembuskan napas dan memejamkan mata sebentar. Satu harian sudah lelah menjadi ratu.

"Aku menikah bukan pertama kali? Jadi, aku harap nggak usah minta bulan madu ke sana. Lagi pula kita sudah sering melakukannya."

Meli langsung berdiri dan menghampiri Aryo.

"Kita sudah sering melakukannya, tapi itu belum ada sama sekali ikatan antara aku dan kamu, Mas."

"Sama saja dan nggak ada bedanya."

Aryo melepaskan dasinya dan membuka kemejanya. Tiba-tiba, Meli menjerit.

"Aw!" teriak Meli sambil menutup matanya dengan telapak tangannya.

Aryo terkejut kenapa Meli teriak lalu geleng-geleng kepala. "Dasar istri aneh!" ledek Aryo.

Aryo pergi melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya karena sudah bau keringat.

"Kalau begitu, besok kamu harus cuti. Biar bisa satu harian bersamaku," ucap Meli sambil memainkan gawainya.

Aryo tidak menghiraukan perkataan istrinya. Suara gemericik air di kamar mandi terdengar jelas. Tiba-tiba, Meli senyum melihat kotak pipihnya.

"Malam ini akan kubuat kamu tidak lepas dari pelukanmu," ucapnya dalam hati.

Tidak berapa lama, Aryo telah selesai mandi. Wajahnya terlihat lebih segar dan menampakan tubuh sixpacknya, karena hanya di balut handuk.

"Kok begong dan diam, Mel?" tanya Aryo.

Meli sibuk dengan gawainya dan tidak mendengar apa yang dikatakan suaminya.

"Meli! Aku sudah selesai mandi. Tolong ambilkan bajuku!" bentak Aryo mulai kesal.

Aryo heran melihat ulah Meli karena lupa kalau dirinya sudah mempunyai istri.

"Aku lagi meng-upload poto ijab qobul kita ke akun instagramku, Mas."

Darah Aryo mendidih seketika, dia tidak menyangka istrinya lebih mementingkan upload poto daripada suaminya.

"Meli! kamu itu sudah menjadi istriku. Kalau nggak mau mengurus aku, bilang saja," amuk Aryo lalu melangkah menuju lemari. Dia mengambil bajunya sendiri. Sementara Meli masih sibuk dengan membaca komentar kawan sosial medianya.

[Akhirnya, Aryo jatuh juga ke dalam pelukanmu. Selamat iya, sudah menjadi istrinya.] komentar pertama dari Ayu sahabatnya waktu SMA.

"Langsung tancam gas buat program dedek.] balas Mery.

[Harus bisa membuat Aryo tunduk kepadamu, agar dia tidak berpaling pada wanita lain. Mbak ikut senang akhirnya menikah juga.] balas Ayu. Dia adalah saudara kandung Meli yang selalu memaksanya agar segera menikah.

"Bangga ya jadi istri ke dua dan segala macam cara dilakukan demi menyingkirkan istri pertamanya.] sindir netizen.

Meli terkejut mendapat komentar menghujat dirinya. Matanya membulat dan tidak berkedip.

[Sabar ya, Bu Santi, pria seperti Aryo telah menyia-nyiakanmu sebagai istri pertamanya. Esok dia pasti menyesal memilih pelakor. Mungkin Meli hanya ingin mengincar harta suamimu saja.] Hujatan paling sadis dari netizen. Dia men-tag akun Santi dan Aryo dengan berani.

Dadanya mulai panas membaca komentar yang bermunculan di akun sosial medianya berwarna ungu.

[Jaga jemarimu ketika mengetik di kolom komentar! Sirik bilang bos!] balas Meli wajahnya memerah.

Tiba-tiba gawainya berdering, ada panggilan telepon. Di layar gawainya tertera 'Mbak Ayu' memanggil.

Aryo sudah selesai memakai baju dan sudah rapi. Dia pergi melangkah menuju pintu ke luar.

Tiba-tiba, Meli bingung antara mau menjawab telepon dari Mbaknya atau menghentikan langkah suaminya.

"Mas!" teriak Meli.

Aryo cuek dan dia membuka gagang pintu.

