Browse stories

Nodamu Bukan Masalah Bagiku

Language: id

Riko seorang CEO tampan nan kaya raya, ia tidak sengaja bertemu dengan Nabila, seorang wanita malam. Saat itu ia menolong Nabila yang sedang bersembunyi dari suaminya yang ingin terus menjadikannya wanita malam sebagai ladang cuannya. Riko yang membantu proses perceraiannya tak sengaja mencintainya, tapi Ibu Riko tentu tidak setuju dengan hal itu, namun cinta mereka mengalahkan ego dan berjuang bersama meraih restu orangtua.

Available chapters

  1. Chapter 1
  2. Chapter 2
  3. Chapter 3

Chapter 1

“Cuy, ayo ke Bar untuk mengurangi rasa stresmu. Sesekali lah tidakk masalah kan?” ujar seorang pria gendut pada Riko. Riko Adreseso adalah seorang CEO di kantor peninggalan ayahnya, ia yang adalah seorang CEO pasti sangat sibuk dan itu membuat ia merasa sangat stres, ia memang bukan tipe orang yang sering bermain ke Bar. Namun, untuk kali ini ia setuju karena ia berfikir mungkin benar yang dikatakan oleh temannya itu. Riko mempunyai seorang sahabat yang bernama Reno, ia adalah seorang pria gendut yang selalu mendapat penolakan oleh perempuan, tapi ia sering sekali pergi ke Bar untuk bisa melihat perempuan-perempuan yang minim pakaian.
“Okey dah Bro! sepertinya apa yang kamu katakan itu ada benarnya juga, mungkin itu bisa menghilangkan stresku, tapi kamu itu lho jangan terlalu sering dong!” ujar Riko pada sahabatnya itu samping menepuk bahunnya menandakan keakraban mereka. Mereka sudah saling mengenal satu sama lain sejak mereka berada dibangku SD. Tak ada hari yang mereka lewati tanpa bersama.
Dengan bersemangat, mereka langsung pergi ke sebuah Bar dekat dengan kantor milik Riko menggunakan sebuah mobil sport mewah miliknya, dengan hembusan angina mereka pergi, membuka atap mobil itu. Sahabatnya juga berdiri bak cabe-cabean dengan memamerkan ke semua orang sepanjang jalan ini bahwa ia sudah berada dalam mobil sport mewah yang hargannya sampai mencapai angka miliaran rupiah.
Sesampainya di sana, sahabatnya itu langsung turun dari mobilnya dengan, loncat tanpa membuka pintu mobil yang slime dan pendek itu, dengan lenggak-lenggoknya, ia langsung menyapa semua orang yang ia kenal di luar Bar itu. Sedangkan, Riko turun dengan gaya calm dan terlihat biasa saja dengan kekayaan yang ia miliki, berbanding terbalik dengan sahabatnya yang sombong, tapi terlihat lucu karena badannya yang terlihat melipat seperti ulat bulu, namun berlenggok seakan dirinya langsing dan sangat tampan.
“Hoii Bro, udah lama Loe di sini?” tanyanya pada salah satu orang yang berada di sana, namun orang tersebut terlihat sangat bingung karena ia bahkan tidak mengenal Reno sama sekali. Riko yang melihat tingkah sahabatnya itu langsung menarik tangannya masuk ke dalam Bar itu.
“Apaan sih kamu, main sapa aja, dia gak kenal kamu sama sekali kok!” sambutnya karena merasa malu dengan sahabatnya itu, tak lama setelah itu sahabatnya itu juga langsung tertarik pada seorang perempuan yang berjalan di hadapannya, membawa segelas minuman bersoda dan berjalan dengan lenggoknya menunjukkan bentuk tubuhnya.
“Hai Cewek! Main sini dong sama Abang!” serunya pada perempuan itu, perempuan itu langsung melihat kearahnya dengan mengibaskan rambutnya pada panjang dan indah. Namun, tiba-tiba wajahnya berubah setelah ia melihat orang yang menyapanya itu, dengan wajah nyinyir, menaikkan alis dan bibirnya.
