Keluarga Sewaan
Language: id
/0/4025/coverbig.jpg?v=266867a0f8464ab0b8916a16976ebaf6)
Prima Jayashree, seorang pewaris keluarga Jayashree yang sudah naik tahta menjadi seorang CEO di perusahaan ayahnya, Jayashree Company. Prima dituntut untuk segera menikah dan memiliki pewaris selanjutnya Jayashree Company. Tuntutan itulah yang membawa Prima untuk liburan ke Jepang demi melepaskan rasa frustasinya. Dipandu oleh teman lama yang bekerja di Jepang, Prisma berkeliling kota Tokyo. Di hari kedua tour, Prima membaca sebuah selebaran yang menyewakan keluarga untuk menemaninya. Berbekal bahasa Jepang yang kurang fasih, Prima kemudian menyewa keluarga dengan anggota seorang…
Available chapters
Chapter 1
Gedung pencakar langit yang berdiri kokoh di tengah kota perindustrian dengan papan nama Jayashree Company itu secara bergantian dimasuki oleh para karyawannya. Di antara orang-orang itu, salah satu pria berwajah tirus, berhidung mancung khas Hindustan tampak gagah dengan setelan jas warna navy dengan dasi double windsor knot. Rambut potongan pomade tersisir rapi kebelakang dengan tambahan minyak rambut membuatnya tampil klimis. Senyum yang mampu meluluhkan hati para pekerja wanita setiap pagi itu mulai memasuki lobi dan melambaikan tangan kepada siapa saja yang berpapasan dengannya.
Prima Jayashree, itulah nama yang diberikan oleh ayahnya saat lahir kedunia. Tumbuh dengan penuh kasih sayang dan dimanja Sang Ayah. Ibunya, sudah meninggal lima belas tahun lalu karena kanker hati. Sebagai satu-satunya pewaris Jayashree Company, apapun yang diminta selalu dituruti oleh ayahnya.
Akan tetapi, kekayaan ayah dan pemenuhan kebutuhan lahir sama sekali belum membuat Prima puas akan hal itu. Terang saja, meski dekat dengan beberapa gadis, tidak ada satu pun yang bisa membuat hatinya bergetar.
"Pagi, Papa!" Prima masuk ke ruangan ayahnya tanpa mengetuk.
"Pagi, Nak! Seperti biasa kamu selalu tampil keren. Sudah cocok gantiin ayah beberapa tahun lagi, nih!" ujar ayahnya.
Prima melebarkan tangan, memperlihatkan penampilan dirinya dengan jas semi formal dengan dalaman kaus turtle neck warna putih.
"Aku setiap hari selalu sekeren Papa."
"Tapi, kamu tidak keren kalau masih jomblo. Papa bisa memperkenalkanmu kepada beberapa putri rekan bisnis Papa. Nanti malam ikutlah dalam acara perayaan kontrak. Ada banyak gadis di sana!" ajak Pak Dev Jayashree. Pria berbadan tambun itu mengulurkan kopi kaleng yang baru saja dia keluarkan dari mesin pendingin mini di atas nakas dekat mejanya.
"Papa gak usah repot-repot. Kalau ada jodoh juga pasti datang sendirinya." Alasan klasik Prima setiap kali diminta ayahnya untuk menikah atau mengajak Sang Putera ke acara-acara formal perusahaan.
"Selalu saja alasanmu begitu!" Pak Dev menepuk pundak puteranya yang tegap nan datar. Pundak itulah yang dia harapkan nantinya untuk meneruskan perusahaan. Pundak yang harus siap menanggung beban kekayaan yang dirasa tidak akan ada habis hingga tujuh keturunan nanti.
Prima melempar pantat di sofa mewah di ruangan ayahnya. Dia memutar tutup kaleng kopi kemudian menenggak sedikit. Tangan yang kekar meraih sebuah katalog furniture rumah di atas meja. Menopang buku tebal itu di atas kaki jenjang yang disilangkan.
"Permisi!" Suara lembut seorang wanita membuat mata Prima teralihkan dari katalog. Wanita dengan rok pendek lima senti di atas lutut dengan atasan berwarna senada itu mengedip nakal ke arah Prima. Rambutnya yang cokelat lurus melewati bahu dibiarkan tergerai dan ujungnya menjuntai melewati bahu. Polesan lipstik warna merah hati menghiasi bibirnya yang tipis. Make up yang natural tidak membuatnya kalah dengan artis Korea. Pokoknya, siapapun lelaki yang berpapasan dengan wanita seakan mampu terhipnotis oleh pesona kecantikannya.
"Pagi, Sayang!" Pak Dev memeluk mesra pinggang wanita yang ramping. Lalu mengecup mesra pipi wanita itu.
Prima tertegun melihat tingkah Sang Ayah langsung di depan mata. Kelopak mata dengan bulu lentik itu mengerjap beberapa kali.
"Ada yang perlu kutandatangi?" tanya Pak Dev pada wanita itu sembari melepaskan tangan yang melingkar di pinggan wanita itu.
"Tentu saja, Tuan!" ucapnya mesra sembari meletakkan map warna biru pudar di atas meja kerja mewah Pak Dev.
Pak Dev mengeluarkan kacamata dari balik saku jasnya kemudian menarik pulpen mewah dari kantong jas di dadanya. Pria itu mengambil tempat di kursi direktur. Memeriksa sebentar dokumen yang diberikan wanita tadi lalu membubuhkan tanda tangan setelah semua dirasa benar.
Selagi Pak Dev lengah, wanita itu menoleh ke arah Prima dan kembali melemparkan kedipan nakal. Bukannya terpesona, Prima malah bergidik geli.
"Sudah!" ucap Pak Dev sembari menutup map kemudian menyerahkannya kembali kepada si wanita.