'Tidak bisa dibiarkan ini,' ucap Meli dalam hati. Dia bringsut dari atas ranjang mengejar suaminya. Ketika melangkah kakinya terpleset dan luruh tersungkur ke lantai. Tubuhnya terhempas, sehingga tangannya terkilir dan gawainya juga ikut jatuh. Rasa sakit lahir di tubuhnya. Namun, Meli tetap bangkit untuk menghalangi langkah kaki suaminya.

"Mas ... Tunggu!" teriaknya lagi.

Aryo berhenti dan memutar tubuhnya menghadap Meli. Suasana hening dan sepi tepat di lorong kamar.

Meli berlari sambil memegang tangannya yan terkilir. Handphone-nya terus berbunyi terdengar jelas dari dalam kamar dan diabaikan olehnya.

"Apa lagi?" tanya Aryo.

"Ta-tanganku terkilir akibat jatuh mengejarmu, Mas,"ucapnya terbata sambil memasang wajah memelas karena rasa ngilu di tangannya.

"Begitu kau sakit dan butuh perhatian suamimu, baru menganggap aku ada. Istri seperti kamu tidak perlu dipertahankan. Mengadu saja kamu pada kawan sosial mediamu. Barang kali mereka bisa bantu," sindir Aryo. Dia pergi meninggalkan Meli.

"Mas! Aku memang salah. Aku harap jangan acuhkan aku."

Meli teriak histeris, tidak ada sama sekali perhatian Aryo pada dirinya.

****

"Mas kenapa terlambat datangnya?" tanya Alia menggoda Aryo.

"Maaf, sayang. Jalan menuju kemari macet. Maklumlah!"

Di tempat berbeda, Aryo sedang memadu kasih dengan perempuan lain. Padahal baru saja dia menikah dengan Meli, istri barunya.

"Tumben ngajak ketemu?" tanya Alia.

"Kangen saja sama wajah seksi dan body-mu yang bahenol," goda Aryo sambil memijit hidung mancungnya.

Sorot mata Aryo memberikan kode kepada Alia.

"Masa? Aku nggak yakin. Biasanya pengantin baru pasti sudah memadu kasih di atas ranjang. Menghabiskan malam pertama sampai pagi menyapa bumi."

Aryo bergeming dan bringsut menyandarkan kepalanya di bahu Alia.

"Kamu kok bahas istri baruku dan malam pertama sih? Aku sudah bosan sama Meli. Sebelum menikah kami sudah sering tidur berdua."

Alia kaget mendengar penuturan Aryo. "Jadi, kamu menikahi Meli ...."

Alia menjeda ucapannya, takut melukai perasaan Aryo.

"Terus apa rencanamu malam ini kalau bosan sama dia?" tanya Alia kembali. Dia mengalihkan perhatian Aryo agar tidak sakit hati mendengar ucapannya yang terjeda.

Aryo menggeleng dan bergelayut manja di bahu Alia.

"Aku harus menaklukkan hatimu, Mas. Nggak apa-apa jadi istri ke tiga," ucap Alia dalam hati.

"Serius?" tanya Aryo. Dia langsung menatap netra Alia. Teringat pada kejadian beberapa bulan lalu.

"Rencanaku mau memadu kasih denganmu seperti yang hari itu sempat tertunda karena ...."

Ponsel milik Aryo, berdering.

"Maaf sebentar, aku menjawab panggilan telepon dulu."

Aryo merogoh saku celananya dan mengambil ponsel yang terus berdering. Terlihat nama Meli di layar, Aryo memutuskan untuk menonaktifkan ponselnya. Agar Meli tidak mengganggu.

"Bagaimana, sayang," ucap Aryo.

Kotak perseginya berbunyi lagi. Aryo merasa kesal. Dia langsung memblokir kontak Meli. Dia tidak mau ada yang mengganggu candle night dinner bersama Alia selingkuhan barunya.

Meli mendengus kesal karena Aryo tidak menerima dua panggilan tidak terjawab. Hatinya semakin dongkol ketika dia mengirim chatt ke kontak Aryo hanya cek list satu dan tidak bisa lagi dia melihat online atau tidaknya Aryo. Poto profil Aryo pun juga tidak terlihat lagi.

"Argh ....!" teriak Meli mengacak-acak rambutnya dan melempar semua barang yang ada di atas nakas.



Bersambung ....

Next?