“Ihhh sok kenal deh Loe, badan melar gitu ngomongnya kayak orang ganteng aja. Ngaca dong ya!” jawabnya kasar pada Reno. Riko langsung tertawa terbahak-bahak mendengar apa yang di katakan oleh perempuan itu, sahabatnya itu terlihat malu karena itu dan langsung menepuk bahunya.
“Ketawa kamu! Aku lagi di bully nih, harusnya kamu belain aku bukannya malah ikutan ngejek dong,” keluhnya pada Riko, ia merasa sedikit marah pada Riko namun itu tidak lama, hanya membutuhkan waktu hitungan detik saja langsung berubah lagi.
“Kamu sih, gak kenal sok sapa! Ini dah balasannya yang kamu dapat hahahha. Yasudah lah gak masalah, cari yang lain lagi,” ujarnya menasehati sekaligus memberikan semangat pada sahabatnya itu dengan ucapan, “Cari lagi!”. Sahabatnya itu juga langsung tertawa dan mengajaknya untuk berjalan mengelilingi Bar itu karena sesungguhnya Riko tidak pernah masuk sebelumnnya ke dalam Bar. Ia terlihat sangat canggung dengan tempat itu, ia juga terkadang merasa sangat tidak nyaman melihat begitu banyak wanita dengan pakaian minim di sana, bukannya tertarik ia malah merasa rishi dengan hal itu.
Mereka berjalan mengelilingi setiap sisi dari Bar itu, semua terlihat sangat aneh baginya karena tidak pernah masuk. Banyak perempuan lalu lalang di hadapannya, suara music yang membuat telinganya tidak bisa mendengar suara sahabatnya itu berbicara padanya, melihat banyak perempuan cantik dan terbuka menari dan sesekali menggodanya. Ia sangat bingung dengan semua hal baru itu, ia haus tapi tidak berani minum karena ia tidak suka dengan bau minuman alcohol yang tinggi dan sangat pekat itu, lampu kelap-kelip membuat matanya tetap melihat bayangan lampu itu walau ia sudah menutup mata, kepalannya juga kian sangat sakit melihat lampu kelap-kelip dan suara music yang sangat keras dengan volume yang tinggi.
“Reno! Reno! Ayi pulang aku tidak suka dengan tempat ini!” teriaknya mendekatkan mulutnya kearah telinga sahabatnya itu karena ia takut suaranya tidak didengar oleh sahabatnya itu. Namun, benar saja Reno tidak mendengarnya sama sekali dan terus menggoyangkan kepalanya seturut dengan music yang diputarkan, sesekali ia juga menggoda perempuan yang lewat di hadapannya walaupun ia tidak direspon bahkan sesekali di hina oleh perempuan itu.
“Reno! Ayo pulang!” teriak Riko dengan suara yang lebih keras lagi karena ia sudah tidak tahan dengan itu semua, ia langsung menarik Reno keluar dari Bar itu menuju dimana ia memarkirkan mobilnya. Sahabatnya itu sangat bingung dengan apa yang dilakukan oleh Riko.
“Apa sih? Kamu kenapa Bro? lagi asyik nih ada cewek cantik dan bahenol Bro,” ujarnya memberitahu Riko bahwa ia melihat cewek cantik di dalam Bar itu. Namun Riko tidak peduli sama sekali dengan hal itu karena ia memang sangat tidak nyaman dengan tempat itu sama sekali, ia merasa sangat rishi melihat wanita yang menggunakan pakaian yang menurutnya tidak sopan, apalagi saat mereka berjoget dan tidak memerhatikan apa pun lagi.