Wanita itu mendekatkan wajah, menggoda dengan menunjukkan belahan tombol kebanggaan.
"Makasih!" ucap wanita itu genit. Dia menarik map kemudian melambai. Meninggalkan Pak Dev dan puteranya di ruangan itu.
"Apa itu tadi, Pa?" Prima masih terheran dengan wanita itu.
"Calon mama baru!"
"Hah?" Prima menelengkan kepala. Berharap ayahnya hanya bercanda.
Tingkah ayahnya semakin aneh saja beberapa tahun belakangan.
"Mana mungkin calon mamaku sepantaran denganku!" protes Prima pada ayahnya yang sedang tersenyum menyeringai.
"Hahaha, Prima ... Prima! Gak apa kalau Papa bersenang-senang saja sedikit menikmati masa tua. Kamu jangan kalah sama Papa, ya!"
"Pa!"
"Ya sudah, Papa tinggal dulu. Pokoknya kamu harus dapat pacar akhir tahun ini!"
Pak Dev melepas kacamatanya, mengedip nakal ke arah putra semata wayang yang duduk santai di sofa mewah ruang kerja. Sepeninggal ayahnya dari ruangan itu, Prima melengos asal-asalan, menegadahkan kepalanya ke langit-langit sambil bersandar pada daun sofa.
Prima memijat kepalanya yang tidak sakit. Pikirannya mulai melayang jauh tentang bagaiman jika wanita yang barusan itu benar-benar menjadi ibu sambungnya. Bisa-bisa dia ikut campur segala urusan batin Prima. Terlebih lagi, wanita itu ebih cocok menjadi saudara perempuan dibandingkan menjadi ibu karena sepantaran. Prima bergidik geli, dia berdecak, bibirnya kemudian bergetar.
"Sudah mulai jadi sugar daddy!"
Tingkah ayahnya di kantor sama sekali tidak pernah dia bayangkan akan seperti itu. Dibalik wibawa Sang Ayah yang selalu dia kagumi sebagai seorang pemimpin, kecerdasan dalam mengkoordinir tim dan ketegasan tanpa pandang bulu, Prima baru menyadari tingkah ayahnya itu sekarang. Seakan menyindir dirinya yang sampai saat ini masih menikmati masa lajang.
Terang saja, Pak Dev masih terlihat awet muda meski usianya sudah nyaris memasuki usia lima puluh dua tahun. Jika mereka berjalan berdua dalam sebuah kesempatan, Prima dan Pak Dev bahkan terlihat seperti kakak beradik. Kesalahpahaman di mata orang-orang yang sering terjadi. Tidak hanya itu, tubuh Pak Dev masih tampak bugar karena sering menyempatkan diri untuk berolahraga di waktu senggang.
Prima Jayashree, itulah nama yang diberikan oleh ayahnya saat lahir kedunia. Tumbuh dengan penuh kasih sayang dan dimanja Sang Ayah. Ibunya, sudah meninggal lima belas tahun lalu karena kanker hati. Sebagai satu-satunya pewaris Jayashree Company, apapun yang diminta selalu dituruti oleh ayahnya.
Akan tetapi, kekayaan ayah dan pemenuhan kebutuhan lahir sama sekali belum membuat Prima puas akan hal itu. Terang saja, meski dekat dengan beberapa gadis, tidak ada satu pun yang bisa membuat hatinya bergetar.
"Pagi, Papa!" Prima masuk ke ruangan ayahnya tanpa mengetuk.
"Pagi, Nak! Seperti biasa kamu selalu tampil keren. Sudah cocok gantiin ayah beberapa tahun lagi, nih!" ujar ayahnya.
Prima melebarkan tangan, memperlihatkan penampilan dirinya dengan jas semi formal dengan dalaman kaus turtle neck warna putih.
"Aku setiap hari selalu sekeren Papa."
"Tapi, kamu tidak keren kalau masih jomblo. Papa bisa memperkenalkanmu kepada beberapa putri rekan bisnis Papa. Nanti malam ikutlah dalam acara perayaan kontrak. Ada banyak gadis di sana!" ajak Pak Dev Jayashree. Pria berbadan tambun itu mengulurkan kopi kaleng yang baru saja dia keluarkan dari mesin pendingin mini di atas nakas dekat mejanya.
"Papa gak usah repot-repot. Kalau ada jodoh juga pasti datang sendirinya." Alasan klasik Prima setiap kali diminta ayahnya untuk menikah atau mengajak Sang Putera ke acara-acara formal perusahaan.
"Selalu saja alasanmu begitu!" Pak Dev menepuk pundak puteranya yang tegap nan datar. Pundak itulah yang dia harapkan nantinya untuk meneruskan perusahaan. Pundak yang harus siap menanggung beban kekayaan yang dirasa tidak akan ada habis hingga tujuh keturunan nanti.
Prima melempar pantat di sofa mewah di ruangan ayahnya. Dia memutar tutup kaleng kopi kemudian menenggak sedikit. Tangan yang kekar meraih sebuah katalog furniture rumah di atas meja. Menopang buku tebal itu di atas kaki jenjang yang disilangkan.
"Permisi!" Suara lembut seorang wanita membuat mata Prima teralihkan dari katalog. Wanita dengan rok pendek lima senti di atas lutut dengan atasan berwarna senada itu mengedip nakal ke arah Prima. Rambutnya yang cokelat lurus melewati bahu dibiarkan tergerai dan ujungnya menjuntai melewati bahu. Polesan lipstik warna merah hati menghiasi bibirnya yang tipis. Make up yang natural tidak membuatnya kalah dengan artis Korea. Pokoknya, siapapun lelaki yang berpapasan dengan wanita seakan mampu terhipnotis oleh pesona kecantikannya.