Chapter 3

Kubuat Kamu Dan Selingkuhanmu Menyesal


Part 03: Kiriman Fhoto Mesra Aryo


"Argh ....!" teriak Meli mengacak-acak rambutnya dan melempar semua barang yang ada di atas nakas.

"Baru satu hari jadi istri, Aryo. Dia sudah menderita dan ditinggal pergi olehnya.

'Awas kalau kamu datang, kubuat kau menyesal!' ucap Meli dalam hati.

Meli melihat ponselnya sudah penuh dengan pesan chatt dan notif pemberitahuan dari akun sosial media berwarna ungu. Meli membuka pesan chatt aplikasi gagang telepon berwarna hijau pelan-pelan.

[Aryo, kawan kantorku, baru saja menikah dengan Meli. Namun, Dia memilih menghabiskan malam pertamanya bersamaku.]

Sebuah caption tertulis dari status aplikasi hijau hasil tangkapan layar
yang di kirim Nilma rekan kerja Meli, sebelum risaign. Meli dan Aryo satu kantor, dari situlah Meli jatuh hati pada Aryo.

[Kenapa bisa Aryo menghabiskan malam pertamanya bersama perempuan lain?] pesan chatt masuk dari Ayu, saudara kandung Meli.

Telepon seluler milik Meli berdering memekakan telinga. Di layar ponselnya tertera 'Mbak Ayu memanggil.'

'Aku nggak mau menjawab panggilan telepon dari Mbak Ayu. Dia pasti marah-marah kalau aku menjadi pelakor,' ucapnya dalam hati.

Ayu menghubungi Aryo, suaminya, Meli. Lima kali sudah Ayu melakukan panggilan, tapi tidak ada sama sekali dijawab, Aryo.

'Kenapa tidak ada jawaban darinya?' ucap Ayu dalam hati.

Ayu mencoba kembali menelpon Aryo, tidak membuahkan hasil sama sekali.

'Kacau, kalau sempat Meli viral menjadi pelakor, mau diletakan di mana wajahku juga wajah ibu,' ucap Mbak Ayu dalam hati.

"Aku harus cepat menjumpai Meli, untuk mengetahui sebenarnya apa yang terjadi?" ucap Mbak Ayu spontan.

Netranya melihat jam yang melingkar di lengannya sudah menunjukkan pukul dua puluh tiga lewat lima menit. 'Akh, sial! Nggak mungkin lagi aku pergi ke hotel tempat Meli bulan madu. Besok siang saja aku ke rumah barunya. Kalau aku paksakan sekarang, takut terjadi sesuatu,' ucapnya dalam hati.

****

Pagi telah tiba, mentari sudah menyapa bumi. Kendaraan sudah lalu lalang ke sana-kemari. Ayu terkejut mendengar jam beker berbunyi. Netranya diarahkan ke arah jam, waktu sudah menunjukkan pukul sebelas lewat dua puluh menit.

Ayu bringsut dari atas ranjang dan menuju kamar mandi. Suara gemercik air terdengar menyiram tubuhnya.

Tidak butuh waktu lama, usai sudah Ayu mandi dan dia sudah rapi. Dia segera berangkat menuju rumah Meli. Jarak rumahnya ke rumah Meli butuh waktu tempuh dua jam.

Ayu berjalan keluar rumah menuju garasi. Dia membuka pintu mobil dan duduk di dasboard, dia menstater mobil lalu menekan tuas gas kemudian melaju pelan. Sementara Pak satpam sudah membuka pagar rumah.

Tepat di post satpam, Ayu membuka kaca mobil dan menekan klakson permisi kepada Pak satpam. Dia mengulas senyum kemudian menutup kembali mobil yang dia setir melaju kencang laksana anak panah yang lepas dari busurnya.

****

Meli sendirian di hotel, padahal malam pertama. Nasibnya tidak seperti pengantin baru pada biasanya. Meli menelan pahitnya kenyataan hidup, menjadi istri kedua dengan cara merebut laki orang tidak seperti yang dibayangkan. Meli sendirian cek out dari hotel menuju rumah barunya. Hatinya nelangsa karena sudah siang Aryo belum kunjung datang ke rumah.

Tidak berapa lama, Ayu sampai di depan rumah Meli yang baru. Klakson mobil sengaja dia tekan agar Meli keluar cepat dan membuka pagar rumahnya.