Namun, sekali lagi sahabatnya itu bingung melihat seorang perempuan yang sedang berada di pojok di samping sebuah tembok, sepertinya ia sedang bersembunyi dari seseorang, ia terlihat sangat ketakutan dengan orang itu. Riko juga melihat ada dua orang lelaki berbadan besar dengan wajah seramnya, sepertinya ia adalah seorang preman yang sedang mengejar perempuan yang di lihat oleh sahabatnya itu, tapi pada saat itu Riko belum melihat perempuan itu. Namun, Reno menepuk-nepuk bahu Riko ingin mengatakan sesuatu padanya, Riko malah bingung melihat sahabatnya itu yang terfokus pada sebuah tembok yang berada di sisi ujung di luar Bar itu.
“Bro! Bro itu ada cewek Bro!” ujarnya mengatakan kalau ia melihat perempuan dan menujuk ke tembok itu, Riko juga melihat ke tembol itu, tapi ia tidak melihat siapa pun di sana selain hanya tembok.
“Mana sih? Gak ada orang di sana, ayo ah pulang,” ujarnya sambil menarik tangan sahabatnya itu berniat untuk segera pulang. Tapi, sahabatnya itu malah menarik kembali tangannya, karena badan sahabatnya itu jauh lebih besar darinya sehingga tubuhnya terikut kearah sahabatnya itu.
“Ada apa sih Bro! ayo pulang,” ajaknya sangat malas mengikuti sahabatnya itu, namun mata sahabatnya itu tetap menuju kearah tembok itu.
“Itu ada cewek Bro, kasihan kayaknya ketakutan banget!” balas sahabatnya itu dan membawanya kearah tembok itu, dan sesampainya di sana ia sangat terkejut ketika ia melihat seorang perempuan dengan lebab di wajahnya sedang jongkok bersembunyi di balik tembok itu, ia menangis melipat kakinnya dan menahan menggunakan tangannya yang panjang. Saat ia melihat mereka, ia langsung mencoba untuk lagi dari sana karena ia sangat ketakutan, dengan refleks Riko langsung menangkap tangannya.
“Tolong lepasin aku! Aku gak mau ketemu orang itu lagi, aku benci, ia menyiksaku!” teriaknya sambil melihat kesisi lain, mencoba untuk melepaskan tangan Riko darinya.

Chapter 2

Tangan perempuan itu di gapai oleh Riko, ia melihat sesuatu yang aneh dari perempuan itu, tak lama setelah itu Riko juga melihat ada dua orang pria yang dilihat oleh sahabatnya itu tak jauh dari mereka. Terlihat ia ingin mencari seseorang, Riko langsung menutup mulut wanita yang ia pegang tersebut karena Riko takut teriakannya malah didengar oleh mereka. Riko langsung membawanya ke mobil dan langsung menghidupkan mobil itu kemudian pergi dari sana sesegera mungkin.
Wanita itu sangat ketakutan sekaligus bingung, dalam hatinya bertanya-tanya siapa gerangan dua pemuda yang membawanya itu, apakah mungkin mereka adalah anak buah dari orang yang mencarinya, ia berusaha turun karena sampai saat itu Riko dan Reno belum mengatakan apapun pada wanita itu, lalu wanita itu mulai panik dan berusaha membuka pintu mobil itu, tapi pintunya tetap tidak bisa dibuka, mobil sport miliknya hanya mempunyai dua bangku, oleh karena itu mereka di dalam sangat sempit ditambah lagi Reno yang berbadan besar membuatnya semakin terasa sempit.
“Siapa kalian? Lepasin aku!” teriak wanita itu panik, karena ia tidak mengenal mereka, ia sangat takut.
“Tenang aja kamu! Kami bukan orang jahat kok! Tadi kami melihat kamu dicariin oleh beberapa preman, emang mereka siapa sih?” tanyanya bingung pada wanita itu, mendengar apa yang ia katakan itu membuat wanita itu merasa sedikit lebih tenang.
“Hmm, bukan siapa-siapa! Makasih banget ya kamu udah bantuin aku,” jawabnya berterimakasih dengan nafas yang sangat berat. Ia tidak menjawab tentang siapa gerangan dua orang preman itu dan apa alasannya mencari wanita itu.