"Pagi, Sayang!" Pak Dev memeluk mesra pinggang wanita yang ramping. Lalu mengecup mesra pipi wanita itu.
Prima tertegun melihat tingkah Sang Ayah langsung di depan mata. Kelopak mata dengan bulu lentik itu mengerjap beberapa kali.
"Ada yang perlu kutandatangi?" tanya Pak Dev pada wanita itu sembari melepaskan tangan yang melingkar di pinggan wanita itu.
"Tentu saja, Tuan!" ucapnya mesra sembari meletakkan map warna biru pudar di atas meja kerja mewah Pak Dev.
Pak Dev mengeluarkan kacamata dari balik saku jasnya kemudian menarik pulpen mewah dari kantong jas di dadanya. Pria itu mengambil tempat di kursi direktur. Memeriksa sebentar dokumen yang diberikan wanita tadi lalu membubuhkan tanda tangan setelah semua dirasa benar.
Selagi Pak Dev lengah, wanita itu menoleh ke arah Prima dan kembali melemparkan kedipan nakal. Bukannya terpesona, Prima malah bergidik geli.
"Sudah!" ucap Pak Dev sembari menutup map kemudian menyerahkannya kembali kepada si wanita.
Wanita itu mendekatkan wajah, menggoda dengan menunjukkan belahan tombol kebanggaan.
"Makasih!" ucap wanita itu genit. Dia menarik map kemudian melambai. Meninggalkan Pak Dev dan puteranya di ruangan itu.
"Apa itu tadi, Pa?" Prima masih terheran dengan wanita itu.
"Calon mama baru!"
"Hah?" Prima menelengkan kepala. Berharap ayahnya hanya bercanda.
Tingkah ayahnya semakin aneh saja beberapa tahun belakangan.
"Mana mungkin calon mamaku sepantaran denganku!" protes Prima pada ayahnya yang sedang tersenyum menyeringai.
"Hahaha, Prima ... Prima! Gak apa kalau Papa bersenang-senang saja sedikit menikmati masa tua. Kamu jangan kalah sama Papa, ya!"
"Pa!"
"Ya sudah, Papa tinggal dulu. Pokoknya kamu harus dapat pacar akhir tahun ini!"
Pak Dev melepas kacamatanya, mengedip nakal ke arah putra semata wayang yang duduk santai di sofa mewah ruang kerja. Sepeninggal ayahnya dari ruangan itu, Prima melengos asal-asalan, menegadahkan kepalanya ke langit-langit sambil bersandar pada daun sofa.
Prima memijat kepalanya yang tidak sakit. Pikirannya mulai melayang jauh tentang bagaiman jika wanita yang barusan itu benar-benar menjadi ibu sambungnya. Bisa-bisa dia ikut campur segala urusan batin Prima. Terlebih lagi, wanita itu ebih cocok menjadi saudara perempuan dibandingkan menjadi ibu karena sepantaran. Prima bergidik geli, dia berdecak, bibirnya kemudian bergetar.
"Sudah mulai jadi sugar daddy!"
Tingkah ayahnya di kantor sama sekali tidak pernah dia bayangkan akan seperti itu. Dibalik wibawa Sang Ayah yang selalu dia kagumi sebagai seorang pemimpin, kecerdasan dalam mengkoordinir tim dan ketegasan tanpa pandang bulu, Prima baru menyadari tingkah ayahnya itu sekarang. Seakan menyindir dirinya yang sampai saat ini masih menikmati masa lajang.
Terang saja, Pak Dev masih terlihat awet muda meski usianya sudah nyaris memasuki usia lima puluh dua tahun. Jika mereka berjalan berdua dalam sebuah kesempatan, Prima dan Pak Dev bahkan terlihat seperti kakak beradik. Kesalahpahaman di mata orang-orang yang sering terjadi. Tidak hanya itu, tubuh Pak Dev masih tampak bugar karena sering menyempatkan diri untuk berolahraga di waktu senggang.
Chapter 2
Auditorium sebuah hotel mewah malam itu dipenuhi orang-orang dari kalangan kelas atas. Pesta sedang berlangsung di ruangan yang mulai krodit. Mengantarkan para elit larut ke dalam suasana. Ada yang mengobrol, menikmati prasmanan yang disajikan, duduk di sofa membentuk grup kecil sembari menikmati whiskey. Beberapa dari mereka bahkan mencari teman untuk berdansa. Tidak satu pun yang hadir di sana berpakaian biasa saja. Semua tampil seelegan mungkin termasuk yang hanya berstatus staf di kantor.
Pesta malam itu diselanggarakan oleh Pak Dev untuk merayakan satu dekade berdirinya Jayashree Company. Sebuah pesta yang mewah bagi ayahnya, tapi terkesan biasa saja bagi Prima. Sebenarnya, Prima tidak ingin datang ke acara membosankan seperti ini, tapi demi menghormati Sang Ayah, dengan terpaksa dia menanggalkan keinginan untuk diam di rumah saja atau menghabiskan waktu di depan layar dengan playstation keluaran terbaru.
Prima hanya duduk di sofa empuk warna marun sambil sesekali meneguk whiskey mahal di dalam gelas kaca. Menyaksikan orang-orang berdansa di bawah lampu temaram.
"Mau gabung dansa?” Seorang wanita berdress formal warna marun menghampiri Prima.
“Makasih, tapi gak minat!” tolak Prima diiringi senyum terpaksa. Ditolak seperti itu, Sang Wanita melenggang dengan wajah kesal kemudian membaur ke dalam kerumunan dansa. Mencari pasangan setelah ajakannya ditolak oleh Prima.
Musik pun perlahan mulai memudar, pesta dansa terhenti saat Sang CEO berdiri di podium. Lampu pun menyala terang bersamaan dengan berhentinya alunan musik dansa. Sosok Pak Dev yang tampak gagah dengan windsor knot di atas panggung. Mereka yang tadinya larut dalam alunan musik dan dansa pun menghentikan aktivitasnya. Semua mata tertuju pada Sang Pemimpin dan bersiap mendengarkan pidato.