Ayu nggak sabar menunggu Meli membuka pagar rumah, sehingga klakson mobil dia tekan kuat dan lama.

Meli membuka pintu rumahnya, kemudian memakai sendal dan berjalan menuju pagar. Dia membuka pagar rumahnya, lalu Ayu menyetir mobil masuk ke dalam halaman. Pintu pagar masih terbuka lebar. Meli berjalan dan masuk kembali menuju teras rumah.

Ayu tidak membuang-buang waktu dan dia bergegas mematikan mobil, lalu melepas seat belt dan membuka pintu mobil. Dia menghampiri adiknya, sebuah tamparan ia tepiskan di wajah, Meli.

Plak!

"Dasar wanita murahan! Kau bangga meng-upload poto kemesraanmu dengan seorang pria dan dia itu ternyata masih suami sah wanita lain."

Ayu merah padam dan sangat kecewa dengan Meli. "Asal kamu tahu! Aku sangat jijik dan malu melihatmu sekarang! Kau sudah membohongiku juga ayah dan ibu di kampung."

Meli mengelus pipinya, rasa panas akibat tamparan yang di tepiskan Ayu membuat hatinya geram.

"Malu Mbak, bilang? Aku lebih malu setiap pulang ke rumah selalu mendapat hinaan perawan tua dari tetangga. Aku nikah dengan suami orang, salah! Nggak nikah sama sekali, semakin salah. Hidup di dunia ini memang susah."

Meli meneteskan air mata, hatinya tersaruk pilu mengingat cemoohan netizen di kampung.

"Menikah itu ibadah, tapi bukan dengan cara yang salah!" sentak Ayu.

"Salah, Mbak bilang?"

"Iya! Kalau kamu menikah dengan pria single atau duda. Nggak apa-apa. Masalahnya kamu sengaja merebut suami orang dan kamu begitu bangga mengumbarnya di sosial media. Aku nggak Habis pikir, Meli."

Ayu mendengus kesal, dia menarik napas kasar kemudian membuangnya.

"Cukup! Hentikan semua perkataanmu, Mbak. Kalau memang merasa malu mempunyai adek seorang pelakor, itu hakmu! Aku sama sekali nggak peduli. Daripada setiap aku pulang ke rumah, selalu mendapat comoohan dengan sebutan perawan tua, ditambah ayah dan ibu tidak pernah berhenti bertanya kapan kamu nikah. Sekarang aku menikah, Mbak bilang salah."

Ayu nggak habis pikir kalau Meli menempuh jalan yang salah. Dia memijit keningnya yang tidak sakit.

"Kamu itu perempuan, Meli! Coba kamu berpikir sejenak dengan menggunakan hati dan perasaanmu!" nasihat Ayu.

Meli bergeming, dia menghapus buliran air matanya yang sempat luruh tanpa pamit. Sakit! Inilah kenyataan yang harus diterima. Sesal kian mendera, akhir sebuah kenyataan. Dia bringsut dan meletakkan bobotnya di atas kursi lalu menunduk meratapi nasibnya.

"Ingat, Meli! Segala sesuatu itu perlu dipikirkan! Salah atau tidaknya yang kamu lakukan? Kalau menikah dengan pria yang sudah beristri, apakah dia ridha dan ikhlas menerima suaminya berbagi. Secara tidak langsung kehadiranmu mematahkan sayapnya menggapai sakinah, mawaddah warohmah dalam membangun bahtera rumah tangga.

Ayu mencoba mendekati Meli dan mengangkat wajahnya. "Jadikanlah kejadian ini pelajaran yang paling berharga. Sebelum terlanjur sakit. Segera gugat cerai suamimu!" perintah Ayu.

"Aku tidak mau menjadi janda dan hidup jatuh miskin, Mbak!"

Meli terisak, air matanya kembali jatuh mendengar perkataan Ayu. Dirinya saat ini laksana makan buah simalakama.

"Tidak ada jalan lain! Berani berbuat harus berani bertanggungjawab," ucap Ayu.

Meli tergugu dan tersaruk pilu. Pilihan yang sangat berat untuk ditentukan.

"Kamu pasti bisa! Mbak yakin. Bangkitlah dan jangan bersedih."

Meli mendongak, "Bagaimana nasib janin yang ada di dalam perutku," jawab Meli semakin terisak.


Bersambung ....

Next?