“Iiii … iya sama-sama! Sekarang kami harus anterin kamu kemana? Kamu katakan agar kami bisa langsung mengantarmu pulang,” sambung Riko bertanya tempat tinggal wanita yang sedang bersama dengannya itu dan berniat mengantarnya pulang, tapi ia malah menunduk dan tidak menjawab apa-apa. Reno yang berada di tengah-tengah mereka sangat bingung mengapa tidak ada jawaban, ia langsung menoleh kearah kanannya, dimana wanita itu duduk.
“Loe mau kami antar kemana? Ditanyain tuh, kok malah diem sih!” ujarnya pada wanita itu, Riko juga bingung dan mengerutkan keningnya.
“Aaa … aku gak punya rumah!” jawabnya singkat dan gemetaran. Sontak mereka berdua langsung melihat kearah wanita itu dan Riko langsung menginjak rem mobilnya.
“Gak punya rumah?” senggak Reno. Riko langsung memukul kecil pundak Reno mengisyaratkan agar tidak terlalu kasar dalam berbicara pada wanita itu. Lalu ia dengan tenang dan lembut bertanya pada wanita itu.
“Maksud kamu gak punya rumah bagaimana? Lalu kamu tinggal dimana?” tanya Riko lembut. Wanita itu melihat kearah Riko dengan mata berbinar menahan air matanya. Reno tak sanggup melihat binaran mata wanita itu dan ia tau itu bukan waktu yang tepat untuk bertanya.
“Ya sudah, kita lanjutkan jalan dulu, nanti di rumah kita bahas,” sambungnya lagi. Reno bingung dengan apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu.
“Maksud kamu apa Bro, kamu mau bawa dia kerumahmu, kita kan gak kenal sama dia, siapa tau dia itu punya niat jahat. Zaman sekarang masa gak punya rumah, kos kek,” sentaknya. Riko langsung mencubil perut buncitnya, dan menatapnya sinis. Sedangkan wanita itu tidak mengucapkan satu patah kata pun, ia hanya menunduk dan mencoba untuk menahan air matanya. Akhirnya beberapa menit setelah percakapan itu, mereka sampai di rumah Riko. Riko masih mempunyai ibu, namun ia sangat mandiri. Oleh karena itu ia memilih untuk tinggal sendiri di rumahnya yang lumayan besar dan ia tempati seoranng diri.
Mereka masuk ke rumah milik Riko tersebut, tapi wanita itu terlihat sangat terpukau melihat jejeran mobil mewah di depan rumah mewah nan besar itu karena garasi yang dimiliki oleh rumah itu tak cukup untuk menampun semua mobil itu. Wanita itu tak mau masuk, ia hanya berdiri di luar saja karena ia fikir di dalam rumah itu banyak orang sehingga ia malu dengan pakaian minim dan lebam di wajahnya.
“Ayo masuk! Kamu ngapain berdiri disana?” ajak Riko untuk masuk kerumah mewah miliknya itu.
“Aaa … aku gak mau!” jawabnya pelan dan tetap dalam keadaan menunduk.
“Kenapa? Duduk dulu nanti kita bicarakan tempat tinggalmu, aku bukan lelaki tanpa tanggung jawab yang membiarkan perempuan yang sudah aku tolong hidup lontang-lantung tidak memiliki tempat tinggal,” jawab Riko.
“Aku mau Mas, pakaianku minim dan wajahku lebam, nanti semua orang yang di rumah ini kebingungan melihatku,” sambung wanita tersebut.
“Ayo masuk!” ujar Riko dan menarik tangannya masuk ke rumah, sesampainya di dalam, Riko memintanya untuk tunggu di ruang tamu yang di sana sudah ada Reno mengemil makanan yang ada di meja. Sedangkan Riko masuk ke kamarnya. Tak lama setelah itu, Riko keluar membawa pakaian yang berada di kamar atas milik ibunnya, ibunya sering menginap di rumah itu dan selalu meninggalkan pakaiannya, pakaian yang di bawa oleh Riko itu sedikit terlalu besar dan panjang layaknya pakaian untuk menggunakan hijab.