“Selamat malam, saudara-saudara!" Kalimat pembuka singkat. "Senang sekali kalian semua bisa hadir di acara satu dekade berdirinya Jayashree Company. Tepuk tangan dulu untuk Jayashree Company!”
Riuh tepuk tangan pun menggema di ruangan itu untuk beberapa saat. Di tengah-tengah itu juga terdengar seruan. Lalu, tepuk tangan mereda saat Sang CEO mengangkat kedua tangan.
“Malam ini, ada pengumuman penting!”
Kali ini mereka bertanya-tanya, entah pengumuman apa yang akan disampaikan. Hampir semua memasang telinga. Kecuali Prima, dia masih asik bermain dengan smartphone di tempat duduknya.
“Putera saya, Prima Jayashree akan meneruskan kepemimpinan saya di Jayashree Company.”
Prima tersentak, smartphone yang dia genggam hampir saja meloncat dari tangannya. Dia memandang ayahnya di podium. Kebingungan dengan pengumuman yang mendadak.
“Kenapa harus aku?” tanya Prima dalam hati.
“Kepada Prima, disilakan untuk maju ke depan!” pinta Pak Dev. Prima menoleh sekelilingnya, semua mata hanya tertuju pada Sang Pewaris Jayashree Company saat dia mulai berjalan ke podium dengan langkah gemetar. Prima naik ke podium, berdiri bersebelahan dengan ayahnya. Entah bagaimana perasaannya di atas podium. Tangan Prima tidak bisa diam menahan gugup sekaligus kebingungan.
“Perkenlakan, Prima Jayashree. Pewaris Jayashree Company. Masih bujang, sedang mencari pasangan, mapan kay-,”
“Papa, udah Pa!” Prima menghentikan ayahnya sebelum ngelantur tidak jelas tentang status dirinya.
“Maksud saya, silakan mengucapkan sepatah dua patah kata!”pinta Pak Dev lalu memberi tempat untuk Prima di belakang stand mic untuk menyampaikan pidato. Prima melirik ayahnya beberapa detik kemudian mulai bicara setelah ayahnya mengangguk seakan berkata, "Ayo pidato, kamu calon CEO!"
“Halo … Ehm, hai!”Demam panggung, kaki prima masih kembali gemetar, mendadak kehilangan kata-kata. Dia tidak mempersiapkan hal ini sebelumnya karena ayahnya tidak membahas apapun soal penerus sebagai CEO. Suasan jadi hening, semua hadirin melongo menantikan kalimat berikutnya dari Sang Calon CEO muda. Akan tetapi, keriuhan kembali terjadi saat Prima berkata, "Selamat menikmati acara malam ini!”
Prima turun dari podium diiringi tepuk tangan riuh yang terdengar dipaksakan, seakan yang hadir di sana kecewa dengan sambutannya. Wajah Prima itu merona karena malu. Sebagai seorang putera CEO, dia seharusnya bisa menyampaikan pidato lebih dari sekedar ucapan untuk menikmati pesta. Demam panggung membuat Prima tidak bisa menahan kantung kemih yang sudah penuh dengan cairan.
“Sialan, apa sih yang tadi aku bilang!" Prima mengumpat sembari mengeluarkan kejantannya ke arah urinal. Suara gemerisik kemudian terdengar mengucur dari urinal, membuang hasil metabolisme yang membuat kantung kemihnya sesak. Setelah lega, Prima mencuci tangan di washtafel, lantas memastikan resleting celananya sudah tertutup dengan benar. Dia tidak ingin malu untuk kedua kalinya hanya karena resleting celana setelah sambutan di depan para pengusaha elit rekanan ayahnya.
Sekembalinya dari toilet, Prima kira ayahnya sudah berhenti berpidato, tapi dugaannya salah. Kali ini ayahnya berdiri bersama seorang wanita di sebelahnya.
"Selain pengumunan CEO yang baru, ada satu pengumuman gembira lagi dari saya."
"Pasti pengumuman aneh lagi." Prima menerka sembari melipat tangan di depan dada.
"Beberapa bulan lagi saya akan membentuk rumah tangga baru."
Kembali riuh tepuk tangan dari para hadirin memenuhi ruangan itu, tapi tidak dengan Prima. Dia malah tersentak, jantungnya nyaris saja melompat mendengar pengumuman ayah di atas podium.Sudah setua itu, ayahnya ingin menikah lagi dengan wanita yang jauh lebih muda darinya. Bahkan, Prima belum mengenal wanita bakal calon ibu sambungnya itu.
"Sekian pengumuman kali ini. Tidak ada pidato yang serius dan silakan lanjutkan pestanya," ucap Sang CEO.
Musik pun kembali mengalun, lampu temaram kembali dinyalakan mengiringi langkah Pak Dev dan calon istrinya turun dari podium.
“Papa!" pekik Prima seraya mendekat ke ayahnya.
“Ini gak benar, kan?”Prima memandang pria yang sudah membesarkannya lurus-lurus.
“Maksudnya bagaimana? Oh, ya. Kamu belum kenal, ya. Ini adalah Fyneen Raharja, calon ibumu.”
“Kenapa harus wanita ini, Pa? tanya Prima.
Mendengar pertanyaan puteranya, Pak Dev menarik tangan Prima ke depan konter bar setelah meminta izin dari calon istrinya.
“Apa Papa serius soal pernikahan ini?" Prima langsung menyerang ayahnya dengan pertanyaan. Dia masih belum bisa menerima kenyataan ayahnya akan menikah.