“Ini pakai, pakaianmu tidak enak dipandang! Toilet disana!” ujarnya cuek, sambil meletakkan pakaian itu, ia juga menunjukkan arah toilet rumahnya. Wanita itu terlihat sanga bingung dan memerhatikan pakaian itu, ia belum pernah mengenakan pakaian tertutup seperti itu. Namun, karena ia tidak berani berbicara, ia langsung berdiri dan berjalan menuju toilet yang ditunjukkan oleh Riko tersebut.
“Ya sudah Bro, aku pulang ya sudah malam, nanti Nyak aku nyariin,” ucap Reno setelah ia memakan cemilan di meja, ia berniat untuk segera pulang . Riko malah sangat bingung, ia fikir Reno mau menginap dirumahnya, oleh karena itu ia membawa wanita itu pulang, tapi nyatanya Reno malah pulang.
“Hah, pulang? Kamu mau pulang Bro? ihh, jangan gitu dong, kamu menginap disini masa aku berdua aja sama wanita itu, rishi dong!” jawab Riko, meminta agar Reno menginap disana juga. Namun, Reno harus pulang karena ia hanya tinggal bersama ibunya dan ibunya belum berani tinggal dirumah sendirian.
“Ya ampun, sorry banget nih Bro, kamu kan tau Nyak aku gak berani tinggal di rumah sendirian. Karena kami kan belum lama pindah rumah Bro. Sekali lagi sorry banget Bro!” sambung Reno dan ia langsung keluar rumah ingin pulang ke rumahnya. Sekarang di rumah hanya ada Riko dan wanita itu, ia sangat tidak nyaman dengan itu, tapi kalau ia meminta untuk wanita itu pulang saja, ia merasa khawatir karena jika malam bukan waktu yang aman untuk seorang wanita diluar sendirian saja.
Tak berselang lama, wanita itu keluar dengan pakaian yang diberikan oleh Riko. Riko yang duduk di sofa ruang tamu sangat terpukau melihat betapa cantiknya kalau wanita itu mengenakan pakaian tertutup walaupun tidak menggunakan hijab. Namun, wanita itu merasa bingung karena saat ia melihat kesekeliling tidak ada keberadaan Reno. Ia kembali duduk dengan sangat lambat karena canggung dan takut.
“Dimana yang tadi?” tanyanya getir. Riko langsung terkejut dengan suaranya karena ia sempat melamun melihat wanita itu.
“Eh, sudah selesai? Yang tadi? Maksud kamu Reno?” tanyanya terbata-bata. (wanita itu mengangguk)
“Iya, tadi dia ada, tapi sekarang sudah tidak!” jawab wanita itu.
“Sudah pulang, kamu tidur di kamar saja ya!” sambung Riko pada wanita itu, ia meminta untuk wanita itu tidur di kamar tamu. Namun, karena tidak percaya pada orang baru, wanita itu berfikir untuk tidur di sofa saja, agar jika ada sesuatu ia bisa langsung lari keluar.
“Ti … tidak! Aku tidur di sini saja,” jawabnya menolak.
“Tidak!”

Chapter 3

Riko bingung, mengapa ia harus tidur di sofa kalau bisa tidur di ruang tamu saja, oleh karena itu Riko tidak mengizinkannya tidur di ruang tamu, karena ia takut wanita itu malah melakukan hal buruk padanya sehingga ia tidak mau tidur di kamar tamu. Di ruang tamu sangat banyak barang berharga yang bisa dijual mahal.
“Aku gak mau di kamar tamu!” jawabnya tetap menolak, tapi tetap dengan wajah ketakutan.
“Lalu kamu mau dikamarku dan aku dikamar tamu? Begitu?” senggak Riko yang mengira kalau ia ingin melakukan hal buruk. Namun, wanita itu menangis dan menunduk takut menutup telingannya, seperti ada trauma yang sudah ia alami dalam hidupnya. Melihat itu Riko malah merasa bersalah dengan semua yang sudah ia katakan pada wanita itu.