“Prima, Papa butuh seseorang yang mau menemani Papa. Papa bahagia dengan Fyneen.”
Prima mengusap wajah, tidak habis pikir dengan keputusan ayahnya.
“Kenapa bukan wanita yang sepantaran dengan Papa? Kenapa harus wanit genit itu?" tanya Prima seraya melirik Fyneen yang membaur dengan tamu.
“Apa Papa habis kejedot sampai otak Papa rada geser?”
“Apa kamu merasa kalah dari Papa soal percintaan?”
“Bukan begitu!" sanggah Prima.
“Kalau begitu, menikahlah sebelum akhir tahun! Jayashree Company harus punya penerus!" Pak Dev menepuk pundak Prima, melenggang begitu saja ke arah Fyneen.
Prima mengembuskan napas pelan. Tidak mungkin dia bisa menikah atau bahkan mendapatkan pasangan sebelum akhir tahun. Hal yang mustahil bagi Prima setelah sekian lama nyaman dengan kesendirian.
Pesta malam itu diselanggarakan oleh Pak Dev untuk merayakan satu dekade berdirinya Jayashree Company. Sebuah pesta yang mewah bagi ayahnya, tapi terkesan biasa saja bagi Prima. Sebenarnya, Prima tidak ingin datang ke acara membosankan seperti ini, tapi demi menghormati Sang Ayah, dengan terpaksa dia menanggalkan keinginan untuk diam di rumah saja atau menghabiskan waktu di depan layar dengan playstation keluaran terbaru.
Prima hanya duduk di sofa empuk warna marun sambil sesekali meneguk whiskey mahal di dalam gelas kaca. Menyaksikan orang-orang berdansa di bawah lampu temaram.
"Mau gabung dansa?” Seorang wanita berdress formal warna marun menghampiri Prima.
“Makasih, tapi gak minat!” tolak Prima diiringi senyum terpaksa. Ditolak seperti itu, Sang Wanita melenggang dengan wajah kesal kemudian membaur ke dalam kerumunan dansa. Mencari pasangan setelah ajakannya ditolak oleh Prima.
Musik pun perlahan mulai memudar, pesta dansa terhenti saat Sang CEO berdiri di podium. Lampu pun menyala terang bersamaan dengan berhentinya alunan musik dansa. Sosok Pak Dev yang tampak gagah dengan windsor knot di atas panggung. Mereka yang tadinya larut dalam alunan musik dan dansa pun menghentikan aktivitasnya. Semua mata tertuju pada Sang Pemimpin dan bersiap mendengarkan pidato.
“Selamat malam, saudara-saudara!" Kalimat pembuka singkat. "Senang sekali kalian semua bisa hadir di acara satu dekade berdirinya Jayashree Company. Tepuk tangan dulu untuk Jayashree Company!”
Riuh tepuk tangan pun menggema di ruangan itu untuk beberapa saat. Di tengah-tengah itu juga terdengar seruan. Lalu, tepuk tangan mereda saat Sang CEO mengangkat kedua tangan.
“Malam ini, ada pengumuman penting!”
Kali ini mereka bertanya-tanya, entah pengumuman apa yang akan disampaikan. Hampir semua memasang telinga. Kecuali Prima, dia masih asik bermain dengan smartphone di tempat duduknya.
“Putera saya, Prima Jayashree akan meneruskan kepemimpinan saya di Jayashree Company.”
Prima tersentak, smartphone yang dia genggam hampir saja meloncat dari tangannya. Dia memandang ayahnya di podium. Kebingungan dengan pengumuman yang mendadak.
“Kenapa harus aku?” tanya Prima dalam hati.
“Kepada Prima, disilakan untuk maju ke depan!” pinta Pak Dev. Prima menoleh sekelilingnya, semua mata hanya tertuju pada Sang Pewaris Jayashree Company saat dia mulai berjalan ke podium dengan langkah gemetar. Prima naik ke podium, berdiri bersebelahan dengan ayahnya. Entah bagaimana perasaannya di atas podium. Tangan Prima tidak bisa diam menahan gugup sekaligus kebingungan.
“Perkenlakan, Prima Jayashree. Pewaris Jayashree Company. Masih bujang, sedang mencari pasangan, mapan kay-,”
“Papa, udah Pa!” Prima menghentikan ayahnya sebelum ngelantur tidak jelas tentang status dirinya.
“Maksud saya, silakan mengucapkan sepatah dua patah kata!”pinta Pak Dev lalu memberi tempat untuk Prima di belakang stand mic untuk menyampaikan pidato. Prima melirik ayahnya beberapa detik kemudian mulai bicara setelah ayahnya mengangguk seakan berkata, "Ayo pidato, kamu calon CEO!"
“Halo … Ehm, hai!”Demam panggung, kaki prima masih kembali gemetar, mendadak kehilangan kata-kata. Dia tidak mempersiapkan hal ini sebelumnya karena ayahnya tidak membahas apapun soal penerus sebagai CEO. Suasan jadi hening, semua hadirin melongo menantikan kalimat berikutnya dari Sang Calon CEO muda. Akan tetapi, keriuhan kembali terjadi saat Prima berkata, "Selamat menikmati acara malam ini!”
Prima turun dari podium diiringi tepuk tangan riuh yang terdengar dipaksakan, seakan yang hadir di sana kecewa dengan sambutannya. Wajah Prima itu merona karena malu. Sebagai seorang putera CEO, dia seharusnya bisa menyampaikan pidato lebih dari sekedar ucapan untuk menikmati pesta. Demam panggung membuat Prima tidak bisa menahan kantung kemih yang sudah penuh dengan cairan.