“Ma … maafin aku, aku gak sengaja bicara kasar padamu, hanya saja aku tidak bisa percaya padamu karena kamu itu wanita yang aku temukan di tempat yang tidak baik seperti Bar,” ujarnya meminta maaf dan apa alasannya tidak percaya pada wanita itu.
“Aa … aku memang wanita malam, tapi aku tidak pernah melakukan hal buruk pada orang lain, aku menolak tidur di kamar tamu karena aku takut kamu berniat buruk padaku dan jika aku disini maka aku bisa langsung lari,” jawab wanita itu menjelaskan alasannya pula. Ternyata alasan mereka karena tidak percaya akan orang baru. Riko semakin kasihan lagi padanya karena alasan mereka ternyata sama, ia tidak tau harus berkata apa, untuk sejenak ia hanya diam dan berfikir tentang wanita itu, tapi ia terkecoh dengan lebab di wajah wanita itu. Ia langsung pergi dari sana, wanita itu mengira ia sangat marah padanya sehingga ia meninggalkannya begitu saja. Wanita itu juga malah duduk di lantai karena ia tidak berani duduk di sofa mewah itu. Tak lama Riko datang dengan kotak putih berisikan alat P3K di tangannya, ia terkejut ketika ia melihat wanita itu bukan duduk di sofa malah duduk di lantai yang dingin.
“Hei kamu sedang apa duduk di lantai? Berdiri dan duduklah di sofa itu, aku akan mengobati lukamu!” perintahnya pada wanita itu. Dengan ragu wanita itu langsung berdiri dan ia duduk di sofa dengan sangat lambat. Ia langsung membuka kotak itu dan mengeluarkan kapas beserta betadine. Ia langsung mengusap lembut luka itu, sesekali meniupnya agar tidak terasa perih, ia mungkin tidak sadar kalau orang yang sedang di depannya itu adalah orang yang baru beberapa jam ia kenal. Waita itu sangat bingung, namun ia tidak berani mengatakan apa pun pada Riko, ia hanya melihat wajah Riko yang tulus merawatnya, ia hanya bisa menikmati untuk pertama kalinya ada lelaki yang tidak memperlakukannya kasar dan menjadikannya untuk memuaskan nafsu saja. Ia sangat menikmati sejuknya nafas Riko meniup wajahnya sehingga rambutnya terurai.
Riko sudah selesai mengobati lukanya dan tak sengaja menatap matanya, mereka saling bertatapan seakan sudah tumbuh setitik benih-benih cinta diantara mereka, Riko merasakan ada rasa yang sangat aneh ketika melihat sayu mata wanita cantik di hadapannya, ia tidak pernah merasakan hal itu dan ia bingung dengan hal itu, wanita itu juga merasakan sangat tenang dengan perlakuan baik Riko padanya, ia merasa bahwa ia sangat berharga untuk saat itu. Tapi momen itu tidak lama dan langsung berakhir karena dirusak oleh suara jatuhnya kotak P3K itu. Riko langsung terperanjak dan ia dengan segera kembali duduk di kursi bersebrangan dengan wanita itu.
“Sorry, oh iya kita belum kenalan namaku Riko,” ucapnya mengatakan namanya. Wanita itu dengan sangat canggung juga langsung mengatakan namannya.
“Namaku Nabila, aku-“
“Sudah, sekarang kamu tidurlah, nanti ambil saja selimut untukmu di lemari kaca itu!” seru Riko karena canggung langsung memotong pembicaraan mereka, ia menujukkan lemari tempat selimut dan naik masuk ke kamarnya untuk tidur.
Nabila tersenyuk kecil melihat Riko berjalan menelusuri anak tangga menuju kamarnya, Nabila merasa sangat bersyukur karena ia tidak diusir oleh Riko dan malah memberikannya tempat untuk menginap semalam. Riko juga tidak bertanya tentang latar belakangnya walaupun ia tau kalau Nabila itu adalah seorang wanita malam, Riko tidak membahas sama sekali, ia sangat menghargai privasi dari Nabila.