“Sialan, apa sih yang tadi aku bilang!" Prima mengumpat sembari mengeluarkan kejantannya ke arah urinal. Suara gemerisik kemudian terdengar mengucur dari urinal, membuang hasil metabolisme yang membuat kantung kemihnya sesak. Setelah lega, Prima mencuci tangan di washtafel, lantas memastikan resleting celananya sudah tertutup dengan benar. Dia tidak ingin malu untuk kedua kalinya hanya karena resleting celana setelah sambutan di depan para pengusaha elit rekanan ayahnya.
Sekembalinya dari toilet, Prima kira ayahnya sudah berhenti berpidato, tapi dugaannya salah. Kali ini ayahnya berdiri bersama seorang wanita di sebelahnya.
"Selain pengumunan CEO yang baru, ada satu pengumuman gembira lagi dari saya."
"Pasti pengumuman aneh lagi." Prima menerka sembari melipat tangan di depan dada.
"Beberapa bulan lagi saya akan membentuk rumah tangga baru."
Kembali riuh tepuk tangan dari para hadirin memenuhi ruangan itu, tapi tidak dengan Prima. Dia malah tersentak, jantungnya nyaris saja melompat mendengar pengumuman ayah di atas podium.Sudah setua itu, ayahnya ingin menikah lagi dengan wanita yang jauh lebih muda darinya. Bahkan, Prima belum mengenal wanita bakal calon ibu sambungnya itu.
"Sekian pengumuman kali ini. Tidak ada pidato yang serius dan silakan lanjutkan pestanya," ucap Sang CEO.
Musik pun kembali mengalun, lampu temaram kembali dinyalakan mengiringi langkah Pak Dev dan calon istrinya turun dari podium.
“Papa!" pekik Prima seraya mendekat ke ayahnya.
“Ini gak benar, kan?”Prima memandang pria yang sudah membesarkannya lurus-lurus.
“Maksudnya bagaimana? Oh, ya. Kamu belum kenal, ya. Ini adalah Fyneen Raharja, calon ibumu.”
“Kenapa harus wanita ini, Pa? tanya Prima.
Mendengar pertanyaan puteranya, Pak Dev menarik tangan Prima ke depan konter bar setelah meminta izin dari calon istrinya.
“Apa Papa serius soal pernikahan ini?" Prima langsung menyerang ayahnya dengan pertanyaan. Dia masih belum bisa menerima kenyataan ayahnya akan menikah.
“Prima, Papa butuh seseorang yang mau menemani Papa. Papa bahagia dengan Fyneen.”
Prima mengusap wajah, tidak habis pikir dengan keputusan ayahnya.
“Kenapa bukan wanita yang sepantaran dengan Papa? Kenapa harus wanit genit itu?" tanya Prima seraya melirik Fyneen yang membaur dengan tamu.
“Apa Papa habis kejedot sampai otak Papa rada geser?”
“Apa kamu merasa kalah dari Papa soal percintaan?”
“Bukan begitu!" sanggah Prima.
“Kalau begitu, menikahlah sebelum akhir tahun! Jayashree Company harus punya penerus!" Pak Dev menepuk pundak Prima, melenggang begitu saja ke arah Fyneen.
Prima mengembuskan napas pelan. Tidak mungkin dia bisa menikah atau bahkan mendapatkan pasangan sebelum akhir tahun. Hal yang mustahil bagi Prima setelah sekian lama nyaman dengan kesendirian.
Chapter 3
Terkadang kita diberi kesempatan untuk menjaga jodoh orang lain agar belajar mengikhlaskan. Mungkin itulah alasan yang menyisakan trauma di hati Prima. Berkali-kali dia pernah ditinggal menikah oleh wanita yang menjadi kekasihnya. Entah karma apa yang melekat pada dirinya yang tampan itu, tetapi itulah yang terjadi.
Satu hal yang membuat Prima mengunci rapat-rapat pintu hatinya adalah ditinggal mati kekasihnya yang terakhir karena kanker rahim. Pukulan takdir tepat mengenai dadanya, meremukan hati yang sudah hancur menjadi kepingan. Padahal, Prima sudah yakin untuk menambatkan hatinya pada Kaluna sebagai pelabuhan terakhir, tetapi takdir mengungkap kebenaran tentang penyakit Kaluna baru sebulan sebelum kematian Kaluna.
Matahari sore menyinari dua insan yang duduk di tepi danau Angin berembus mesra seakan mendukung suasana romantis dua anak manusia yang sedang dimabuk oleh asmara. Kaluna menyandarkan kepalanya pada pundak kanan Prima. Menggengam erat tangan kekasih Prima yang kekar.
“Kamu bahagia denganku?" tanya Kaluna lirih.
“Jangan tanya lagi. Sudah pasti,” jawab Prima lembut lantas mencium tangan kurus Kaluna.
Kaluna, seperti namanya yang berarti 'tidak ada yang lain,' seperti itulah Prima tidak ingin menempatkan orang lain di hatinya. Kaluna sudah bertahta di hati pria berwajah Hindustan itu. Prima mengeluarkan sebuah kotak cincin dari saku depan celana pendek warna krem. Membuat Kaluna berhasil mengangkat kepala yang sudah terlanjur nyaman di pundak Prima. Sebuah cincin emas yang disodorkan Prima begitu menyenangkan hati Kaluna.
“Mau jadi istriku? Prima menyunggingkan senyum meski ajakan untuk hidup bersama itu jauh dari kata romantis atau cara yang diidamkan wanita. Kaluna tidak bisa membendung air mata kebahagiaan. Sampai-sampai dia menutup mulutnya.
Kaluna menatap lekat-lekat benda berkilau yang masih bertengger di dalam kotak berwarna merah marun itu. Semakin lama wanita berwajah Hindustan itu memandang perhiasan di depannya, semakin wajahnya muram. Memberengut seakan keraguan baru saja menyerang dadanya.
“Kamu kenapa?” Prima menyadari perubahan air muka kekasihnya.
“Anu …”
“Kaluna Nadiswara, sekali lagi aku tanya. Apa kamu mau jadi istriku? Kali ini Prima memandang ke dalam mata Kaluna. Menanti sebuah jawaban yang menentukan arah hatinya. Akankah patah atau malah kali ini takdir berpihak pada dirinya.
Kaluna tertunduk. Dalam hati Kaluna sebenarnya ingin menjawab iya, tetapi Kaluna menyadari pada akhirnya dia akan meninggalkan Prima dalam kesendirian untuk selamanya. Wanita itu ingat akan vonis dokter yang menyatakan dia tidak akan hidup lebih dari tiga bulan. Bahkan, selama ini sebisa mungkin Kaluna nyembunyikan deritanya dari Prima. Dengan berdusta begitu saja hati Kaluna selalu gelisah. Alih-alih tidak ingin membuat Prima khawatir, dia justru merasa berdosa karena kebohongan yang dibuat tentang penyakit yang menggerogoti rahimnya.
“A … Aku.” Kaluna bergetar. Namun, tanpa sebab yang tidak Prima mengerti, Kaluna tiba-tiba berdiri, berlari begitu saja masuk ke dalam mobil.
“Kaluna!”Teriakan Prima bahkan tidak dihiraukan. Kaluna malah menyalakan mesin lantas melajukan kendaraan. Meninggalkan Prima dalam kebingungan di pinggir danau.
“Apa yang salah?" Prima bertanya pada diri sendiri. Tingkah Kaluna membuat pikirannya kalut diserang pertanyaan.
“Apa dia belum siap? Apa ini terlalu cepat untuk menjadikannya istri?Begitulah pertanyaan yang muncul di balik tempurung kepala Prima. Prima mengusap muka sembari memandang cincin emas di tangannya. Padahal di sore yang romantis seakan semesta mendukung, Prima ingin sekali mendengar jawaban Kaluna lalu melingkarkan cincin di jari manis Kaluna yang lentik.
***
Di ruang tengah, Prima duduk sambil memegang kotak cincin yang hendak dia berikan pada Kaluna. Beberapa kali dia membolak-balik kotak cincin. Ingin sekali pria berwajah Hindustan itu menghubungi Kaluna, tetapi Prima lebih memilih menggenggam ponsel di tangan kanannya lalu memandangi gambar Kaluna di layar benda pipih yang dia atur sebagai wallpaper. Alih-alih mempertanyakan sikap Kaluna yang melenggang tanpa jawaban, Prima memilih tidak menghubungi Kaluna sementara waktu. Memberi ruang untuk Kaluna berpikir tentang lamarannya
“Besok saja aku datang ke rumahnya!" ucap Prima sembari memandang langit-langit.
Setelah membersihkan diri, Prima merebahkan badan di atas king size. Mengerjap-ngerjapkan mata beberapa kali. Pikirannya tidak bisa lepas dari Kaluna yang bersikap aneh dan meninggalkannya di pinggir danau tanpa jawaban apapun. Padahal, Prima berniat serius kali ini dan tidak ingin membuang-buang waktu. Prima takut patah hati lagi jika dia tidak segera melamar Kaluna. Namun, tidak seperti yang dia harapkan. Jawaban tidak Prima dapatkan dari Sang Kekasih.
Prima memiringkan badan, menenggelamkan wajah ke bantal seraya meraih smartphone miliknya. Tidak kunjung juga ada notifikasi pesan dari Kaluna. Prima menekan aplikasi chat, mengetik di dalam kolom percakapan, tetapi Prima kembali menghapus kalimat yang sudah dia ketik karena keraguan di dada.
"Dia marah gak, ya?" tanya Prima pada diri sendiri. Prima tidak lantas tertidur di kasur yang nyaman, sesekali dia melempar smartphoe ke atas bantal, diambilnya lagi, dilempar lalu diambil lagi seraya berharap ada chat masuk dari Kaluna.
Akan tetapi, tidak kunjung ada notifikasi yang masuk selain chat grup pertemanan yang membuatnya harap-harap cemas setiap kali suara katak tanda chat masuk berbunyi, Prima semakin malah gelisah. Menilai diri sendiri apakah dia salah karena berniat melamar Kaluna terlalu cepat atau Kaluna memiliki hati lain untuk tambatan. Pertanyaan yang terakhir itu semakin membuat dirinya kalut lagi.
Setelah beberapa kali ditinggal menikah oleh beberapa wanita dalam hidupnya, Prima sangat hati-hati dalam memilih wanita sampai dia menemukan Kaluna yang mampu membuat hatinya yang patah kembali utuh. Hanya Kaluna yang mampu membuka gembok berkarat yang terkunci kuat di hati Prima.
Satu hal yang membuat Prima mengunci rapat-rapat pintu hatinya adalah ditinggal mati kekasihnya yang terakhir karena kanker rahim. Pukulan takdir tepat mengenai dadanya, meremukan hati yang sudah hancur menjadi kepingan. Padahal, Prima sudah yakin untuk menambatkan hatinya pada Kaluna sebagai pelabuhan terakhir, tetapi takdir mengungkap kebenaran tentang penyakit Kaluna baru sebulan sebelum kematian Kaluna.
Matahari sore menyinari dua insan yang duduk di tepi danau Angin berembus mesra seakan mendukung suasana romantis dua anak manusia yang sedang dimabuk oleh asmara. Kaluna menyandarkan kepalanya pada pundak kanan Prima. Menggengam erat tangan kekasih Prima yang kekar.
“Kamu bahagia denganku?" tanya Kaluna lirih.
“Jangan tanya lagi. Sudah pasti,” jawab Prima lembut lantas mencium tangan kurus Kaluna.