“Baru kali ini aku bertemu dengan pria sebaik dia, aku merasa sangat nyaman berada di dekatnya, tapi aku yakin ia pasti merasa sangat rishi dekat denganku karena aku ini seorang wanita malam!” ujarnya dalam hatinya. Lalu tak lama setalah ia mengambil selimut yang ditunjukkan oleh Riko, ia mencium baunya sangat harum, ia tau kalau Riko itu pasti adalah seorang pria yang mandiri. Tapi sejak tadi ia tidak melihat siapa pun di rumah itu, ia langsung berfikir mungkin semua orang sedang pergi.
Saat ia ingin menutup matanya untuk tidur, ponselnya bordering membuatnya kaget. Ia langsung membuka ponsel itu ternyata rekan kerjanya sedang mencarinya.
“Halo.” (berbisik)
“Hei, kamu dimana Beb, aku cariin ini kamu gak ada dimana-mana!” ujar temannya itu mencari keberadaannya.
“Aku udah pulang Beb, aku lagi gak enak badan nih. Tau gak sih? Tadi aku ketemu cowok, baik banget Beb,” sambungnya mengatakan Riko. Namun, temannya malah tertawa dan menggodanya.
“Kamu ketemu cowok yang mau ngasih kamu uang banyak ya Beb, itu baik mah minta dilayani lama tuh, berapa jam kamu sama dia?” tanyanya sambil tertawa mengira Nabila hanya bergurau saja.
“Ihh, kamu mah gak percayaan sama aku, ini aku lagi di rumahnya lho Beb, tapi aku takut nih makanya aku tidur di ruang tamu, kalau misalnya nanti ada apa-apa aku bisa lagi deh,” jelasnya kepada temanya itu.
“Kamu tidur di rumahnya, bisa sampai pagi tuh!” ejek temannya itu, ia mengira kalau Nabila menginap disana hanya untuk melayani pria itu.
“Hisss, kamu mah bercanda mulu, gak lho Beb, yasudah lah Beb ya, aku mau tidur kepalaku sakit banget nih, lagian gak enak nanti ia dengar!” serunya mengakhiri pembicaraan antara ia dan temannya sesame wanita malam itu.
“Oke dah Beb, have fun ya kamu sama pria kaya itu hahah,” ujar temannya dan langsung mengakhiri telpon itu. Mereka sesame wanita malam sudah paham satu sama lain walaupun terkadang ada persaingan diantara mereka. Tak lama setelah itu, Nabila langsung tidur. Tapi, setelah satu jam tertidur listrik di rumah itu padam karena Riko lupa mengisi token listrik. Nabila adalah wanita yang takut akan kegelapan, sedangkan di kamar utama yaitu kamar milik Riko mempunyai lampu otomatis yang tidak terlalu terang karena Riko juga tidak suka dengan kegelapan, tapi tidak suka juga jika tidur terlalu terang, oleh karena itu ia memodifikasi lampu tidurnya menjadi lampu yang agak redup dan itu menggunakan baterai sehingga jika listrik padam pun lampu itu tidak akan mati, ia tidak tau kalau listrik di luar mati. Nabila yang sangat ketakutan langsung berlari ke kamar milik Riko tanpa berfikir panjang lagi. Pintu yang tidak di kunci membuat ia bisa masuk dengan mudah ke kamar itu dan ia tidak melihat Riko dan tidak tau sama sekali kalau itu kamarnya itu.
Ia langsung berlari kekamar Riko dan masuk ke selimutnya, sehingga ia sudah berada dalam kamar yang sama dan sellimut yang sama pula dengan Riko. Mendengar bahkan ada suara ribut seperti orang berlari, Riko langsung terbangung dan alangkah terkejutnya ia ketika ia melihat Nabila sudah tepat di hadapan wajahnya hampir mengenai bibirnya.