Kaluna, seperti namanya yang berarti 'tidak ada yang lain,' seperti itulah Prima tidak ingin menempatkan orang lain di hatinya. Kaluna sudah bertahta di hati pria berwajah Hindustan itu. Prima mengeluarkan sebuah kotak cincin dari saku depan celana pendek warna krem. Membuat Kaluna berhasil mengangkat kepala yang sudah terlanjur nyaman di pundak Prima. Sebuah cincin emas yang disodorkan Prima begitu menyenangkan hati Kaluna.
“Mau jadi istriku? Prima menyunggingkan senyum meski ajakan untuk hidup bersama itu jauh dari kata romantis atau cara yang diidamkan wanita. Kaluna tidak bisa membendung air mata kebahagiaan. Sampai-sampai dia menutup mulutnya.
Kaluna menatap lekat-lekat benda berkilau yang masih bertengger di dalam kotak berwarna merah marun itu. Semakin lama wanita berwajah Hindustan itu memandang perhiasan di depannya, semakin wajahnya muram. Memberengut seakan keraguan baru saja menyerang dadanya.
“Kamu kenapa?” Prima menyadari perubahan air muka kekasihnya.
“Anu …”
“Kaluna Nadiswara, sekali lagi aku tanya. Apa kamu mau jadi istriku? Kali ini Prima memandang ke dalam mata Kaluna. Menanti sebuah jawaban yang menentukan arah hatinya. Akankah patah atau malah kali ini takdir berpihak pada dirinya.
Kaluna tertunduk. Dalam hati Kaluna sebenarnya ingin menjawab iya, tetapi Kaluna menyadari pada akhirnya dia akan meninggalkan Prima dalam kesendirian untuk selamanya. Wanita itu ingat akan vonis dokter yang menyatakan dia tidak akan hidup lebih dari tiga bulan. Bahkan, selama ini sebisa mungkin Kaluna nyembunyikan deritanya dari Prima. Dengan berdusta begitu saja hati Kaluna selalu gelisah. Alih-alih tidak ingin membuat Prima khawatir, dia justru merasa berdosa karena kebohongan yang dibuat tentang penyakit yang menggerogoti rahimnya.
“A … Aku.” Kaluna bergetar. Namun, tanpa sebab yang tidak Prima mengerti, Kaluna tiba-tiba berdiri, berlari begitu saja masuk ke dalam mobil.
“Kaluna!”Teriakan Prima bahkan tidak dihiraukan. Kaluna malah menyalakan mesin lantas melajukan kendaraan. Meninggalkan Prima dalam kebingungan di pinggir danau.
“Apa yang salah?" Prima bertanya pada diri sendiri. Tingkah Kaluna membuat pikirannya kalut diserang pertanyaan.
“Apa dia belum siap? Apa ini terlalu cepat untuk menjadikannya istri?Begitulah pertanyaan yang muncul di balik tempurung kepala Prima. Prima mengusap muka sembari memandang cincin emas di tangannya. Padahal di sore yang romantis seakan semesta mendukung, Prima ingin sekali mendengar jawaban Kaluna lalu melingkarkan cincin di jari manis Kaluna yang lentik.
***
Di ruang tengah, Prima duduk sambil memegang kotak cincin yang hendak dia berikan pada Kaluna. Beberapa kali dia membolak-balik kotak cincin. Ingin sekali pria berwajah Hindustan itu menghubungi Kaluna, tetapi Prima lebih memilih menggenggam ponsel di tangan kanannya lalu memandangi gambar Kaluna di layar benda pipih yang dia atur sebagai wallpaper. Alih-alih mempertanyakan sikap Kaluna yang melenggang tanpa jawaban, Prima memilih tidak menghubungi Kaluna sementara waktu. Memberi ruang untuk Kaluna berpikir tentang lamarannya
“Besok saja aku datang ke rumahnya!" ucap Prima sembari memandang langit-langit.
Setelah membersihkan diri, Prima merebahkan badan di atas king size. Mengerjap-ngerjapkan mata beberapa kali. Pikirannya tidak bisa lepas dari Kaluna yang bersikap aneh dan meninggalkannya di pinggir danau tanpa jawaban apapun. Padahal, Prima berniat serius kali ini dan tidak ingin membuang-buang waktu. Prima takut patah hati lagi jika dia tidak segera melamar Kaluna. Namun, tidak seperti yang dia harapkan. Jawaban tidak Prima dapatkan dari Sang Kekasih.
Prima memiringkan badan, menenggelamkan wajah ke bantal seraya meraih smartphone miliknya. Tidak kunjung juga ada notifikasi pesan dari Kaluna. Prima menekan aplikasi chat, mengetik di dalam kolom percakapan, tetapi Prima kembali menghapus kalimat yang sudah dia ketik karena keraguan di dada.
"Dia marah gak, ya?" tanya Prima pada diri sendiri. Prima tidak lantas tertidur di kasur yang nyaman, sesekali dia melempar smartphoe ke atas bantal, diambilnya lagi, dilempar lalu diambil lagi seraya berharap ada chat masuk dari Kaluna.
Akan tetapi, tidak kunjung ada notifikasi yang masuk selain chat grup pertemanan yang membuatnya harap-harap cemas setiap kali suara katak tanda chat masuk berbunyi, Prima semakin malah gelisah. Menilai diri sendiri apakah dia salah karena berniat melamar Kaluna terlalu cepat atau Kaluna memiliki hati lain untuk tambatan. Pertanyaan yang terakhir itu semakin membuat dirinya kalut lagi.
Setelah beberapa kali ditinggal menikah oleh beberapa wanita dalam hidupnya, Prima sangat hati-hati dalam memilih wanita sampai dia menemukan Kaluna yang mampu membuat hatinya yang patah kembali utuh. Hanya Kaluna yang mampu membuka gembok berkarat yang terkunci kuat di hati Prima.